"Yohanes Paulus II dan Opus Dei"

Wawancara dengan Prelat Opus Dei ini diterbitkan dalam Majalah Italia "Studi Cattolici" pada bulan April yang lalu, ketika perayaan beatifikasi Yohanes Paulus II sudah mendekat .

  Apakah kenangan Anda yang paling mengesankan tentang Paus Yohanes Paulus II?

Yohanes Paulus II menekankan bahwa setiap orang, pria atau wanita, akan mencapai kesempurnaan penuh dalam penyerahan diri, dalam pengabdian diri mereka kepada Tuhan dan sesama. Dan beliau sendiri telah mengabdikan hidupnya demi Tuhan dan Gereja dengan kemurahan hati yang konstan dan penuh pengurbanan. Perbedaan antara Bapa Paus yang  kuat fisiknya pada saat mengambil kemudi Gereja pada tahun 1978, dan Yohanes Paulus II yang membungkuk di bawah beban keletihan dan penyakit pada tahun-tahun terakhir hidupnya itu bukan saja tanda dari berjalannya waktu, tetapi juga ukuran dari persembahan dirinya.

Saya pernah menemani Uskup Alvaro del Portillo ke apartemen kepausan pada suatu petang  hari. Ketika sedang menunggu kedatangan Bapa Paus, kami mendengar langkah-langkah kaki orang yang berjalandi lorong menuju tempat kami berada, seolah-olah orang itu menyeret kakinya. Ternyata  Bapa Suci sendirilah yang datang, sangat kelelahan . "Bapa Suci, Bapa begitu lelah!" seru Don Alvaro. Bapa Paus menatapnya dan dengan suara tegas tapi ramah, menjawab, "Jika pada jam-jam ini saya tidak lelah, itu pertanda saya tidak memenuhi kewajiban saya".

Meskipun sulit untuk menyebutkan dengan singkat, apakah peninggalan Yohanes Paul II untuk Gereja?

Dia telah meninggalkan harta yang luar biasa bagi kita, yaitu ajaran dan teladan cinta kasih pastoral. Saya ingin menekankan bahwa dalam masa kepausan Yohanes Paulus II beliau telah memberi dorongan untuk karya evangelisasi baru melalui kehidupan biasa, melalui umat yang aktif hadir di semua bidang usaha manusia, dengan perilaku yang konsisten dengan iman.  

Mungkin inilah sebabnya  beliau dapat memahami Opus Dei, yang semangatnya tidak lain adalah penyucian dan karya kerasulan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya ingin menjelaskan bahwa para anggota Opus Dei menghormati dan berterima kasih kepada semua Bapa Paus, karena semua Paus bekerja demi kebaikan seluruh Gereja universal dan karena Bapa Paus, dari Pius XII sampai Bapa Paus sekarang ini, adalah karunia Penyelengaraan Ilahi bagi pengembangan kerasulan Opus Dei. Namun, dengan Yohanes Paulus II kami berhutang budi secara khusus, karena pada masa kepausannya banyak peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Opus Dei, antara lain ditentukannya bagian Gereja ini menjadi prelatur pribadi, beatifikasi dan kanonisasi St Josemaria, dan berdirinya Universitas Pontifikal Salib Suci.

Memang Bapa Paus memandang Opus Dei sebagai sarana yang efektif untuk karya evangelisasi melalui kehidupan sehari-hari, tetapi beliau tidak menyayangi Opus Dei saja. Yohanes Paulus II benar-benar adalah Paus untuk setiap orang, seorang Bapa yang peka terhadap semua yang datang dari karisma Roh Kudus. Saya rasa, dengan Sri Paus Yohanes Paulus II jutaan orang merasa dirinya seperti "putra dan putri favoritnya." Dan umat anggota Opus Dei pun merasakan ini, dengan sukacita dan syukur setiap hari.

Apakah Yohanes Paulus II kenal Opus Dei sebelum menjadi Paus? UNIV 1979

Dalam Konsili Vatikan II, beliau diperkenalkan, di Aula Dewan, kepada Don Alvaro del Portillo. Tetapi tidak ada kontak lagi sampai tahun 1971, ketika Kardinal muda dari Krakow, Karol Wojtyla, yang berada di Roma untuk sinode para uskup, menghadiri sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh CRIS,   Centro Romano d'Incontri Sacerdotali,   dengan bantuan beberapa imam Opus Dei. Pada kesempatan itu beliau diminta untuk mengadakan wawancara tentang imamat untuk sebuah majalah CRIS, karena sangat menarik mendengar suara seorang uskup yang hidup menderita di bawah tirani Komunis. Beliau menulis pertanyaan-pertanyaan dan beberapa minggu kemudian mengirim tiga puluh satu halaman tulisan tangan dalam bahasa Polandia. Pada awal setiap halaman kertas itu - yang kualitasnya sangat buruk- beliau menulis doa-doa singkat,   Totus Tuus,   dan beberapa ayat yang diambil dari Sequentia Roh Kudus:   Veni Sancte Spiritus ... Dulce refrigerium ... In labore requies ... O lux beatissima ... Reple Cordis intima ...  

Pada tahun 1974 CRIS mengundang beliau untuk memberi ceramah dalam suatu konferensi yang berjudul: MeluhurkanManusia dan Kebijaksanaan Kristiani  Topik yang dibahas oleh Kardinal Wojtyla adalah  Evangelisasi dan Kehidupan Batin Manusia.Ceramah itu sangat dalam, dan pada akhirnya ada referensi pada ungkapan Santo Josemaria Escriva de Balaguer tentang cara memenuhi dunia dengan damai Kristus: "menguduskan pekerjaan, menguduskan diri dalam pekerjaan, dan menguduskan orang lain melalui pekerjaan."  Teks ini kemudian dipublikasikan dalam sebuah buku bersama dengan ceramah-ceramah lainnya. Ketika beliau menjadi PausYohanes Paulus II kadang-kadang beliau memberi buku ini sebagai hadiah kepada orang-orang yang mengunjunginya.

Empat tahun kemudian, Kardinal Wojtyla datang ke Villa Tevere, rumah pusat Opus Dei, untuk makan siang dengan Don Alvaro. Makan siang bersama antar teman. Setelah itu, kami pergi ke kapel untuk Kunjungan kepada Sakramen Mahakudus. Kardinal Woytyla berlutut di bangku dari kayu yang ada di sana. Bangku ini adalah sebuah reliki karena pernah digunakan oleh Pius VII dan St Pius X, dan oleh St Josemaria juga. Bangku itu diberikan oleh kerabat St Pius X kepada St Josemaria sebagai hadiah. Ketika Don Alvaro menyebut hal ini, Kardinal Wojtyla segera turun dari bangku itu dan berlutut di lantai setelah mencium reliki itu. Gerakan spontan, ungkapan kerendahan hatinya ini, tidak pernah saya lupakan.

Beliau sangat menyayangi Don Alvaro, terutama setelah terpilih menjadi Paus. Kiranya orang-orang suci dapat memahami satu sama lain dengan baik.  

Dapatkah Anda menceritakan tentang pertemuan pertama Anda dengan Paus yang baru?

Pertemuan pertama terjadi dengan tak terduga pada hari setelah pemilihannya sebagai Paus, pada tanggal 17 Oktober 1978. Uskup Andrea Deskur, seorang uskup Polandia yang pada saat itu adalah Presiden Dewan Pontifikal untuk Komunikasi Sosial, seorang teman baik Don Alvaro, dan teman akrab Karol Wojtyla dari masa muda mereka, sedang dirawat di Rumah Sakit Gemelli akibat terserang stroke beberapa hari sebelumnya.

Pada hari Paus terpilih, Don Alvaro menelepon Uskup Deskur. Dia tidak berani memberi tahu berita baik itu secara langsung, agar tidak memprovokasi emosi yang mungkin berbahaya bagi Uskup Deskur. Don Avaro membatasi diri dengan bertanya : "Andrea, apakah Anda tahu siapa yang telah terpilih sebagai Paus" Deskur menjawab: "Tidak ada pilihan yang lebih tepat." Dan dia menambahkan: "Besok saya akan bertemu dengan beliau." Don Alvaro berpikir mungkin pasien ini sedikit mengigau: bagaimana mungkin Paus yang baru saja terpilih itu keluar dari Vatikan?

Keesokan harinya Don Alvaro pergi mengunjungi temannya, Uskup Deskur. Saya pergi dengan  Don Alvaro. Ketika kami akan keluar dari kamar Uskup Deskur, kami sangat heran karena diminta untuk menunggu di suatu sudut bersama dengan sekelompok orang. Ternyata Bapa Paus baru saja tiba dan pintu keluar dari lantai itu telah diblokir. Lebih mengherankan lagi melihat Yohanes Paulus II berjalan menuju pada Don Alvaro dan memeluknya. Don Alvaro sebagai seorang anak (dari Bapa Paus) merasa sangat terharu  dan ketika ia mencium cincin Bapa Paus, ia melihat bahwa Paus memegang rosario di tangannya.

Hari-hari  awal pemerintahan Paus yang baru biasanya sangat padat. Kami tidak pernah  membayangkan bahwa kami dapat bertemu dengan Bapa Paus begitu sering. Misalnya, Don Alvaro pernah pergi berkunjung ke Gereja La Mentorella, dekat ke Roma, untuk mempercayakan Bapa Paus yang baru ini dalam perlindungan Bunda Maria. Dan di sana, bersandar di kap mobil, Don Alvaro menulis sebuah kartu pos kepada Yohanes Paulus II di mana ia menyatakan keinginannya untuk mendukung Paus dengan doanya. Don Alvaro juga menyerahkan lebih dari enam puluh ribu Misa yang setiap setiap hari dipersembahkan oleh umat Opus Dei untuk intensi Pimpinan Opus Dei. Inilah,katanya, dukungan terbesar yang dapat ia berikan kepada Bapa Paus.  Beberapa hari kemudian Don Alvaro menerima telepon dari Bapa Paus sendiri. Bapa Suci ingin mengucapkan terima kasih atas perhatiannya, dan dari nada suaranya, kami dapat menangkap rasa syukur yang mendalam atas harta kekayaan yang telah diserahkan kedalam tangannya, yang mencerminkan cinta Bapa Paus yang besar terhadap Ekaristi.  

Pada tanggal 28 Oktober, Yohanes Paulus II menerima Don Alvaro untuk pertama kalinya secara informal. Don Joaquin Alonso dan saya sendiri juga hadir, dan kita dapat menyaksikan bagaimana Paus mendengarkan dengan penuh perhatian dan kasih sayang apa yang diceritakan oleh Don Alvaro. Saya ingat Bapa Paus berkata dengan  penuh kepercayaan sambil memukul-mukul meja dengan tinjunya, bahwa Gereja akan mampu mengatasi semua kesulitan dengan bantuan Bunda Maria,  yaitu opus Dei, karya Tuhan yang pertama,   karya Tuhan yang paling penting.Don Alvaro mengatakan bahwa ia juga berharap demikian. Juga pada kesempatan itu, Don Alvaro bercerita bahwa karena  adanya Sede Vacante dengan wafatnya Yohanes Paulus I yang tak terduga, Don Alvaro belum menerima surat dari Paus (yang wafat) - yang sebelumnya adalah Patriark Venesia-  yang sebenarnya akan dikirim untuk ulang tahun Opus Dei yang kelimapuluh . Don Alvaro juga menambahkan bahwa Paus Yohanes Paulus I sungguh-sungguh mengerti bahwa Opus Dei sebenarnya bukan sebuah institut sekulir. Oleh karena itu, beliau ingin menemukan solusi yuridis yang tepat untuk Opus Dei. Mengenai surat itu, Yohanes Paulus II berkata: "La facciamo!"Kami akan menulisnya!.

Pada tanggal 5 Desember tahun itu, Don Alvaro memberitahu Bapa Paus bahwa ia telah menyiapkan hadiah tradisional Polandia bagi Bapa Paus, yaitu buah jeruk. Orang Polandia biasanya memberi buah jeruk sebagai hadiah pada Hari Pesta St Nikolas, tanggal 6 Desember. Paus heran bahwa Don Alvaro tahu tentang kebiasaan itu dan mengundang don Alvaro untuk bertemu pada hari berikutnya. Dengan buah-buah jeruk, kami juga membawa buku karya St Josemaria untuk Bapa Paus, dan beliau menaruh buku-buku ini di kantor di mana beberapa asistennya bekerja membantu menyusun khotbahnya.

Pertemuan-pertemuan yang tidak di rencanakan ini  khas Yohanes Paulus II. Caraberhubungan dengan umat yang direk ini pada mulanya  membuat orang heran. Tetapi apa ada juga pertemuan-pertemuan resmi dengan Bapa Paus?

Tentu saja, antara lain karena kami juga ingin mengajukan permintaan kepada Bapa Suci -seperti yang telah saya sebutkan tadi- untuk menyelesaikan perjalanan kanonik Opus Dei. Bapa Paus Paulus VI juga telah menyambut permintaan ini pada audiensi pertama untuk Don Alvaro del Portillo. Dan kemudian, Yohanes Paulus II benar-benar mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu.

Saya juga memiliki sebuah kenangan yang sangat menyenangkan dari bulan-bulan pertama (Kepausan Yohanes Paulus II). Pada hari pesta Tiga Raja tahun 1979, Pengganti Bapa Paus untuk Keusukupan Agung Krakow (Polandia), Uskup Agung Marcharski akan ditahbiskan di Basilika Santo Petrus. Bapa Suci ingin merayakan upacara pentahbisan itu di altar Pengakuan (Altar Utama Basilika Santo Petrus), tetapi orang-orang menyarankan  bahwa lebih baik upacara itu diselenggarakan di altar 'Cathedra', karena sulit untuk mengisi seluruh Basilika yang besar itu jika pentahbisan dilaksanakan di altar utama. Dan jika umat yang hadir hanya sedikit, kelihatannya agak canggung.

 Saya tidak tahu siapa yang mengusulkan kepada Bapa Paus untuk menghubungi Don Alvaro, supaya mendorong para umat untuk menghadiri pentahbisan uskup itu. Pada waktu itu kami sedang dalam perjalanan pastoral di berbagai negara Eropa. Di Swiss kita menerima berita ini dari Roma. Seperti pada kesempatan lain apabila Don Alvaro menerima permintaan dari Sri Paus, dengan segera ia mengerahkan tenaganya untuk memobilisasi para anggota Opus Dei dan supaya mereka semua mengundang teman-teman untuk memenuhi Basilika Santo Petrus. Dan Basilika itu benar-benar penuh. Don Alvaro sendiri tidak hadir dalam upacara tersebut, karena ia ingin mengarahkan cinta kasih mereka yang hadir  kepada Bapa Paus Yohanes Paulus II dan Uskup Agung yang baru. Pada akhir perayaan pentahbisan itu,  Sri Paus mengungkapkan rasa terima kasih kepada Opus Dei. Dan untuk pertama kalinya seorang Paus membuat referensi pada Opus Dei di depan umum  di Basilika Santo Petrus.

Adakah kesempatan-kesempatan lain di mana Paus mengandalkan bantuan anggota Opus Dei untuk memobilisasi banyak orang?.

Terutama pada awal masa kepausannya. Sesudah itu Bapa Suci juga bisa mengandalkan dukungan dari anak-anak lainnya yang setia.

Saya ingat bahwa Yohanes Paulus II ingin, sejak dari permulaan, merayakan Misa untuk para mahasiswa di Basilika St Petrus, seperti yang pernah dilakukannya di Krakow. Kami berusaha membantu Bapa Paus untuk melaksanakan tradisi itu. Don Alvaro menyarankan untuk mencetak undangan pribadi yang akan mencakup, selain informasi tentang Misa, juga jam-jam pengakuan dosa di Basilika St Petrus, dan Don Alvaro pun  mengundang puluhan bapa pengakuan untuk membantu. Inisiatif ini ternyata menjadi sukses besar.

Pada salah satu undangan  untuk makan siang dengan Paus di apartemen kepausan, Don Alvaro berbicara tentang pentingnya pengakuan dosa untuk membantu para umat bertemu lagi dengan Tuhan, dan mendorong para imam dan umat awam untuk mengambil bagian dalam kerasulan ini. Untuk menjelaskan lebih lanjut, Don Alvaro menyebut hasil yang memuaskan dari kerasulan ini dengan menceritakan anekdot dari seluruh dunia. Yohanes Paulus II, dengan senyum menunjukkan persetujuannya dan berkata: "Anda mengingatkan saya pada para imam baik dan bersemangat dari masa muda saya, yang dengan cara itu mencurahkan hidup mereka untuk melayani jiwa-jiwa yang mereka cintai dengan sepenuh hati." Pada kesempatan lain, dalam percakapan tentang topik yang sama, Paus berbicara tentang umat Opus Dei, baik awam maupun imam, "Anda memiliki karisma Pengakuan”.  Bapa Paus juga menyebut hal ini kepada orang lain jika beliau berbicara tentang Opus Dei, dan orang-orang  itu bercerita kepada kami.

Saya dapat membayangkan bahwa hal yang serupa juga terjadi dalam kunjungan-kunjungan Paus Yohanes Paulus II keseluruh dunia, di mana ada anggota Opus Dei.

Di mana-mana di seluruh dunia, para umat anggota Opus Dei, dan umat Katolik lainnya, sudah sewajarnya menunjukkan kasih sayang dan dukungan mereka kepada Bapa Paus. Sri Paus tahu bagaimana mengambil hati semua orang, maka di seluruh dunia, beliau disambut dengan kasih sayang dan antusiasme.

Pada tahun-tahun pertama masa kepausannya, tahap terakhir untuk pengesahan Opus Dei sebagai sebuah Prelatur Pribadi dituntaskan. Apakah Anda dapat bercerita tentang ini ?

Baik Paulus VI maupun Yohanes Paulus I sudah menyatakan niat mereka untuk menyelesaikan perjalanan hukum Opus Dei, namun Tuhan memanggil mereka sebelum mereka dapat melaksanakan rencana ini. Yohanes Paulus II menaruh perhatian sejak awal mula. Dia menyerahkan studi mengenai hal ini ke tangan Kardinal Sebastiano Baggio, Prefek Kongregasi untuk Uskup, dan dibentuklah suatu komisi "paritetic" (campuran) , terdiri dari para ahli Hukum Kanonik dari Takhta Suci dan dari Opus Dei. Paus mengikuti semua langkah-langkah dengan seksama, dan mengetahui segalanya dengan baik. Detail-detail teknis kanonis pun dikenalnya dengan baik. Dalam hal ini saya ingin menonjolkan perhatian Yohanes Paulus II  sebagai seorang bapa pada proses juridis tersebut. Sekaligus, beliau juga memberi kebebasan penuh kepada para pakar hukum kanonik yang mempelajari semua soal-soal yang berkaitan. Beliau juga seorang bapa yang baik- tidak saja bijaksana-dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang timbul karena beberapa uskup mengajukan keberatan yang dapat dimengerti karena hal ini berkaitan dengan suatu badan hukum kanonik baru. Beliau sendiri mengawasi penelitian ini dan memastikan supaya semua keberatan dipelajari dan di selesaikan dengan baik.

Sampai sejauh mana Yohanes Paulus II ikut campur dalam pemerintahan Opus Dei? Apakah dia memberi saran-saran?

Yang paling penting, jelaslah, dengan menetapkan Opus Dei sebagai sebuah prelatur pribadi, suatu kebijaksanaan di mana beliau menempatkan Bagian Gereja ini, yang terdiri dari umat awam dan para imam, pria dan wanita dari semua lapisan masyarakat, di bawah wewenang/yurisdiksi seorang Prelat sehingga  -juga para imamnya- dapat melayani Gereja universal dengan baik, dalam persekutuan dengan gereja-gereja setempat. Dia juga menyarankan kepada Prelat Opus Dei beberapa inisiatif apostolik, karena beliau sangat yakin akan efektivitas kerasulan pribadi dari setiap anggota Opus Dei dan juga orang-orang - dari semua bidang sosial- yang mengambil bagian dalam kegiatan kerasulan Opus Dei .

Karena permintaan tertulis dari Sri Paus, seminari internasional  Sedes Sapientiae   didirikan di Roma untuk membina para imam yang kemudian dapat melaksanakan tugas pembinaan di seminari-seminari di seluruh dunia, termasuk di negara-negara yang baru saja memperoleh kebebasan setelah masa penguasaan Soviet.

Yohanes Paulus II mulai berbicara tentang evangelisasi baru setidak-tidaknya sejak awal 1981, tetapi baru pada tahun 1985 beliau memberi dorongan yang kuat untuk memprioritaskan karya pastoral ini, terutama di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara, dimana gejala-gejala sekularisme berkembang sangat mengkhawatirkan. Sebuah tanggal simbolis adalah 11 Oktober 1985, hari  Bapa Suci menutup sebuah Sinode Uskup luar biasa  yang diadakan di Roma. Bapa Paus mengundang seluruh Gereja untuk memperbarui karya misionaris. Dalam percakapan dengan Prelat Opus Dei, Yohanes Paulus II menekankan bahwa ini adalah prioritasnya. Don Alvaro segera menyediakan dukungan untuk karya ini, dan dalam surat pastoral tanggal 25 Desember pada tahun yang sama Don Alvaro mendorong semua umat Opus Dei untuk berkerja sama dengan segenap tenaga dalam melaksanakan tugas ini, yang sangat penting di negara-negara Eropa ‘Tua’, Amerika Serikat dan Kanada.

Sejak saat itu, ia melipatgandakan usaha pastoralnya ini dengan mengunjungi negara-negara Eropa. Antara tahun 1987 dan 1990 ia mengembangkan upaya ini ke Asia dan Oceania, Amerika Utara dan Afrika.  

Bapa Paus mengundang Don Alvaro untuk memulai kegiatan Opus Dei di negara-negara Skandinavia. Dan, tentu saja, di Polandia. Sri Paus menegaskan bahwa sangat penting mewartakan manfaat pembinaan rohani pribadi kepada umat di Polandia. Sri Paus tahu bahwa ini dipraktikkan dengan tekun dalam Opus Dei.

Paus terus mendorong Don Alvaro untuk mendukung misi evangelisasi ini dengan semangat Opus Dei – dan beliau juga mendorong saya-  sampai akhir hayatnya. Pada tanggal 13 Januari 1994, Sri Paus berkenan menerima Prelat Opus Dei dalam audiensi untuk memberi informasi tentang perkembangan karya kerasulan umat Opus Dei dan inisiatif-inisiatif yang sedang direncanakan. Paus menekankan kebutuhan yang besar untuk terus berusaha mendukung misi evangelisasi baru dalam masyarakat. Sepulang dari audiensi itu Don Alvaro dengan penuh semangat dan dengan kesadaran baru terus menghayati -seperti St Josemaria- persatuan penuh dengan pengganti Santo Petrus dan dengan para uskup.

Dalam audiensi-audiensi itu, Paus memberi berbagai saran dan semangat untuk meneruskan usaha kerasulan (Opus Dei) yang sudah berlangsung. Seperti misalnya, beliau menyarankan agar karya kerasulan dengan kaum intelektual dilaksanakan secara mendalam untuk mendorong pekerjaan intelektual dan menunjukkan kepada mereka bahwa iman dan akal budi tidak berjalan di jalur yang terpisah, apalagi di jalur yang bertentangan.  Yohanes Paulus II berpendapat bahwa kaum intelektual adalah orang-orang penting untuk karya evangelisasi baru, dan beliau menghendaki  mereka diberi pelayanan pastoral khusus. Sri Paus juga menganggap sebagai suatu prioritas, karya evangelisasi dengan orang-orang yang memiliki tanggung jawab dalam bidang politik dan ekonomi, karena ini adalah cara paling efektif untuk memperbaiki situasi setiap orang, terutama orang-orang yang tidak mampu. Beliau juga mendorong umat Opus Dei dan orang-orang yang bekerja di sekolah bisnis, kata beliau, " Jika mereka yang mengambil mata kuliah ini menjadi orang Kristiani (sejati) dan bertobat, maka akan lebih mudah untuk memberantas kemiskinan."

Dan apakah Don Alvaro pernah memberi saran kepada Paus tentang Gereja?

Pada beberapa kesempatan, Bapa Suci meminta pendapatnya. Pada akhir tahun 1978, ketika Paus mempertimbangkan kemungkinan pergi ke Meksiko untuk pertemuan Konferensi Wali Gereja untuk Amerika Latin, CELAM, (masa itu adalah masa yang rawan dan rumit), Paus berkata kepada Don Alvaro, di hadapan orang lain, bahwa beliau telah mendengar berbagai pendapat tentang masalah ini dan Sri Paus ingin mendengar pendapatnya. Dengan penuh kesederhanaan, Don Alvaro menyarankan agar beliau melaksanakan perjalanan itu, karena itu akan membawa kebaikan yang besar untuk Gereja di Meksiko, di Amerika Latin, dan di seluruh dunia. Dari nada suara don Alvaro jelaslah bahwa menurut Don Alvaro, apa pun keputusan Paus, itulah yang terbaik  Perjalanan Bapa Paus (ke Meksiko) dilaksanakan dengan hasil yang luar biasa seperti yang sudah kita ketahui. Tentu saja, Paus pasti juga berkonsultasi dengan orang lain dan dengan kantor-kantor Kuria Romawi.  

Setelah perjalanan ke Meksiko beliau mengundang kami untuk makan siang dan beliau bercerita banyak  tentang kunjungannya itu dengan gembira. Bapa Suci tidak berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi tentang iman dan tanggapan umat Meksiko atas kunjungan penerus Santo Petrus.

Beberapa kali Don Alvaro menyarankan agar Yohanes Paulus II menulis surat atau anjuran tentang St Yosef untuk mendorong devosi umat dan meminta perlindungan St Yosef atas Gereja.  Don Alvaro sangat bersuka cita ketika Anjuran Apostolik   Redemptoris Custos  (tentang St Yosef)  diterbitkan pada 15 Agustus 1989.

Saya ingat saran lain yang berkaitan dengan kesalehan. Kami mengundang seorang pastor Spanyol, Mgr. Pedro Altabella, kanon dari Basilika Santo Petrus, untuk makan siang bersama,. Selama makan siang itu, antara lain kami berbicara tentang adorasi Sakramen Mahakudus di beberapa gereja yang telah membawa manfaat besar bagi jiwa-jiwa. Kemudian, Don Jaquin Alonso mengusulkan, alangkah baiknya  jika di Basilika Santo Petrus dapat dimulai adorasi juga.  Don Alvaro memberi dukungan kuat pada saran ini dan Mgr Pedro menerima saran itu dengan baik dan berkata bahwa ia akan  membawa ide ini  in altissimis, ke tingkat tertinggi.Dalam waktu singkat adorasi Ekaristi di Basilika Vatikan dimulai dan telah menghasilkan buah yang luar biasa. Ini terjadi pada tahun 1981.

Semua ini mencerminkan hubungan yang sangat baik dengan Sri Paus.

Yohanes Paulus II berulang kali mengungkapkan kasih sayangnya sebagai  seorang bapa - terlalu panjang untuk mengingat semuanya di sini. Tetapi, yang saya ingat sekarang adalah ulang tahun Don Alvaro yang ke 70 tanggal 11 Maret 1984. Don Alvaro menerima gambar Bunda Maria dari Czestochowa dari Paus dengan ucapan penuh kasih sayang dalam tulisan tangan Paus sendiri.

Saya rasa semua orang yang pernah berhubungan dekat dengan Yohanes Paulus II dapat menyaksikan beliau adalah orang yang penuh kasih sayang terhadap orang lain.

Apakah Sri Paus pernah mengunjungi suatu rumah Opus Dei?

Dalam rencana kunjungan pastoral ke paroki-paroki di Roma, beliau mengunjungi tiga gereja Paroki yang telah diserahkan kepada Opus Dei dan beliau pun mengunjungi rumah-rumah Opus Dei yang mengurus gereja paroki tersebut.

Mungkin anekdot yang paling menarik adalah dari masa ketika beliau masih sehat. Sri Paus pergi beberapa kali ke sebuah rumah konferensi Opus Dei di Abruzzo (Italia), yang bernama Tor d'Aveia. Rumah itu terletak di lereng gunung dan dari situ dengan mudah dapat pergi berjalan-jalan atau bahkan bermain ski. Tentu saja Bapa Paus kadang-kadang juga perlu bersantai  dan di sana beliau dapat beristirahat tanpa menarik perhatian orang. Tor d'Aveia kira-kira sejauh 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari Roma, dan beliau dapat melakukan perjalanan ini tanpa diketahui orang. Itu adalah kesempatan baik bagi Sri Paus untuk beristirahat. Para wanita Opus Dei yang bertugas mengurus rumah Opus Dei itu dapat bertemu dan bericara dengan Bapa Paus dan sekretarisnya, tetapi mereka tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun, supaya Bapa Paus tidak terganggu. Don Alvaro hanya sekali pergi ke sana untuk menyambut beliau. Yohanes Paulus II juga pernah pergi  ke rumah  konferensi lain di Ovindoli, tidak jauh dari Tor d'Aveia dan dekat dengan tempat main ski.  

Anda sering diundang makan di kediaman Paus. Apa saja yang Anda bicarakan pada kesempatan itu?

Tentang aneka ragam topik dalam konteks informal: situasi Gereja, kerasulan umat Opus Dei di berbagai negara, dll  

Pada salah satu kesempatan Sri Paus memberi Don Alvaro buku Perjanjian Baru edisi kecil yang kemudian ia gunakan dalam perjalanannya, terutama untuk selalu mengingat Bapa Paus. Selain itu ia tidak menggunakan buku ini karena ukuran hurufnya sangat kecil.

Apakah Anda memiliki kenangan yang berhubungan dengan  peristiwa Bapa Paus ditembak pada tahun 1981?

Pada saat itu kami sedang bermusyawarah dengan Dewan Penasihat Opus Dei bagian Wanita. Begitu kami mendengar kabar itu, Don Alvaro menginterupsi rapat dan kami segera pergi ke Rumah Sakit Gemelli. Don Alvaro diundang oleh Mgr. Angelini sehingga dapat bergabung dengan beberapa anggota Kuria pada waktu para dokter menjalankan operasi pada Bapa Suci.  

Don Alvaro segera meminta seluruh Opus Dei untuk berdoa bagi Paus. Kami sering pergi ke Rumah Sakit Gemelli, meskipun tahu kami tidak dapat mengunjunginya. Tetapi kami ingin berdoa baginya dan berada dekat dengannya secara fisik.

Untuk perjalanan Paus ke Meksiko (tahun 1979), Don Alvaro memberi Sri Paus sebuah tape cassette dengan lagu-lagu Meksiko, yaitu lagu-lagu  cinta yang sering dinyanyikan para umat  kepada Bunda Maria dari Guadalupe. Ketika untuk pertama kalinya kami diizinkan untuk mengunjungi Bapa Suci di rumah sakit, beliau sedang mendengarkan lagu-lagu itu dari 'cassette player'. "Lagu-lagu ini membantu saya untuk berdoa," katanya.

Kami tidak diberitahu terlebih dahulu bahwa kami dapat bertemu dengan Bapa Paus,tetapi Paus sendirilah yang meminta supaya kami dibawa ke kamarnya. Don Alvaro meletakkan tangannya di lengan Bapa Paus dengan penuh kasih seorang anak, dan karena itu, ia tahu bahwa Sri Paus sedang menderita demam yang sangat tinggi. Kunjungan itu sangat singkat, tetapi kami dapat merasakan bahwa seluruh Gereja berdoa bagi Petrus (Bapa Paus), sama seperti zaman dulu di Yerusalem, dan bahwa Petrus telah mempersembahkan segalanya (kepada Tuhan) sebagai kurban bagi Gereja Kristus.

Kami belum membahas apa-apa tentang beatifikasi dan kanonisasi St Josemaria, yang dilaksanakan oleh Yohanes Paulus II.

Paus sangat senang mengangkat Pendiri Opus Dei ke altar. Seperti yang Anda ingat, sebelum beatifikasi Pendiri Opus Dei pada tahun 1992, banyak kesalahpahaman yang muncul dan mengakibatkan kontroversi. Itu semua adalah karya iblis untuk menghambat  - kata Yohanes Paulus II setelah upacara beatifikasi-  suatu "manifestasi iman yang besar." Ketika upacara beatifikasi berakhir, Yohanes Paulus II sendiri mengungkapkan kegembiraannya melihat beribu-ribu umat bersatu dalam doa yang khusuk, dan beliau berkata kepada Don Alvaro waktu mereka berjalan berdampingan menuju ke Basilika Santo Petrus: "Sekarang saya mengerti mengapa grup-grup sektarian tidak menghendaki manifestasi iman ini terjadi". Paus menambahkan bahwa beliau sangat bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan merayakan upacara itu, di mana beliau juga mengangkat  Suster Bakhita, seorang biarawati Canossia, sebagai beata, karena suster ini telah membawa perhatian dunia ke situasi Gereja yang tragis di Sudan.

Singkatnya,  apa yang terjadi dan telah tercantum dalam sejarah (tentang beatifikasi dan kanonisasi) adalah hasil-hasil yang baik dari devosi kepada St Josemaria dalam Gereja. Dan Bapa Paus mengetahuinya dengan baik.

Dalam upacara kanonisasi itu, Bapa Paus menyebut St Josemaria " Santo kehidupan sehari-hari," selaras dengan harapan beliau untuk mengevangelisasi masyarakat melalui kehidupan sehari-hari: di gereja domestik yaitu setiap keluarga, dalam pekerjaan, olahraga dan lingkungan sosial.

Yohanes Paulus II sendiri juga telah menjadi sasaran kritik. Bagaimana Bapa Paus menghadapi oposisi ini?

Sri Paus sangat supranatural dan memanggul salib ini dengan senang hati. Selain itu, tekadnya sangat kuat dan terus bergerak maju demi kebaikan Gereja. Don Alvaro pernah berkesempatan  berdoa rosario bersama dengan Paus, disertai sejumlah orang lain. Pada kesempatan itu Ibu Teresa dari Kalkuta juga ada di sana. Ketika doa berakhir, Sri Paus memperkenalkan Don Alvaro kepada Ibu Teresa, yang berterima kasih pada Don Alvaro atas pelayanan imam-imam Opus Dei kepada biarawati dari tarekatnya di seluruh dunia. Kemudian Paus, setengah bercanda dan setengah serius, berkata: "Ibu, mengapa begitu banyak kritik ditujukan pada Paus dan Opus Dei sementara semua orang mengatakan hal-hal yang baik saja tentang Ibu Teresa?" Dan Ibu Teresa menanggapi dengan ketulusan yang besar: "Doakan saya, supaya saya menjadi rendah hati."

Yohanes Paulus II juga pergi berdoa dihadapan jenazah Don Alvaro pada hari wafatnya. Dapatkah Anda bercerita tentang saat-saat itu?

Pada tanggal 11 Maret 1994, ulang tahun ke-80nya, Don Alvaro menerima sebuah foto dari Yohanes Paulus II dengan tulisan tangannya sendiri di foto itu: "Kepada yang terhormat dan tercinta saudara kami Alvaro del Portillo, yang bersyukur kepada Allah merayakan ulang tahunnya yang kedelapan puluh.Sebagai ungkapan penghargaan saya untuk pengabdiannya yang setia dalam melayanani Gereja, dan dengan memohon rahmat surgawi yang berlimpah,semoga pelayanannya terus berlanjut selama bertahun-tahun dan menghasilkan buah yang berlimpah, saya memberi berkat apostolik khusus dan penuh kasih sayang, juga untuk semua imam dan umat awam dari Prelatur Opus Dei. "

Pada malam tanggal 22 Maret 1994, kami baru saja kembali dari ziarah ke Tanah Suci, dan beberapa jam kemudian, pada dini hari tanggal 23, Prelat Opus Dei dipanggil Tuhan. Saya memberitahu Mgr. Stanislaw Dziwisz, sekretaris pribadi Yohanes Paulus II sekitar jam 6.30 pagi. Don Stanizlaw berkata  beliau akan memberitahu Bapa Suci dan mereka akan berdoa untuk arwah Prelat Opus Dei dalam Misa Kudus. Kami sangat gembira ketika kepala rumah tangga kepausan, Mgr Monduzzi menelepon kami pada jam 10 pagi untuk memberitahu bahwa Bapa Suci ingin datang sore hari itu untuk berdoa dihadapan jenazah Don Alvaro .

 Saya tidak perlu berbicara banyak tentang kunjungan ini, tapi saya hanya ingin menekankan perhatian Yohanes Paulus II. Dia bertanya kapan dan di mana Don Alvaro merayakan Misa Kudus terakhir kalinya, karena Sri Paus tahu ia baru saja kembali di Roma hari sebelumnya. Ketika saya berkata, ‘pukul sebelas pagi di senakel’, saya terkejut melihat reaksi Paus yang dengan cepat menghitung waktu yang telah berlalu antara jam Misa dan jam Don Alvaro meninggal dunia. Pada akhir kunjungannya saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan yang luar dari biasa itu,tetapi Paus menghentikan ucapan saya dan berkata, "Ini kewajiban saya, ini kewajiban saya."

Dan setelah Anda ditunjuk sebagai Prelat pada tahun 1994, apakah Anda memiliki hubungan yang sama dengan Yohanes Paulus II?

Bapa Paus tetap seperti seorang bapa (terhadap kita) dan selalu penuh kasih sayang. Misalnya, beliau sendiri menelepon saya untuk memberitahu bahwa saya telah ditunjuk sebagai Prelat Opus Dei. Beberapa kali saya bertemu dengan Bapa Paus untuk melaporkan perkembangan karya kerasulan Opus Dei dan saya dapat menyaksikan kegembiraannya. Beberapa bulan sesudah saya ditunjuk sebagai Prelat, beliau mentahbiskan saya sebagai uskup. Sesudah tahun 2000 Bapa Paus menderita sakit, namun beliau tetap berkenan menerima saya dalam audiensi secara teratur untuk mendengar berita-berita tentang kegiatan kerasulan Opus Dei di seluruh dunia. Tiga hari setelah Paus wafat, saya pergi dengan Don Joaquin Alonso untuk berdoa dihadapan jenazah beliau di Basilika Santo Petrus, dan untuk menemui Don Stanislaw, yang telah mengundang kita untuk berdoa di kapel pribadinya dan kemudian mengajak kita untuk pergi ke teras istana apostolik. Beliau ingin menunjukkan kepada kami arus massa yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada bapa Paus dan pemancar televisi dari seluruh dunia yang telah dipasang di sekitar Lapangan Santo Petrus. Tak lama setelah itu, Don Stanslaw memberikan salah satu jubah Yohanes Paulus II kepada saya, untuk disimpan sebagai reliki.  

                                                                                                                               Michele Dolz

 

  • Studi Cattolici / / Michele Dolz