- PDF - Letter from the Prelate (16 October 2026)
- ePub - Letter from the Prelate (16 October 2026)
- YouTube Podcasts - Letter from the Prelate (16 October 2026)
- Spotify Podcast - Letter from the Prelate (16 October 2026)
🎙Dengarkan versi audio dari surat tersebut (35 min)
Daftar isi
Dialog Yesus yang terus-menerus dengan Bapa
Kontemplasi dalam kehidupan Santo Josemaría
Di tengah dunia yang serba cepat
“Aku akan mencari wajah-Mu, Tuhan!”
Melihat Tuhan dalam segala hal
Menatap surga sambil tetap berpijak di bumi
Kontemplasi adalah anugerah dari Tuhan
Berbahagialah orang -orang yang murni hatinya
Melihat Tuhan dalam diri orang-orang di sekitar kita
Sebagai anak-anak yang terkasih
Anak-anakku terkasih: semoga Yesus menjaga putra-putriku sekalian!
1. Dalam pesan bulan Maret lalu, saya menyarankan agar, antara bulan Oktober tahun ini dan Oktober tahun depan, dalam persiapan untuk peringatan seratus tahun Opus Dei, kita merenungkan lebih dalam seruan untuk menjadi “kontemplatif di tengah dunia, dengan mana Bapa Pendiri kita merangkum banyak unsur semangat Opus Dei.”[1]
Panggilan khusus kita menuntun untuk berkeinginan menjalani kehidupan kontemplasi di tengah keadaan hidup kita yang biasa. Opus Dei bukanlah suatu jalan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban spiritual tertentu: itu sudah banyak, tetapi, pada saat yang sama, itu belum cukup. Semangat Opus Dei mengarah lebih jauh: Semangat ini menuntun kita untuk melihat dan mencintai dunia melalui kasih Allah, untuk berpartisipasi dalam cara pandang-Nya. Ini adalah undangan yang ambisius, yang untuk itu kita tidak dapat hanya bergantung pada kekuatan kita sendiri, tetapi terutama pada pertolongan Tuhan. Oleh karena itu, saat kita mempersiapkan peringatan seratus tahun Opus Dei ini, dengan keinginan besar untuk menghayati panggilan kita sepenuhnya, kita dapat bertanya pada diri sendiri: Apakah saya melihat diri saya dipanggil untuk hidup kontemplatif? Apakah saya menyadari bahwa, terlepas dari kekurangan dan kesulitan saya, Tuhan ingin menjadikan saya seorang kontemplatif di tengah dunia? Apakah saya menyadari bahwa Tuhan memanggil saya untuk menemukan Dia di setiap langkah, di setiap peristiwa, di setiap saat?
2. Untuk memahami apa itu kontemplasi, tradisi teologis Gereja menawarkan definisi klasik dari Santo Thomas Aquinas: Kontemplasi adalah simplex intuitus veritatis ex caritate procedens, pandangan sederhana dan intuitif terhadap kebenaran yang berasal dari kasih.[2] Ini bukanlah upaya intelektual semata atau spekulasi abstrak. Kontemplasi adalah pandangan penuh kasih sayang, penglihatan yang muncul dari kasih. Seperti yang dikatakan Benediktus XVI: “Program umat Kristiani – program Orang Samaria yang Baik Hati, program Yesus – adalah 'hati yang melihat.' Hati ini melihat di mana kasih dibutuhkan dan bertindak sesuai dengan kebutuhan itu.”[3] Ketika hati kita dipenuhi dengan kasih Tuhan, akal budi dan emosi bersatu dalam satu pandangan. Kita akan memandang apa yang kita cintai, dan pandangan itu secara bertahap akan mengubah kita yang memandang/yang berkontemplasi.
Dialog Yesus yang terus-menerus dengan Bapa
3. Bagi kita Kristus bukan sekadar teladan untuk ditiru: Dia adalah hidup kita; Dia ingin menghidupkan kembali hidup-Nya di dalam diri kita. Selama masa hidup-Nya di bumi, Tuhan Yesus memberi kesaksian tentang percakapan-Nya yang terus-menerus dengan Bapa- Nya di tengah berbagai keadaan dan di berbagai tempat. Kita melihat Dia berdoa, misalnya, pada pembaptisan-Nya di Sungai Yordan (bdk. Luk 3:21); saat Dia mencari tempat-tempat terpencil untuk hening bersama Allah (bdk. Mrk 1:35; Luk 5:16; 9:18); ketika Dia naik gunung yang terpencil (bdk. Mat 14:23; Mrk 6:46; Luk 6:12; 9:28–29). Dan selama Sengsara-Nya, kita juga melihat Dia berdialog dengan Allah Bapa, dari penderitaan-Nya di Taman Getsemani (bdk. Mat 26:36–44) hingga Salib (bdk. Luk 23:34, 46).
Namun, selain menyebutkan waktu dan bentuk doa Yesus,[4] kita pun dapat mengetahui (dari peristiwa-peristiwa tersebut diatas) bahwa pada kenyataannya seluruh hidup-Nya merupakan suatu dialog yang tak terputuskan, percakapan yang juga berwujud tindakan dan pandangan, kerja dan istirahat. Doa Yesus “mengalir melalui seluruh hidup-Nya seperti saluran air rahasia yang memperkaya relasi dan tindakan-Nya, dan yang mengarahkan-Nya, dengan kekuatan progresif, untuk memberikan Diri sepenuhnya sesuai dengan rencana kasih Allah Bapa.”[5]
Santo Josemaría secara khusus memperhatikan kontemplasi Kristus dalam tiga puluh tahun hidup-Nya yang tersembunyi. Kehidupan Yesus, Maria, dan Yusuf itu bersifat kontemplatif dan sekaligus hidup biasa saja, tanpa ada hal yang luar biasa di dalamnya. “Fakta bahwa Yesus tumbuh dewasa dan hidup seperti kita,” kata Santo Josemaría, “menunjukkan kepada kita bahwa hidup kita, aktivitas kita sehari-hari yang biasa saja, memiliki makna ilahi. Hidup-Nya (di Nazaret) tidak terlihat, tetapi bagi kita, periode itu penuh dengan cahaya. Masa hidup-Nya itu menerangi hari-hari kita dan memenuhinya dengan makna.”[6]
Kontemplasi dalam kehidupan Santo Josemaría
4. “Peziarah Kontemplatif”: ini adalah definisi Santo Josemaria dalam Dekrit yang menyatakan kebajikan heroiknya. “Ciri-ciri kepribadiannya yang paling khas,” dokumen tersebut mencatat, “tidak hanya ditemukan dalam karunia luar biasa sebagai seorang yang penuh tindakan dan karya, tetapi juga dalam kehidupan doanya dan dalam pengalaman persatuan yang tekun yang menjadikannya seorang peziarah kontemplatif.”[7] Kita, anak-anaknya di Opus Dei, dipanggil untuk (seperti juga semua orang yang berhubungan dengan Opus Dei) menjadi “peziarah kontemplatif,” untuk hidup dalam dialog dengan Tuhan di jalan-jalan kota dan dalam hiruk pikuk kehidupan kita; untuk selalu bersama Tuhan di mana pun kita berada: di rumah kita, di tempat kerja, di lingkungan sosial.
“Ya Yesus, biarlah gangguan perhatian justru berbalik arah. Alih-alih memikirkan hal-hal duniawi ketika aku berada dalam percakapan dengan-Mu, biarlah aku lebih memikirkan Engkau ketika aku sibuk dalam hal-hal duniawi,” doa Santo Josemaría.[8] Pendiri kita berusaha menemukan Tuhan di balik segala sesuatu yang terjadi. Beliau berusaha menemukan kehadiran Tuhan dalam apa yang tampaknya sangat duniawi. Santo Josemaria ingin menemukan puisi – “ayat-ayat heroik”[9] – dalam tindakan yang mungkin tampak tidak penting atau sepele.
5. Santo Josemaría melihat konfirmasi ilahi atas panggilan ini dalam pengalaman doa yang intens di tengah hal-hal duniawi: saat membaca koran, pergi naik trem, di tengah kebisingan dan hiruk pikuk kota besar – singkatnya, situasi-situasi seperti terjadi dalam kehidupan kita.
“Saya ingin mencatat sesuatu, karena saya rasa ini agak aneh: Yesus cenderung membuat saya berdoa ketika saya mulai membaca koran,” tulis Santo Josemaria suatu kali.[10] Beberapa hari kemudian, beliau mencatat hal serupa: “Sabtu lalu saya berada di Taman Retiro, dan saya mencoba membaca koran. (Dorongan) Doa datang dengan begitu kuat sehingga, di luar kehendak saya, saya harus berhenti membaca. Dan kemudian, betapa banyak doa cinta dan penyerahan diri yang Yesus berikan di hati dan bibir saya!”[11] Santo Josemaria juga mencatat doanya di tengah perjalanan sehari-harinya: “Doa yang paling intens justru ketika pergi naik trem dan, setelah itu, ketika saya berjalan di jalan-jalan kota Madrid, merenungkan kenyataan yang menakjubkan ini : Allah adalah Bapa saya.”[12] Pada tanggal saya mengirimkan surat ini, tepat 95 tahun yang lalu Santo Josemaria mengalami hal itu.[13]
Pada awal paruh kedua abad ke-20, hal serupa terjadi lagi pada Santo Josemaria dalam kunjungan pertamanya ke kota London, salah satu ibu kota multikultural terbesar di dunia: “Saat saya mengamati pemandangan (di kota) itu, saya merasa terkejut dan merasa tak berdaya: 'Josemaría, di sini kamu tidak bisa berbuat apa-apa.' Benar sekali. Sendirian, saya tidak akan mampu berbuat apa pun; tanpa Tuhan, saya bahkan tidak bisa mengangkat sehelai jerami dari tanah... Kemudian tiba-tiba, di tengah jalan, di tengah lalu lalang orang-orang yang berasal dari seluruh penjuru dunia, di dalam diri saya, jauh di lubuk hati saya, saya merasakan kuasa tangan Tuhan: 'Kamu tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi Aku bisa berbuat segalanya.'”[14]
Inilah jalan yang Roh Kudus tunjukkan kepada kita melalui Santo Josemaría: menjalani hidup dengan keyakinan dan kekuatan yang berasal dari hidup sebagai putra-putri Allah yang terkasih, hidup dan berpartisipasi dalam segala sesuatu dengan Dia. Atau, dengan kata-kata Sang Guru, yang meninggalkan kesan mendalam pada diri murid kesayangannya, tetap berada dalam dirinya.[15]
Di tengah dunia yang serba cepat
6. Para komentator dunia kontemporer mengakui bahwa dalam masyarakat zaman ini ada kecenderungan menuju aktivisme, menuju pengabdian hidup semata-mata untuk bekerja: upaya banyak orang tampaknya diarahkan hampir secara eksklusif pada peningkatan produktivitas, untuk mencapai kesejahteraan melalui akumulasi benda-benda materi, pengalaman, prestise sosial… Lagi pula di hampir setiap bidang terdapat efek dari kehadiran teknologi yang konstan yang, jika tidak digunakan dengan bijak, dapat mengisolasi kita, menghambat kontak dengan orang lain, dan bahkan mempersulit kita untuk terbuka untuk mendengar suara Tuhan dan suara orang lain. Bahkan orang menyebut adannya krisis kontemplasi dan krisis konsentrasi yang sungguh nyata, dua hal yang sangat penting bagi kehidupan batin seseorang dan untuk mengasihi sesama manusia. Kapasitas konsentrasi kita terpecah oleh banyak kepentingan yang bersaing dan berebut perhatian kita. Seperti yang baru-baru ini dikemukakan Leo XIV, “teknologi baru telah menciptakan lingkungan buatan di mana pilihan mendasar kita diuji.”[16]
7. Menghadapi situasi ini, banyak yang mencari cara untuk membantu meringankan masalah ini dengan menawarkan makna hidup yang melampaui sekadar aktivitas yang hiruk pikuk. Inilah mungkin yang dapat menjelaskan (setidaknya sebagian) timbulnya minat akan hal-hal "spiritual" yang kita amati di beberapa negara selama beberapa dekade terakhir. Ada banyak sekali tawaran yang, pada akhirnya kurang lengkap, dan tidak memadai jika dibandingkan dengan kepenuhan hidup supernatural dan manusiawi yang ditawarkan Kristus.
Walaupun beberapa pendekatan (masalah ini) tidak menawarkan lebih dari kenyamanan material yang rapuh, atau hanya mengarah pada kesejahteraan dalam hal duniawi, “ namun pada saat yang sama kita juga melihat banyak tanda kebangkitan kembali rasa keagamaan, menemukan kembali pentingnya Tuhan bagi kehidupan manusia, kebutuhan akan spiritualitas, untuk melampaui pandangan hidup manusia yang horizontal dan materialistis semata.”[17] Kita semua pasti merasakan adanya dahaga spiritual ini di sekitar kita, adanya kerinduan akan kontemplasi, persekutuan dan kedamaian Tuhan.
8. Santo Josemaría mengajak semua umat Kristiani untuk “menjadi jiwa-jiwa pendoa,” jiwa-jiwa kontemplatif di tengah dunia, dengan kata-kata yang relevan untuk setiap zaman, bahkan di tengah sekularisasi dan perkembangan teknologi saat ini: “Selama saya masih memiliki kekuatan untuk bernapas, saya akan terus berkhotbah bahwa sangat penting bagi kita untuk menjadi jiwa-jiwa yang berdoa setiap saat, pada setiap kesempatan dan dalam berbagai keadaan, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita… Ketika kita mencari Tuhan dengan cara ini, seluruh hari kita menjadi percakapan yang intim dan penuh kepercayaan dengan-Nya. Saya telah mengatakan dan menulis ini berkali-kali, tetapi saya tidak keberatan mengatakannya lagi, karena Tuhan telah menunjukkan kepada kita melalui teladan-Nya bahwa inilah yang harus kita lakukan: kita harus berdoa setiap saat, dari pagi hingga malam dan dari malam hingga pagi.”[18] Sesungguhnya, kita hidup dalam keadaan yang sangat menguntungkan – dunia sangat membutuhkannya – untuk meneruskan visi ini.
Tahun lalu, dalam homili pada Misa peringatan liturgi Santo Josemaría, saya merenungkan bahwa “dahaga kita pada yang tak terhingga terungkap dengan banyak cara, meskipun tidak semua cara untuk memuaskannya membuat hati kita merasa terpenuhi. Mungkin kita pernah membuang waktu dengan bercita-cita untuk meraih kebahagiaan yang dibangun semata-mata berdasarkan benda-benda materi, kesuksesan, atau kenyamanan. Namun kita tahu bahwa hanya Tuhan lah yang memberi makna pada semua realitas dan yang memenuhi keinginan hati kita.”[19] Dahaga akan spiritualitas inilah, yakni kerinduan akan Tuhan yang berdenyut dalam hati setiap orang, – bahkan mereka yang tampaknya sangat jauh dari Gereja – yang membuat pewartaan untuk menjadi kontemplatif di tengah dunia sangat diperlukan.
“Aku akan mencari wajah-Mu, Tuhan!”
9. Dinamika interior dari cinta adalah mencari sang kekasih. Mereka yang mencintai tidak puas dengan pengetahuan yang dangkal, dengan mengetahui beberapa hal tentang sang kekasih: mereka rindu untuk merenungkan wajah-Nya, berada di hadirat-Nya, mendengar suara-Nya. Doa Kristiani sejati ditandai dengan seruan pemazmur sebagai seorang anak: Vultum tuum, Domine, requiram (Ps 27 [26]:8), “Aku akan mencari wajah-Mu, Tuhan!”
Bapa Pendiri kita mengalami dan menasihati pencarian yang penuh gairah akan wajah Kristus di tengah kehidupan biasa. Dalam salah satu homilinya, dengan keyakinan yang berasal dari pengalaman hidupnya sendiri, Santo Josemaria berbicara tentang bagaimana seseorang yang mengasihi Allah merasakan kebutuhan yang tak terbendung untuk terus mencari Dia: “Pertama-tama satu aspirasi singkat, kemudian satu lagi , dan satu lagi yang lain… hingga semangat kita terasa tidak memadai, karena kata-kata terlalu miskin…: kemudian semua ini akan mengarah kepada relasi yang intim dengan Allah, memandang Allah tanpa istirahat atau merasa lelah. Kita mulai hidup sebagai tawanan, sebagai tahanan. Kita tetap melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan situasi dan kewajiban kita sesempurna mungkin (dengan segala kesalahan dan keterbatasan kita), sementara jiwa kita ingin melarikan diri. Jiwa kita tertarik kepada Allah seperti besi tertarik oleh magnet. Dan, kita mulai mengasihi Yesus dengan cara yang lebih efektif, dengan kejutan yang manis dan lembut dari perjumpaan dengan-Nya.”[20]
Jiwa yang mencari wajah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari akan menemukan di sana, tempat istimewa untuk perjumpaan itu. Kontemplasi bukanlah hak istimewa bagi segelintir orang, dan bukan pula tujuan hanya bagi mereka yang menarik diri dari dunia ramai. Keinginan untuk menemukan Tuhan terwujud di tengah aktivitas kita sehari-hari. Kita akan berjumpa dengan Tuhan di meja kerja, dalam merawat keluarga, dalam hubungan sosial, dan pada saat-saat kita beristirahat. Kasih menuntun kita untuk menemukan Kristus di sana. Dia memandang kita dengan kasih dan mengajak kita untuk mengarahkan pandangan hati kita kepada-Nya.
Melihat Tuhan dalam segala hal
10. Pandangan penuh kasih ini secara mendalam akan mengubah pemahaman kita tentang realitas. Kita mulai menemukan alasan untuk bersyukur dan memuji di mana sebelumnya kita hanya melihat masalah. Kita mulai merasakan perhatian Tuhan yang konstan di mana sebelumnya kita mengira kita telah ditinggalkan pada nasib kita. Kita mulai berbicara dengan-Nya di mana sebelumnya kita hanya melakukan monolog batin kita. “Di mana pun kita berada – di tengah hiruk pikuk jalanan dan di tengah semua pekerjaan manusia, di pabrik, di universitas, di ladang pertanian, di kantor atau di rumah – kita akan mendapatkan diri kita terlibat dalam kontemplasi sebagai seorang anak, dalam percakapan tanpa henti dengan Tuhan, Allah Bapa. Dan ini karena segala sesuatu – orang, benda, tugas –akan memberi kita kesempatan dan tema untuk percakapan terus-menerus dengan Tuhan.”[21]
Iman membuka mata kita untuk merasakan kehadiran Allah yang selalu aktif di sini dan sekarang. Dan dengan demikian kita menemukan nilai yang tak terhingga dari setiap momen dan situasi, mengetahui bahwa setiap saat kita adalah objek kasih Allah Bapa yang tak terbatas. Kita akan mengenal perhatian yang lembut dari Pemeliharaan Ilahi-Nya dalam peristiwa kecil dan besar setiap hari. Sukacita, kesulitan, keberhasilan, dan kemunduran menjadi "bahan baku" dan latar belakang untuk percakapan kita dengan Tuhan. Tidak ada apa pun yang netral. Tidak ada yang tidak bernilai supernatural jika dilakukan karena kasih dan dengan keinginan untuk melayani, untuk menjadi sumber dukungan bagi orang lain.
Menatap surga sambil tetap berpijak di bumi
11. Terdapat risiko untuk merancukan kehidupan spiritual dengan pelarian sentimental dari tugas-tugas sehari-hari, atau dengan berupaya untuk cita-cita abstrak. Sebaliknya, kontemplasi Kristiani yang otentik berakar pada Inkarnasi. Tuhan tidak meminta kita untuk menatap awan dalam lamunan yang sia-sia, tetapi untuk mengangkat mata kita ke surga justru melalui apa yang kita alami, apa yang kita lakukan; dan juga melalui peristiwa tak terduga dan melalui kegagalan setiap hari, yang merupakan ciri konstan kehidupan sehari-hari.
Selain waktu-waktu hening untuk berdoa, pekerjaan yang dilakukan dengan baik, perhatian kepada keluarga, tugas-tugas dalam masyarakat dan persahabatan juga merupakan tempat bagi kita untuk berdoa. Dalam khotbahnya yang berjudul Mencintai Dunia dengan Penuh Gairah, Santo Josemaría mengungkapkan hal ini dengan tegas: “Tidak ada jalan lain. Kita harus belajar menemukan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari yang biasa, atau kita tidak akan pernah menemukan-Nya. Itulah sebabnya saya dapat mengatakan bahwa zaman kita perlu mengembalikan makna mulia dan aslinya kepada materi dan kepada kejadian dan situasi yang paling sepele. Zaman ini perlu mengembalikannya kepada pelayanan Kerajaan Allah, untuk menspiritualisasikannya, mengubahnya menjadi sarana dan kesempatan untuk pertemuan terus-menerus dengan Kristus.”[22]
Singkatnya, kontemplasi tidak melepaskan kita dari tanggung jawab duniawi kita. Sebaliknya, kontemplasi menuntun kita untuk memenuhinya dengan usaha dan kasih sayang, karena kita melihat dan mencintai tanggung jawab tersebut bersama Allah, dan di dalam Allah. Itulah sebabnya Bapa Pendiri kita berbicara tentang menjalani “setiap saat hidup kita dengan kesadaran penuh akan hidup abadi.”[23]
12. Jiwa yang telah merasakan manisnya kehadiran ilahi akan mengalami suatu ketegangan suci: di satu sisi suatu keinginan yang membara untuk bersatu sepenuhnya dengan Tuhan di surga, dan di sisi lain kesadaran akan misi yang telah Tuhan percayakan kepada kita di dunia ini. Santo Josemaría menggambarkan keadaan batin ini, di mana doa -doa yang penuh kata diubah menjadi kontemplasi yang lebih tenang dan mendalam: “Kata-kata menjadi terlalu miskin…: kemudian ini akan mengarah kepada keintiman dengan Tuhan, memandang Tuhan tanpa perlu istirahat atau merasa lelah. Kita tidak berpikir; kita memandang! Dan jiwa akan bernyanyi, sebuah nyanyian baru, karena jiwa itu merasa dan tahu bahwa ia berada di bawah tatapan kasih Tuhan, sepanjang hari.”[24]
Kontemplasi tidak menjauhkan kita dari momen sekarang, tetapi justru mendekatkan kita kepadanya. Didukung oleh rahmat Tuhan, kita mengalami paradoks yang menggembirakan yaitu berada “di surga dan di bumi pada saat yang sama.” Kaki kita tertanam kokoh di bumi, menghadapi masalah, perjuangan, dan harapan orang-orang sezaman kita, sementara hati dan pikiran kita tetap berlabuh “dalam arus kasih yang merupakan misteri Tuhan Yang Maha Esa dalam Tritunggal.”[25]
Santo Agustinus mengungkapkan keberadaan ganda– di dunia dan di surga – ini dengan sangat jelas: “Kasih sayangmu adalah anak tangganya. Kehendakmu adalah jalannya. Dengan mencintai, kamu naik. Dengan mengabaikan, kamu turun. Dengan mencintai Tuhan, kamu berada di surga, bahkan ketika kamu berada di bumi. Hati tidak diangkat dengan cara yang sama seperti tubuh. Untuk mengangkat tubuh, seseorang harus mengubah posisinya. Untuk mengangkat hatimu, ubahlah kehendakmu.”[26]
Waktu itu singkat.
13. Karakter sekulir dari panggilan hidup kita di Opus Dei tidak menyebabkan kita kehilangan pandangan akan tujuan kita. Kita menempuh perjalanan dalam sejarah dengan kesadaran bahwa tanah air kita yang sebenarnya adalah surga (bdk. Filipi 3:20). Kesadaran akan berlalunya waktu ini menanamkan dalam hidup kita rasa urgensi yang mendalam untuk mengasihi. Santo Paulus memperingatkan kita: Tempus breve est (1 Korintus 7:29), waktu itu singkat. Ini bukanlah alasan untuk cemas, melainkan suatu dorongan untuk memanfaatkan sepenuhnya, dengan tenang, setiap kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk menghasilkan buah-buah kasih.
Santo Josemaría sering merenungkan kenyataan ini untuk mendorong kita memberi tanggapan dengan pemberian diri yang murah hati dan penuh sukacita: “Tempus breve est! (1 Kor 7:29), Betapa singkatnya waktu kita hidup di dunia ini! Sungguh singkat waktu kita untuk mengasihi, untuk memberi, untuk berbuat silih. Karena itu, sangatlah tidak benar jika kita menyia-nyiakannya, atau membuang harta waktu ini secara tidak bertanggung jawab. Kita tidak boleh menyia-nyiakan masa dalam sejarah dunia yang telah Allah percayakan kepada kita masing-masing.”[27]
Waktu adalah talenta yang Tuhan berikan kepada kita, agar kita dapat menguduskannya. Setiap jam kerja, setiap ungkapan kasih sayang, setiap tindakan kebaikan kecil terhadap orang lain adalah mata uang untuk (mencapai) kehidupan kekal. Ketika kita mempertimbangkan tujuan utama hidup kita yaitu kemuliaan (di surga), kita akan menyadari bahwa kasih yang kita curahkan pada hal-hal kecil dan besar setiap hari adalah satu-satunya hal yang akan bertahan selamanya.
Kontemplasi adalah anugerah dari Tuhan.
14. Penting juga untuk diingat bahwa kontemplasi bukanlah sekadar hasil usaha manusia atau metode konsentrasi psikologis. Kontemplasi, terutama, adalah karunia cuma-cuma dari Tuhan, rahmat yang diberikan Roh Kudus kepada hati yang rendah hati dan taat. Seperti yang dikatakan Santa Teresa: “Ini (kontemplasi) adalah sesuatu yang Tuhan berikan.”[28]
Oleh karena itu, kontemplasi membutuhkan sikap percaya dan penyerahan diri seperti seorang anak kecil kepada Tuhan. Kita harus meminta kepada Tuhan cahaya yang kita butuhkan untuk melihat segala sesuatu seperti Dia melihatnya. Santo Josemaría memohon dalam doanya selalu: “Tuhan, izinkan aku melihat dengan mata-Mu, ya Kristusku, ya Yesus yang terkasih.” Bantulah aku untuk melihat dunia, orang-orang, dan peristiwa-peristiwa dengan kejelasan kebenaran-Mu dan kelembutan hati-Mu. Atau, di kesempatan lain, beliau berdoa: “Ya Tuhan, izinkan aku melihat! Terangilah kecerdasanku dan biarkan firman Kristus menembus jauh ke dalam pikiranku. Kuatkanlah Hidup-Nya dalam jiwaku sehingga aku diubah untuk siap menuju Kemuliaan abadi.”[29]
15. Meskipun kontemplasi adalah suatu anugerah yang melampaui kekuatan manusia, namun juga membutuhkan kerja sama aktif dari pihak kita manusia. Kita tahu betul bahwa rahmat tidak menggantikan kodrat manusia, tetapi mensyaratkan dan menyempurnakannya. Oleh karena itu, jalan menuju kehidupan kontemplatif menuntut suatu perjuangan, yang tenang namun terus-menerus.
Pertama-tama, kesetiaan pada doa hening harian sangatlah penting. Kita membutuhkan momen-momen eksklusif untuk perjumpaan pribadi dengan Tuhan, di mana kita belajar mendengar suara-Nya dan menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Dalam doa hening, jiwa diperbarui dan memperoleh nada spiritual yang dibutuhkan untuk menjaga dialog yang konstan dengan Tuhan – yang seringkali berlangsung tanpa kata-kata – sepanjang hari. Seperti yang diingatkan oleh Katekismus Gereja Katolik: “Kita tidak dapat berdoa ‘sepanjang waktu’ jika kita tidak berdoa dengan dedikasi spesial, pada waktu tertentu untuk doa. Dan itulah waktu khusus Doa Kristiani, baik dalam intensitas maupun durasinya.”[30]
Kedua, kita perlu menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Tuhan sepanjang hari. Selain memohon kepada Tuhan karunia doa yang tak henti-hentinya, ada beberapa cara manusiawi yang mempersiapkan kita untuk itu dan memungkinkannya sepanjang hari: antara lain pencarian aktif akan momen-momen hening, kekuatan untuk tetap fokus pada satu aktivitas, ketekunan dalam pekerjaan yang konstan, kerendahan hati untuk mendengarkan, kontak dengan alam, keterbukaan terhadap persahabatan yang tulus. Seperti Tuhan sabdakan dalam Injil, terserah kepada kita untuk mempersiapkan ladang hati kita agar berbuah dari rahmat yang terus-menerus ditawarkan Tuhan kepada kita (bdk. Mat 13:1–23). Paus Leo XIV baru-baru ini mendesak kita untuk mempromosikan “sikap yang benar-benar sehat, yang membutuhkan ritme, yang mencakup keheningan, studi mendalam, membaca dan analisis yang bijaksana, karena tanpa unsur-unsur ini kebebasan batin/interior dapat terganggu;”[31] dan, akibatnya, terganggu juga kemampuan kita untuk berdoa.
16. Santo Josemaria memperingatkan kita terhadap ilusi orang-orang yang berharap mencapai kedewasaan rohani secara pasif. Waktu yang berlalu tidak akan menyempurnakan seseorang: “Tahun-tahun yang berlalu tidak akan membawa kebijaksanaan atau kekudusan.”[32] Yang membawa kebijaksanaan dan kekudusan adalah tanggapan yang rendah hati dan tekun terhadap rahmat Tuhan. Kita perlu berjuang setiap hari, dalam hal-hal kecil, tanpa lelah, dengan kesadaran bahwa kekudusan bukanlah soal bebas dari kesalahan, melainkan selalu bersedia memulai lagi dengan kerendahan hati, mengetahui bahwa kita dibimbing oleh Tuhan. Perjuangan sehari-hari ini bukanlah – dan memang tidak – suatu ketegangan, melainkan upaya penuh kasih dan rasa percaya dari seorang anak yang ingin membiarkan dirinya ditemukan oleh Bapa Surgawi, dan yang tahu bahwa dia berkenan pada-Nya bahkan ketika (meskipun dengan niat baiknya) ia tersandung jatuh atau berbuat kesalahan.
Berbahagialah orang -orang yang murni hatinya
17. Ucapan Sabda Bahagia dalam Injil menunjukkan syarat yang sangat diperlukan untuk kontemplasi: Beati mundo corde, quoniam ipsi Deum videbunt, “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8). Kemurnian hati tidak terbatas secara eksklusif pada kebajikan kesucimurnian, meskipun tentu saja mencakup kesucimurnian di dalamnya. Kemurnian hati berarti kebebasan jiwa dari setiap keterikatan yang tidak teratur pada cinta diri/egoisme, pada kekayaan, kesuksesan pribadi, atau pada pendapat sendiri. Memiliki hati yang murni berarti memiliki hati yang jernih dan bebas untuk mencintai Tuhan dan sesama. Siapa pun yang penuh dengan dirinya sendiri, dengan penilaian dan keegoisan sendiri, tidak dapat melihat Tuhan, karena penglihatan rohaninya kabur.
Hal ini juga membantu kita memahami pentingnya kebajikan kesucimurnian dan kemiskinan untuk memiliki kebebasan hati. Sudah menjadi pengalaman spiritual yang umum bahwa keduanya dibutuhkan di jalan menuju kekudusan. Seperti yang ditulis Santo Josemaría dalam beberapa catatan pada tahun 1932, yang kemudian beliau cantumkan dalam buku Jalan: “Bersihkanlah diriku, ya Yesus, dari kerak kebusukan hawa nafsu kotor yang menyelimuti hatiku, supaya aku dapat merasakan dan senantiasa siap sedia mengikuti bisikan Roh Kudus, Sang Penghibur dalam jiwaku.”[33] Beliau juga menulis berikut ini mengenai kemiskinan: “Sebagai seorang yang takwa kepada Allah, berusahalah untuk memandang rendah harta kekayaan sama seperti orang-orang duniawi berusaha untuk memilikinya.”[34] Ini sama sekali bukan soal merendahkan apa yang telah diciptakan Tuhan. Sebaliknya, ini adalah seruan untuk memandang hidup kita tanpa kenaifan, mengetahui bahwa kita dapat dengan mudah kehilangan kebebasan kita jika hati kita terlalu terikat pada benda-benda materi. Untuk menjadi seorang kontemplatif di tengah dunia, kita perlu sangat berhati-hati dalam area ini dalam pemeriksaan batin pribadi kita, dan juga mengambil tindakan tegas jika kita menghadapi kesulitan yang signifikan.
18. Salah satu hal yang dapat membantu menyucikan hati kita dari keterikatan yang tidak teratur adalah penyangkalan diri dan pertobatan, baik internal maupun eksternal. Oleh karena itu, Santo Josemaría melihat penyangkalan diri sebagai jalan untuk memperoleh “kekuasaan atas hal-hal duniawi”[35] – untuk benar-benar bebas, menguasai diri sendiri, sehingga kita mudah membuka hati kita kepada Tuhan dan orang-orang di sekitar kita melalui apa yang beliau sebut sebagai “doa panca indera.”[36] ODi jalan pertobatan ini, yang sangat penting untuk menyucikan hati kita dan hidup sebagai kontemplatif, kita tidak boleh melupakan bahwa segala sesuatu harus dimotivasi oleh cinta, karena “penyangkalan diri tanpa cinta akan sia-sia.”[37]
Melihat Tuhan dalam diri orang-orang di sekitar kita
19. Kehidupan kontemplatif tidak mengurung seorang Kristiani dalam dirinya sendiri. Sebaliknya, kontemplasi yang autentik memperluas hati kita dan membuka mata kita kepada saudara-saudari kita. Mereka yang melihat Tuhan dalam doa juga akan menemukan citra dan kehadiran-Nya dalam diri orang-orang di sekitar mereka.
Santo Josemaría mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat memisahkan cinta kepada Tuhan dari cinta kepada sesama. Kasih sayang kepada orang-orang terdekat kita, pengertian kepada rekan kerja, berbuat amal kepada yang membutuhkan, mengembangkan persahabatan yang tulus… – semua ini mengalami transformasi dalam kasih Allah. Kita tidak memiliki satu hati untuk mengasihi Tuhan dan hati lain untuk mengasihi sesama kita: kita mengasihi dengan hati yang sama.[38]
Hidup kontemplatif kita terwujud dalam kualitas cinta persaudaraan kita. Kehalusan dalam hubungan kita dengan orang lain, penghormatan terhadap kebebasan mereka, semangat pelayanan yang penuh sukacita, dan kemampuan untuk mendengarkan, adalah tanda-tanda khusus dari kehidupan doa yang tulus: semua itu menunjukkan bahwa kita menyadari Tuhan menanti kita dalam diri orang lain (bdk. Mat 25:40).
Sebagai anak-anak yang terkasih
20. Landasan dari semangat Opus Dei adalah kesadaran penuh sukacita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita benar-benar anak-anak Allah di dalam Kristus. Persaudaraan Kristiani yang sejati bermuara pada kenyataan ini. Dengan mengetahui bahwa kita adalah anak-anak dari Bapa yang sama, kita memandang orang lain sebagai "anak-anak yang dikasihi" Allah. Kita menyadari martabat yang dimiliki setiap orang, sebagai ciptaan yang dibuat menurut gambar Allah. Secara khusus, mengenal nilai yang tak terhingga dari setiap jiwa akan menuntun kita untuk memiliki kasih sayang yang tulus kepada mereka. Nilai setiap orang setara dengan seluruh darah Kristus. Kebenaran ini membebaskan kita dari upaya menghakimi orang lain berdasarkan penampilan atau karena kesalahan mereka, dan mendorong kita untuk saling mengasihi dengan tulus, dalam perbuatan dan kebenaran.
Bila kita merenungkan misteri Penebusan, kita lebih menyadari bahwa kasih kepada sesama tidak dapat bersifat selektif atau bersyarat. Kasih menuntut kita untuk mengatasi prasangka dan perbedaan temperamen atau mentalitas, dan selalu mencari apa yang menyatukan kita dan membangun jembatan persekutuan. Dalam interaksi kita sehari-hari, yang jelas ditandai oleh keterbatasan dan kelemahan manusia, kasih yang kontemplatif akan terwujud dalam kesabaran, pengertian, dan pengampunan.
21. Siapa pun yang menyadari bahwa mereka telah diampuni oleh Tuhan tidak dapat menyimpan dendam atau kebencian. Santo Josemaría mewariskan ajaran yang tak terlupakan ini, tentang pengampunan yang lahir dari pengalamannya sendiri dan kehidupan doanya yang mendalam: “Aku tidak perlu belajar mengampuni, karena Tuhan telah mengajar aku mengasihi.”[39] Memahami, kasih sejati, berarti juga bersedia memaafkan, mengampuni, dan tidak pernah menyimpan catatan kesalahan-kesalahan (orang lain) yang membuat menderita. Memahami orang lain bukan sekadar mentolerir: ini berarti menempatkan diri pada posisi orang lain, memaafkan kesalahan mereka dan membantu mereka dengan penuh kelembutan untuk mengatasinya.
Pengampunan bukanlah suatu kelemahan, melainkan manifestasi tertinggi dari kekuatan kasih Kristiani. Dengan mengampuni kesalahan, baik besar maupun kecil, umat Kristiani mencerminkan wajah Allah yang penuh belas kasih kepada dunia. Di dunia yang terpecah belah oleh perpecahan dan konflik, semua murid Kristus dipanggil untuk menjadi penabur perdamaian dan sukacita, menghilangkan kegelapan kebencian dengan terang iman dan kekuatan kasih.
Haus akan jiwa-jiwa
22. “Kekudusan yang sejati akan melimpah dari wadahnya dan akan memenuhi hati dan jiwa orang lain dengan kelimpahannya.”[40] Oleh karena itu, kontemplasi di tengah dunia akan menimbulkan semangat kerasulan yang kuat. Tidak mungkin merasakan kasih Allah kepada umat manusia tanpa merasakan keinginan yang membara untuk berbagi kasih kepada semua orang.
Jiwa yang kontemplatif memandang dunia melalui mata kerasulan. Mereka tidak meratapi kesulitan zaman atau rintangan-rintangan yang terkadang ditempatkan oleh masyarakat yang telah berpaling dari Tuhan, tetapi justru dalam setiap situasi menemukan kesempatan untuk membawa terang Injil. Pandangan mereka terhadap dunia adalah pandangan yang penuh harapan dan belas kasih yang mendalam terhadap mereka yang tersesat tanpa arah, namun dengan menyadari juga bahwa orang-orang ini mungkin sebenarnya lebih baik daripada diri mereka sendiri (bdk. Mat 21:31).
23. Santo Josemaría merangkum persatuan antara kontemplasi dan kerasulan dalam kata-kata ini: “Kehidupan batin menyirat di dalamnya pertumbuhan dalam persatuan dengan Kristus, dalam Roti dan dalam Firman. Dan semangat kerasulan adalah manifestasi eksternal dari kehidupan batin.”[41] Dengan demikian kita memahami mengapa kehidupan doa, jika otentik, tidak diredam oleh sikap mementingkan diri sendiri dalam kepuasan rohani: Kehidupan doa adalah api yang membakar, yang menyulut, yang mendorong seseorang untuk merasul. Bagi seorang Kristiani, kerasulan bukanlah tugas tambahan, tugas untuk waktu luang; kerasulan adalah kebutuhan vital untuk menyampaikan kepada orang lain kebenaran dan kasih yang memenuhi jiwanya.
“Kita tidak ‘menjalankankan kerasulan,’ kita adalah rasul!”, saya tulis beberapa tahun yang lalu.[42] Serupa dengan itu, kita dapat mengatakan bahwa kita tidak mempraktikkan kontemplasi: kita adalah kontemplatif. Kontemplasi bukanlah sesuatu yang kita lakukan dari waktu ke waktu, diantara hal-hal lain: Kontemplasi adalah cara hidup dan cara melihat kehidupan, di dalam Tuhan dan dari Tuhan, yang memberi bentuk pada segala sesuatu yang kita lakukan, segala sesuatu yang kita alami, segala sesuatu yang kita rasakan. Oleh karena itu, kontemplasi, pekerjaan, persaudaraan, dan kerasulan adalah dimensi dari satu kehidupan Kristiani. Dalam merenungkan Tuhan dalam doa, kita juga akan menemukan Dia dalam pekerjaan kita, kita mengasihi Dia dalam saudara-saudari kita, dan kita mewartakan Dia dengan sukacita kepada seluruh dunia.
* * *
24. Sebagai penutup surat ini, saya ingin mengarahkan pandangan saya kepada Bunda Maria penuh Rahmat, guru kontemplasi dalam kehidupan sehari-hari. Di rumah di Nazaret, di tengah tugas-tugas rumah tangga yang paling sederhana, Maria merenungkan Putranya. “Maria hidup dengan matanya tertuju pada Kristus, menghargai setiap firman-Nya: 'Ia menyimpan segala sesuatu, merenungkannya dalam hatinya' (Luk 2:19; bdk. 2:51). Ingatan akan Yesus, yang terukir di hatinya, selalu menyertainya, membimbingnya untuk merenungkan berbagai momen hidupnya di sisi Putranya. Dengan demikian, kenangan-kenangan itu menjadi 'rosario' yang Bunda ucapkan tanpa henti sepanjang hidupnya di bumi.”[43]
Marilah kita memohon kepada Bunda Maria untuk membantu kita menempuh jalan menuju peringatan seratus tahun ini dengan mata pikiran dan hati kita tertuju pada Yesus, terus berjuang, kendati kelemahan-kelemahan pribadi kita, untuk menjadi saksi setia kasih Kristus di tengah dunia.
Dengan penuh kasih sayang, bapa memberkati kalian,

Roma, 16 Oktober 2026
[1] Pesan, 19 Maret 2026.
[2] Lih. St Thomas Aquinas, Summa Theologica, II-II, q. 180, a. 3.
[3] Benediktus XVI, Deus caritas est, no. 31.
[4] Lihat Katekismus Gereja Katolik, nos. 2598–2616.
[5] Benediktus XVI, Audiensi, 30 November 2011.
[6] Kristus yang Berlalu, no. 14.
[7] Dekrit tentang Kebajikan Heroik Hamba Tuhan Josemaría Escrivá, 9 April 1990.
[8] The Forge, no. 1014.
[9] Percakapan, no. 116.
[10] Catatan Intim, no. 618 (26 Februari 1932).
[11] Ibid., no. 619 (29 Februari 1932).
[12] Instruksi tentang Karya Santo Gabriel, no. 22, catatan 28.
[13] Secara khusus, pada tanggal 16 Oktober 1931 (bdk. Andres Vázquez de Prada, Pendiri Opus Dei, vol. I, p. 294). Mengingat kembali momen ini bertahun-tahun kemudian, ia menulis: “Saya merenungkan, dengan cahaya yang bukan milik saya, kebenaran yang menakjubkan itu. Itu seperti bara api yang menyala di dalam jiwa saya, yang tidak akan pernah padam” (Surat 15, no. 41).
[14] Meditasi, 2 November 1958 (dikutip dalam Andres Vázquez de Prada, Pendiri Opus Dei, vol. III, pg. 238).
[15] Bdk misalnya Yoh 15:4 dst.; 1 Yoh 2:6 dst.; 4:12 dst.
[16] Leo XIV, Pidato, 6 Juni 2026.
[17] Benediktus XVI, Audiensi, 11 Mei 2011.
[18] Sahabat Tuhan, no. 247.
[19] Khotbah, 26 Juni 2025.
[20] Sahabat Tuhan, no. 296.
[21] Surat 6, no. 15.
[22] Percakapan, no. 114.
[23] Sahabat Tuhan, no. 239.
[24] Ibid., nos. 296 and 307.
[25] Ibid., no. 252.
[26] St. Augustine, Khotbah tentang Mazmur 85, 6.
[27] Sahabat Tuhan, no. 39.
[28] St. Teresa dari Avila, Jalan Kesempurnaan , chap. 17, 2.
[29] Sahabat Tuhan, no. 127.
[30] Katekismus Gereja Katolik, no. 2697.
[31] Leo XIV, Magnifica humanitas, no. 146.
[32] Dalam Dialog dengan Tuhan, no. 79.
[33] Jalan, no. 130.
[34] Ibid., no. 633.
[35] Kristus yang Berlalu, no. 37.
[36] Ibid., no. 9.
[37] Ibid., no. 37.
[38] Lihat Ibid., no. 166.
[39] Furrow, no. 804.
[40] The Forge, no. 856.
[41] Kristus yang Berlalu, no. 122.
[42] Surat Pastoral, 14 Februari 2017, no. 9.
[43] Santo Yohanes Paulus II, Rosarium Virginis Mariae, no.11