Mencari Kesucian dalam Hidup Sehari-hari
Ringkasan Homili Monsinyur Tri Budi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya, dalam Misa Peringatan Santo Josemaría Escrivá
SURABAYA, 30 Juni 2026– Manusia diciptakan bukan sekadar untuk hidup, melainkan untuk hidup sebagai anak Allah. Dari kesadaran inilah Uskup Surabaya membangun homilinya dalam Perayaan Ekaristi memperingati Santo Josemaría Escrivá pada 30 Juni 2026.
Mengambil titik tolak dari kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian dan Injil tentang panggilan para murid pertama di Danau Genesaret, beliau mengajak umat melihat kembali identitas terdalam manusia menurut rencana Allah. Seluruh kehidupan, termasuk pekerjaan sehari-hari, sesungguhnya merupakan tempat manusia bertemu dengan Allah dan bertumbuh dalam kekudusan.
Nafas Allah yang menjadikan manusia hidup
Homili diawali dengan permenungan atas kisah penciptaan manusia. Kitab Kejadian mengisahkan bahwa Allah membentuk manusia dari debu tanah, lalu menghembuskan nafas kehidupan ke dalam dirinya. Dengan hembusan ilahi itu, manusia menjadi makhluk hidup.
Uskup mengajak umat memperhatikan bahwa yang dihembuskan Allah bukan sekadar kehidupan biologis, melainkan nafas-Nya sendiri—Ruach Allah. Karena itulah hidup manusia memiliki martabat yang melampaui dunia material. Manusia tidak hanya memiliki tubuh, tetapi juga dipanggil hidup dalam Roh Allah.
Dalam terang ajaran Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, Roh Allah itulah yang membuat manusia dapat menyebut Allah sebagai "Abba, ya Bapa." Roh Kudus menjadikan orang beriman sebagai anak-anak Allah sekaligus ahli waris janji keselamatan. Identitas dasar setiap orang Kristen bukanlah pertama-tama profesi, kedudukan, ataupun keberhasilannya, melainkan sebagai putra dan putri Allah yang dipimpin oleh Roh-Nya.
Dunia sebagai Taman Eden
Dari kisah penciptaan itu, Uskup kemudian mengarahkan perhatian kepada Taman Eden. Allah menumbuhkan berbagai pohon yang indah dipandang dan baik buahnya untuk dimakan, lalu menempatkan manusia di taman tersebut.
Namun manusia tidak ditempatkan di sana sebagai penonton. Ia menerima suatu tugas: mengusahakan dan memelihara taman itu.
Menurut Uskup, pesan Kitab Kejadian ini tetap berlaku bagi setiap orang hingga sekarang. Dunia tempat manusia hidup merupakan "Taman Eden" masa kini, ruang kehidupan yang dipercayakan Allah kepada setiap pribadi. Keluarga, tempat kerja, sekolah, kampus, kantor, maupun masyarakat merupakan taman yang harus diusahakan dan dipelihara dengan penuh tanggung jawab.
Di sinilah beliau menghubungkan bacaan Kitab Suci dengan spiritualitas Santo Josemaría Escrivá. Pendiri Opus Dei itu terus-menerus mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk menyucikan pekerjaannya. Kekudusan bukanlah sesuatu yang hanya dicapai melalui aktivitas religius tertentu, melainkan melalui pekerjaan sehari-hari yang dilakukan dengan kasih kepada Allah dan sesama.
Sebuah misi, bukan sekadar cita-cita indah
Mengutip semangat Santo Josemaría, Uskup menegaskan bahwa menyucikan pekerjaan bukanlah sebuah impian yang indah tetapi mustahil diwujudkan. Sebaliknya, hal itu merupakan misi yang dipercayakan Allah kepada setiap orang Kristen.
Pekerjaan menjadi jalan menuju pengudusan hidup. Ketika pekerjaan dipersembahkan kepada Allah dan dijalankan dengan kasih, kejujuran, serta semangat pelayanan, pekerjaan itu membentuk pribadi menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Dengan demikian, menyucikan pekerjaan berarti sekaligus menyucikan hidup. Hidup sebagai anak Allah berkembang menjadi hidup sebagai murid, lalu berbuah menjadi hidup sebagai rasul.
Belajar dari panggilan di Danau Genesaret
Bagian kedua homili mengajak umat merenungkan kisah Yesus memanggil Simon Petrus di Danau Genesaret. Uskup menggambarkan peristiwa itu sebagai suatu proses pengudusan yang berlangsung secara bertahap.
Langkah pertama ialah menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan. Orang banyak berkerumun mengelilingi Yesus untuk mendengarkan sabda-Nya. Sebelum dipanggil mewartakan Injil, para murid terlebih dahulu menjadi pendengar Firman.
Lambang berikutnya ialah para nelayan yang sedang membasuh jala. Membersihkan jala menjadi gambaran perlunya membersihkan hati dari segala yang menghalangi relasi dengan Allah.
Tahap berikutnya dimulai ketika Simon mengizinkan Yesus naik ke dalam perahunya. Sikap membuka diri ini membawa Simon keluar dari keramaian menuju kedalaman. Di situlah Yesus menyampaikan panggilan yang terkenal: duc in altum—bertolaklah ke tempat yang dalam.
Menurut Uskup, perjalanan menuju kekudusan selalu menuntut keberanian meninggalkan zona nyaman. Ada saat ketika manusia harus mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia agar mampu mendengarkan suara Tuhan secara lebih jernih.
Taat melampaui perhitungan manusia
Perintah Yesus kepada Simon tampaknya tidak masuk akal. Setelah semalam suntuk tidak memperoleh apa-apa, kini ia diminta kembali menebarkan jala.
Di sinilah muncul pelajaran penting tentang iman. Simon harus menundukkan logika dan pengalamannya sendiri kepada sabda Kristus.
Ketaatan itu kemudian menghasilkan tangkapan ikan yang melimpah. Bagi Uskup, mukjizat ini bukan sekadar kisah keberhasilan, melainkan tanda bahwa buah kerasulan lahir dari ketaatan kepada Tuhan, bukan semata-mata dari kemampuan manusia.
Kelimpahan itu pun tidak dinikmati sendirian. Simon memanggil rekan-rekannya untuk datang membantu. Pengalaman iman selalu mengandung dimensi kebersamaan; rahasia Kerajaan Allah dialami bersama, bukan secara individualistis.
Dari rasa takut menuju misi
Puncak kisah terjadi ketika Simon tersungkur di hadapan Yesus sambil mengakui dirinya orang berdosa.
Uskup menunjukkan bahwa pengalaman akan kekudusan Allah selalu melahirkan kesadaran akan keterbatasan diri. Namun pengalaman itu tidak berakhir pada rasa bersalah. Sebaliknya, Yesus membebaskan Simon dari ketakutannya.
"Jangan takut."
Pembebasan dari rasa takut menjadi awal suatu perutusan baru. Simon dipanggil menjadi penjala manusia. Ia meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Kristus dan hidup dalam Roh Putra Allah.
Panggilan yang tetap relevan
Melalui homili tersebut, Uskup Surabaya mengajak umat melihat kembali makna kehidupan Kristiani dalam terang spiritualitas Santo Josemaría Escrivá. Setiap orang telah menerima nafas Allah dan dipanggil hidup sebagai anak-anak-Nya. Dunia yang dipercayakan kepada manusia bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan taman yang harus diusahakan dan dipelihara.
Karena itu, pekerjaan sehari-hari tidak boleh dipandang hanya sebagai aktivitas ekonomi atau kewajiban rutin. Dalam terang Injil, pekerjaan menjadi tempat perjumpaan dengan Allah, sarana pertumbuhan dalam kekudusan, dan jalan menuju kerasulan.
Sebagaimana Simon Petrus dipanggil untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan mempercayakan hidupnya kepada Kristus, demikian pula setiap orang Kristen dipanggil untuk menghidupi pekerjaannya dengan semangat iman, sehingga kehidupan sehari-hari sungguh menjadi jalan menuju kekudusan dan pelayanan bagi sesama.
