“Menyucikan pekerjaan bukanlah sekedar suatu impian yang indah, melainkan merupakan suatu misi bagi setiap orang Kristiani – misiku dan misimu.” St Josemaría
Jillian berusia 26 tahun. Sukacita yang ia lihat dalam diri orang lain mendorongnya untuk menemukan panggilannya sendiri di Opus Dei. “Saya melihat dunia dengan mata baru, menemukan Tuhan dalam pekerjaan sehari-hari dan dalam tindakan kasih yang sederhana.”
Mark pertama kali mengenal dengan Opus Dei pada tahun 1990-an tetapi ragu untuk mengatakan iya kepada Tuhan selama beberapa dekade karena dia merasa diri tidak siap. Sebuah retret yang akhirnya menolong dia menyadari bahwa Tuhan tidak memanggil yang sempurna tetapi menolong yang terpanggil untuk tumbuh dalam kekudusan. Hari ini, sebagai suami, ayah dan manajer portofolio, dia menemukan sukacita dalam doa, kekuatan dalam perkerjaannya, dan kehadirannya makin terasa bagi keluarga dan orang-orang disekitarnya.
Pada usia 16 tahun, Pastor James kehilangan penglihatan sepenuhnya. Tapi, bukan cahaya batinnya. Sekarang, berusia 36 tahun, ditemani oleh anjingnya yang setia “Ibiza,” dia mengatakan bahwa spiritualitas Opus Dei memainkan peran penting dalam penemuan panggilannya sebagai imam.
Beatrice Venezi adalah dirigen orkestra termuda di Italia. Dia mengenal pesan Santo Josemaria di sebuah asrama mahasiswi di Milan.
Sebuah artikel yang diterbitkan di surat kabar “The B.C. Catholic”, Vancouver, Kanada dalam peringatan 90 tahun berdirinya Opus Dei. Oleh Agnieszka Ruck, terbit di koran The B.C. Catholic.
Laura, seorang dokter di Barcelona, adalah anggota numerary Opus Dei selama 25 tahun. Di tahun 2020, setelah melalui proses permenungan yang mendalam, dia memutuskan untuk keluar dari Opus Dei. “Pengalaman keseluruhannya, tanpa ragu, adalah positif; saya sama sekali tidak menganggap tahun-tahun itu sia-sia” katanya, menggaris bawahi pembinaan yang diterimanya, mereka yang dia temui, dan cara dia belajar menghayati kebajikan-kebajikan secara normal.
Pada hari Yubileum Penghiburan (15 September), Chizoba bercerita bagaimana dia dan keluarganya merasakan Kasih Allah ketika tidak lama setelah pindah ke Kanada rumah keluarga mereka habis terbakar.
Njoki, seorang Kooperator Opus Dei yang tinggal di Kenya, berbicara tentang membantu seorang teman menjadi Katolik di tengah pandemi yang sedang berlangsung.
Adaeze menerima pendidikan sebagai perawat ortopedi di Nigeria. Setelah menyelesaikan sekolah keperawatan pada tahun 2012, dia bekerja sebagai perawat pendamping di sebuah klinik di Negara Bagian Enugu, Nigeria Timur. Kondisi lingkungan kerjanya itu kurang baik.
Kesaksian dari Hiasintus Eko Pompang
Tidak ada dua orang yang sama. Begitu pula tidak ada dua kehidupan yang identik. Opus Dei adalah setiap orang yang mewujudkan karisma Opus Dei, menurut Bapa Prelat. "Satu persatu" adalah mosaik dari wajah- wajah yang beragam dari lima benua yang menceritakan kehidupan mereka sejak perjumpaan mereka dengan Opus Dei.
Flor berasal dari Guatemala dan sepanjang hidupnya ia mempunyai rasa kepedulian pada orang-orang yang tidak mampu. Di usia 82 tahun, ia masih bekerja di sebuah pusat pelatihan dan pengembangan wanita, Junkabal, yang telah menempuh perjalanan panjang hingga hari ini dan telah memberi kesempatan bagi banyak keluarga untuk memperbaiki kualitas hidup mereka.
"Cepat Bergerak! Anda dalam bahaya. Masukkan apa yang Anda butuhkan selama tiga hari ke dalam ransel. Kami akan kembali untuk Anda dalam beberapa menit.” Jose Santos. seorang dokter Portugis, menceritakan pengalaman dramatisnya selama banjir baru-baru ini di Jerman.
Meskipun Hyeunmin bukan orang beriman, dia mau menemani seorang rekan kerjanya setiap hari pada waktu jeda siang hari untuk berdoa Malaikat Allah di sebuah gereja yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Maka dimulailah sebuah perjalanan iman baginya di Seoul, Korea Selatan.
Sepucuk surat dari JA