Sungguh Manusiawi, Sungguh Ilahi (XIV): Untuk Memberi Cahaya, Perkataan Yang Benar
Yesus dan murid-murid pertamanya menunjukkan cinta yang besar terhadap kebenaran dengan mengetahui bahwa kebenaran selalu membawa kebahagiaan.
Sungguh Manusiawi, Sungguh Ilahi (XV): Kesederhanaan, Melihat Jalan dengan Jelas
Mengetahui bahwa Tuhan senantiasa memandang kita dan hidup dalam saat kini dapat menuntun kita bertumbuh dalam kesederhanaan.
Sungguh Manusiawi, Sungguh Ilahi (XIII): Dengan Segenap Hati Kita
Keutamaan kesucian memperkuat kemampuan kita untuk memahami dan menikmati apa yang benar-benar memenuhi hati manusia; hal ini memungkinkan kita untuk menemukan Tuhan dalam segala hal.
E-Book Gratis: Mengenal Dia dan Mengenal Dirimu Sendiri
E-book kumpulan lima artikel tentang hubungan kita dengan Tuhan
Aku Telah Menyebut Kamu Sahabat (IV): Persaudaraan dan Persahabatan
Persahabatan antar manusia yang terpanggil dalam misi yang sama memungkinkannya selalu menjadi jalan yang penuh kebahagiaan.
Aku telah Menyebut Kamu Sahabat (III) : Sebuah Timbal Balik Cinta
Membiarkan diri kita dicintai oleh orang lain adalah salah satu cara untuk membuka ruang bagi Tuhan dalam hidup kita. Yesus melakukan itu sampai saat-saat terakhirnya di bumi.
Aku Telah Menyebut Kamu Sahabat (II): Untuk Menerangi Bumi
“Perintah baru” yang Yesus percayakan kepada kita pada akhir kehidupan-Nya di bumi menemukan dimensi baru dalam persahabatan manusia: ini adalah kerasulan yang autentik.
Aku Telah Menyebut Kamu Sahabat (I): Apakah Allah Memiliki Teman?
Tuhan selalu mencari persahabatan dengan manusia. Dia mengajak kita untuk hidup bersama-Nya. Kelemahan manusia dan kesalahan-kesalahannya tidak akan membuat Tuhan berubah pikiran. Pelukan Allah dengan Cinta tanpa syarat akan memenuhi kita dengan cahaya dan kekuatan sehingga memberanikan kita untuk memperkenalkannya kepada orang lain.
Renungan: Hari Minggu I Masa Adven (Tahun B)
Beberapa refleksi yang bisa direnungkan pada Masa Adven ini.
Sungguh Manusiawi, Sungguh Ilahi (XVIII): Kebebasan Batin
“Kebebasan kita bukanlah pilihan spontan yang tak bertumpu pada apa pun di luar kehendak kita sendiri. Dalam dimensi terdalamnya, kebebasan kita adalah jawaban atas Kasih yang mendahului kita.”









