Refleksi atas buku Jalan

Kesaksian dari Hiasintus Eko Pompang

“Qui fidelis est in minimo et majori fidelis est.” Setelah membaca buku yang dikarang oleh pendiri Opus Dei, Santo Josemaría Escrivá yang berjudul Jalan (Camino), hati saya terasa disegarkan oleh air suci dan bersih yang menenangkan dan menyirami seluruh persoalan dan pergulatan yang saya hadapi. O betapa saya tidak bisa mengatakan apa-apa ketika membaca nomor ke nomor dan memaknainya bab per bab. Buku ini bukan hanya sekedar tulisan biasa melainkan ajaran yang senantiasa mengubah banyak orang dalam hidupnya yang bersifat revolusioner. Saya terinspirasi sekali dengan banyak kata-kata di dalam buku ini, karena itu mengajak saya untuk lebih peka terhadap suasana hati dan tempat di mana saya berada. Buku yang berjudul Jalan ini muncul dari pengalaman hidup kristiani yang mendalam, serta bermaksud mendorong saya semakin mencintai Tuhan dan senantiasa hidup di dalam Tuhan. Dalam kalimat pertama di sampul buku, ‘jalan’ merupakan wahyu yang membuat banyak orang lebih menyadari martabatnya sebagai seorang Kristiani dan perutusannya di dunia ini. Tentu inilah yang membuat pertanyaan muncul dalam hati saya, sesungguhnya wahyu seperti apa yang berpengaruh dalam hidupku dan apa yang harus saya lakukan setelah mengetahuinya lewat membaca buku ini. Pertama-tama melalui refleksi ini, saya mau mengungkapkan rasa gembira dan sukacita atas kesempatan mulia yang diberikan kepada saya untuk membaca buku ini penuh dengan totalitas dan tanpa ada paksaan sedikitpun. Syukur yang tiada bandingnya atas kesempatan kudus dari Tuhan dan terutama kepada Father Ramon Nadres yang bersedia untuk menjadi pembimbing rohani saya dan berkenan untuk mendampingi saya dalam proses pembinaan menanggapi dan menjalani panggilan suci dari Allah ini.

Dewasa ini banyak orang melupakan dan bahkan kurang perlu memahami dirinya sendiri. Termasuk lah diri saya ini, kusadari sungguh bahwa saya kurang mengenal, “Siapakah sebenarnya diriku ini? Betapa banyak yang harus aku pahami dan aku jelaskan pada diriku sendiri berhubungan dengan hidupku ini. Buku ini meyakinkan saya dan membimbing saya menemukan identitas yang sudah lama saya rindukan, terutama mengenal pribadi yang menciptakan saya dan memanggil saya secara personal. Sesungguhnya bahwa kemampuan mengenal diri sendiri akan membimbingku ke arah kerendahan hati. Ada pun yang saya peroleh dari masing-masing bacaan ini adalah tentang Tabiat (watak), Bimbingan, Doa, Kesuci-murnian, Hati, Mati Raga, Penitensi (Denda Dosa), Pemeriksaan Batin, Niat, Skrupel, Kehadiran Tuhan, Kehidupan Adikodrati, Lebih Lanjut Mengenai Kehidupan Batin, Semangat suam-suam kuku, Belajar, Pembinaan Semangat, Landasan Kesucianmu, Cinta Tuhan, Cinta Kasih, Sarana-Sarana, Bunda Perawan Maria, Gereja, Misa Kudus, Persatuan Para Kudus, Kebaktian-kebaktian, Iman, Kerendahan hati, Ketaatan, Kemiskinan, Diskresi, Kegembiraan, Kebajikan-kebajikan lainnya, Kesengsaraan, Perjuangan Batin, (askese), Hal-Hal Terakhir, Kehendak Tuhan Allah, Kemuliaan Tuhan, Mencari Rasul-Rasul Baru, Perkara-perkara Kecil, Siasat, Sikap Kanak-Kanak di dalam kehidupan rohani, kehidupan rohani kanak-kanak, Panggilan, Rasul, Kerasulan, dan Ketekunan Hati. Akan tetapi dari banyak bagian ini saya tidak menyebutnya satu persatu, saya memaknainya secara keseluruhan dan inilah yang saya sampaikan dalam refleksi saya ini.

Jadilah seperti anak balita yang masih kecil dan tidak lebih dari satu tahun. Kalimat ini seakan mengingatkan saya ketika berada dalam pelukan ibu dan ayah dan belum bisa melakukan sesuatupun dan hanya bisa menangis. Maksud saya adalah saat bayi dulu. Saya sulit untuk kembali mengingat masa itu dan hanya bisa melihat dari pengalaman hari-hari saat melihat bayi yang di timang oleh ibunya di tangannya. Dalam buku ini saya sungguh diajak untuk betul-betul menjadi seorang yang berawal dari ketidaktahuan atas segala halnya dan perlu belajar yang giat untuk mengetahuinya dengan tepat, baik dan benar. Bagi saya hal ini tidaklah gampang karena berkaitan dengan tabiat atau watak ku yang sudah dibentuk sejak kecil. Namun demikian saya tetap percaya dengan berjalannya waktu saya dapat menjadi diri saya sesungguhnya dan percaya diri serta mau melakukan hal-hal yang baik. Ada pun usaha itu muncul dari dalam diri di mana saya dinasihatkan oleh Santo Josemaría agar melibatkan Tuhan Yesus di dalam usaha dan pekerjaan yang sedang dilaksanakan. To see the face of God is my heart’s desire, To gaze upon the Lord is my one desire … . For God so loved the world,He gave His Son, His only begotten Son … .

“Qui facit voluntatem Patris mei qui in coelis est, ipse intrabit in regnum coelorum” — dia yang melakukan kehendak Bapa, ia akan masuk surga! Banyak hal-hal yang besar tergantung pada apakah aku hidup sesuai dengan kehendak Allah. Penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan Allah adalah suatu rahasia dari kebahagiaan di bumi ini. Penyerahan diri adalah syarat yang utama suapaya engkau tidak akan kehilangan rasa damai di masa mendatang. Kebaikan dan Damai — “Gaudium cum pace” — adalah hasil yang pasti dan nikmat dari penyerahan diri itu. Apa yang menjadi kehendakmu sendiri, pendapatmu sendiri, itulah yang merisaukan hatimu. Maka fokuslah pada apa yang dikehendaki Tuhan dalam dirimu dan dengan rahmat Allah kerjakanlah itu. Kalimat ini kurasa sungguh sempurna dan menggetarkan hatiku untuk senantiasa mau berubah dan hidup dalam kehendak Tuhan. Selain itu saya juga diajak untuk memperkuat dan meneguhkan semua itu dengan doa pribadi. Saya merasa semua ini cukuplah tinggal bagaimana saya mewujudkannya dalam tindakan.

Doa bagiku adalah sebuah berkat mengenal diri, membantu membuka cakrawala kehidupanku, dan sebagai cara yang ampuh pula untuk mengenal diri. Doa tidaklah hanya mengandaikan orang mengenal diri, tetapi membantu juga mengenal diriku. Doa itu sarana terampuh yang sederhana untuk mengenal hati. Bila berdoa, saya hendaknya berdiri di hadapan Allah, yang menyoroti hatiku, sehingga segalanya kurasa menjadi jelas. Selain daripada itu kusadari pula bahwa Roh Kudus itu penuh kuasa dalam membimbing hidupku. Saya bersyukur sekali mendapat pengetahuan seperti ini, sehingga membuat saya selalu konsisten dan cermat dalam bertingkah laku serta bisa mengambil sikap dengan tepat dan benar. Bertekunlah dalam doa. Bertekunlah, walaupun usaha-usahamu tampaknya sia-sia. Doa akan membawa hasil — “sine me nihil potestis facere!”

Aku bersyukur ketika aku tidak tahu sesuatu. Karena itu memberiku kesempatan untuk belajar. Bersyukur di dalam masa-masa yang sulit. Di masa itulah aku dapat tumbuh dan berkembang. Aku bersyukur untuk keterbatasanku. Karena itu memberiku kesempatan untuk terus belajar dan berjuang. Aku bersyukur untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karakterku. Aku bersyukur untuk kesalahan yang pernah ku buat, karena akan mengajarkanku pelajaran yang berharga. Mungkin mudah untuk ku bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut. Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Aku ingin menemukan cara bersyukur untuk menghadapi masalah-masalahku dan aku yakin semua itu akan menjadi berkah bagiku. Tuhan betapa aku senantiasa mencintai-Mu, biarlah aku berkembang dan bertumbuh dalam naungan-Mu, sertailah segala usaha dan apa yang aku lakukan semoga semua berkenan pada-Mu dan hidupku pun senantiasa diperbaharui berkat penyertaan-Mu dalam hidupku. Aku mengucapkan syukur dan terima kasih atas semua ini.