Surat Bapa Prelat (10 Februari 2024)

Surat pastoral baru dari Bapa Prelat Opus Dei berefleksi atas ketaatan dari sudut pandang ajaran Kristiani dan panggilan di dalam Opus Dei.

En esta carta el prelado del Opus Dei reflexiona sobre la obediencia, a la luz del mensaje cristiano y de la realidad vocacional de la Obra.

Anak-anakku yang terkasih: semoga Yesus menjaga putra-putriku!

1. Beberapa tahun yang lalu, saya menulis surat tentang kebebasan (manusia). Kita semua pasti telah merenungkannya dan menerapkannya dalam hidup kita sehari-hari. Waktu itu saya juga mengingatkan kalian bahwa kita telah menerima panggilan untuk melaksanakan segala sesuatu demi cinta dan bukan hanya karena kewajiban. Kita ingin mengikuti Tuhan, memenuhi kehendak-Nya, tergerak oleh keinginan untuk menanggapi cinta-Nya. Sekarang saya menulis surat ini mengenai ketaatan, yang mungkin, sekilas pandang tampak seperti suatu kebajikan yang bertentangan dengan kebebasan. Namun kita tahu betul bahwa, pada kenyataannya ketaatan yang sejati adalah suatu konsekuensi dari kebebasan. Terlebih lagi, berlawanan dengan pengertian kita jika melihatnya dari sudut pandang manusia semata, ketaatan Kristiani justru akan membawa kita pada kebebasan yang lebih besar.

Beberapa dekade yang lalu, seorang intelektual penting, yang telah mempelajari secara mendalam karya-karya Santo Josemaría, menunjukkan suatu kontribusi yang penting dari Santo Josemaria yang menekankan bahwa dalam kehidupan Kristiani kebebasan (manusia) mempunyai prioritas di atas ketaatan.[1] Kita taat, karena kita “mau” melakukan kehendak Tuhan, karena itulah keinginan yang terdalam dari jiwa kita. Kenyataannya, ketaatan tanpa kebebasan bukanlah ketaatan yang layak bagi seorang pribadi manusia, dan oleh karena itu, ketaatan itu juga bukan ketaatan yang layak bagi putra atau putri Allah.

Seperti kita ketahui, cinta itu lebih dari sekadar kecenderungan perasaan yang bersifat sementara. Mencintai berarti bersedia untuk menyerahkan nyawa demi seseorang (yang dicintai) (lih. Yoh 15:13). Oleh karena itu, salah satu wujud dari cinta yang terdalam adalah memadukan kehendak kita dengan kehendak orang yang kita cintai: “Aku menghendaki apa yang Kau kehendaki, aku menghendaki karena Engkau menghendakinya, aku menghendaki sebagaimana yang Kau kehendaki, aku menghendakinya kapan saja Engkau menghendakinya.”[2]

2. Sedikit banyak kita semua sering memikirkan rencana kasih Allah bagi dunia. Rencana ini mencakup karya penciptaan serta peningkatannya ke jenjang supernatural berdasarkan cinta yang murni, rencana Tritunggal Mahakudus untuk berbagi kebahagiaan Ilahi dengan setiap pria dan wanita, dan untuk memberi kita kehidupan yang dapat memenuhi segala kerinduan hati kita. Namun sejak awal juga mulai terasa adanya dosa di dunia, yaitu dosa asal orang tua pertama kita, yang pada dasarnya adalah dosa ketidaktaatan.

Meski demikian, hendaknya kita jangan pernah lelah merenungkan dengan penuh rasa syukur bahwa Tuhan tidak pernah meninggal kita begitu saja menghadapi nasib kita. Dengan keputusan cinta-Nya yang bebas, (yang tidak dapat kita pahami karena melampaui kemampuan kita untuk memahami), Dia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk memulihkan persahabatan-Nya dengan kita. Ketika Yesus wafat di kayu Salib bagi seluruh umat manusia – bagi kalian dan bagi saya – Ia menyerahkan nyawa-Nya sebagai wujud ketaatan penuh terhadap kehendak Bapa-Nya. Kebebasan dan ketaatan saling terkait erat dalam sejarah keselamatan. Akibat-akibat yang menyedihkan dari ketidaktaatan manusia telah ditebus oleh ketaatan Kristus. Kasih karunia-Nya memberi kita kemungkinan untuk hidup dengan kebebasan sebagai anak-anak Allah.

3. Dalam surat ini saya ingin mengajak kalian untuk merenungkan bersama tentang beberapa aspek dari ketaatan yang begitu penting artinya dalam misteri iman kita dan juga dalam kehidupan setiap orang. Kebutuhan untuk taat adalah bagian dari hidup manusia di berbagai tingkatan, karena adanya hukum dan aturan-aturan yang wajib dipenuhi: Dimulai dari hukum alam hingga hukum sipil dalam kehidupan masyarakat; dari ketaatan seorang anak di bawah umur kepada orang tuanya sampai dengan ketaatan mereka yang dengan sukarela membuat komitmen serius kepada orang lain atau komitmen dalam suatu lembaga. Secara analogi, seseorang yang mengikuti suara hati nuraninya, juga dapat dianggap dia menghayati ketaatan. Dan dalam arti yang lebih luas lagi, juga bisa disebut ketaatan ketika kita mengikuti suatu nasihat atau saran-saran kerohanian.

Hidup dalam budaya masa kini, kita semua menyadari bahwa jarang sekali ketaatan itu dianggap sebagai sesuatu yang positif (di zaman ini). Malah sebaliknya, ketaatan kadang dipandang sebagai sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, dan jika ada kemungkinan justru akan dihindari, karena hal ini dianggap bertentangan dengan kebebasan yang dinilai sangat berharga. Selain itu, di banyak lingkungan terdapat krisis figur/panutan yang berotoritas, dan juga adanya suatu gagasan bahwa ketergantungan (pada seseorang) dianggap sebagai sesuatu yang negatif, suatu pengecualian yang tidak dapat dihindari terhadap kemampuan untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan sendiri. Dengan demikian, misalnya saat ini, dengan meningkatnya kepekaan terhadap segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, (meskipun kepekaan ini adalah suatu hal yang positif dan memang dibutuhkan), terkadang timbul kecurigaan yang tidak berdasar terhadap segala bentuk otoritas. Kenyataannya, manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk tidak taat, yang merupakan warisan dari dosa asal ketika “manusia, tergoda oleh iblis, membiarkan kepercayaannya kepada Sang Penciptanya musnah di dalam hatinya (lih. Kej 3:1-11) dan kemudian dengan menyalahgunakan kebebasannya, manusia telah melanggar perintah Tuhan.”[3]

Untuk memahami nilai terbesar dari ketaatan, dan hubungan eksistensialnya dengan kebebasan, kita perlu memahami ketaatan ini dari level yang lebih tinggi dari level ketaatan yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat, dan merenungkan (ketaatan) Tuhan Yesus. Dan inilah suatu aspek dari sentralitas Yesus Kristus, yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita: Bahwa Kristus bertakhta dalam hati kita dan mengarahkan seluruh keberadaan hidup kita.

“Mari kita belajar dari Tuhan Yesus untuk menghayati ketaatan. Tuhan menghendaki sang Penginjil menggunakan pena untuk menulis biografi yang luar biasa, dalam bahasa Latin, hanya terdiri dari tiga kata: Erat subditus illis (Luk 2:51): Dia taat kepada mereka. Lihatlah betapa pentingnya ketaatan bagi seorang Putra Allah! Tuhan sendiri datang (ke dunia) untuk taat kepada dua makhluk, makhluk yang sempurna, namun tetap saja makhluk: Santa Maria – lebih agung dari Bunda Maria, hanya Tuhan – dan Santo Yusuf. Dan Yesus menaati mereka.”[4] Putra Allah ingin menjadi manusia seutuhnya dan, seperti anak baik lainnya, Dia menaati Bunda Maria dan Santo Yusuf, karena dengan berbuat demikian, Dia menaati Allah Bapa. Dan ketaatan ini menandai seluruh kehidupan-Nya di bumi, hingga taat-Nya di Kayu Salib (lih. Filipi 2:8).

Taat kepada Tuhan

4. Dalam arti mutlak hanya Allah yang patut ditaati senantiasa dan di segala masa, karena hanya Dialah yang mengetahui sepenuhnya jalan yang akan membawa kita menuju kebahagiaan. “Jikalau kamu mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan dengan tekun melakukan segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan, Allahmu, akan meninggikan kamu mengatasi segala bangsa di bumi” (Ul. 28:1). Kemudian nabi Musa menjelaskan kepada umatnya semua berkat yang akan dianugerahkan jika mereka taat.

Dapat dikatakan bahwa semua wahyu dalam Alkitab adalah sebuah pedagogi yang mengarahkan pada ketaatan yang paling cerdas dan paling bebas. Itulah ketaatan yang akan menuntun kita pada pencapaian penuh akan siapa diri kita sebenarnya dengan mengidentifikasikan kehendak kita dengan kehendak Tuhan, dengan merespons ‘ya’ tanpa syarat (pada Tuhan). Oleh karena itu, melalui para nabi, dan meskipun banyak pengkhianatan umat-Nya, Allah terus berfirman kepada mereka: “Taatilah perkataan-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku; dan berjalanlah sepanjang jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya baik keadaanmu” (Yer. 7:23). Rencana-rencana kecil kita akan menjadi besar bila diintegrasikan ke dalam rencana-Nya; semuanya akan menjadi lebih baik bagi kita bila kita berjalan di jalan Tuhan.

Kristus menunjukkan diri-Nya sebagai seorang anak yang taat. Taat, pertama-tama kepada Bunda Maria dan Santo Yusuf, kepada para kerabat dan penguasa. Tapi yang terpenting, Yesus taat kepada Allah Bapa. Yesus melakukan kehendak Bapa sebagai makanan-Nya: “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan melaksanakan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Bahkan di saat-saat tersulit sekalipun, Sang Putra menjadikan kehendak Bapa-Nya kehendak-Nya juga, meskipun Ia sangat sadar akan penderitaan yang akan datang dari itu: “Bapa, jika Engkau bersedia, ambillah cawan ini dari-Ku. Meskipun demikian, bukan kehendak-Ku yang terjadi, melainkan kehendak-Mu” (Luk 22:42). Santo Paulus menulis bahwa “dalam wujud manusia, ia merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib” (lih. Filipi 2:7-8).

Namun, bukan kematian Kristus saja yang membawa keselamatan kita, melainkan ketaatan-Nya yang penuh kasih dan sukarela kepada Allah Bapa untuk menjadi salah satu dari kita, manusia, dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita: “Dengan ketaatan satu orang, banyak orang akan menjadi orang benar.” (Rm 5:19). Ketaatan-Nya tidak terbatas pada waktu atau peristiwa tertentu saja, tetapi ketaatan telah menjadi cara hidup-Nya sepanjang waktu, Dia taat “sampai akhir” (Yoh. 13:1).

5. Ketika Santo Petrus dilarang oleh otoritas sipil dan otoritas agama untuk berkhotbah dalam nama Yesus, ia menjawab, “Kita harus menaati Allah dan bukan menaati manusia” (Kis 5:29). Namun seperti yang dikatakan Paus Benediktus XVI, “ini menyiratkan bahwa kita harus benar-benar mengenal Tuhan dan kita benar-benar ingin menaati-Nya. Tuhan bukan suatu dalih untuk memenuhi kemauan pribadi seseorang, namun sesungguhnya Dialah yang memanggil dan mengundang kita, jika perlu, bahkan untuk mati sebagai martir. Oleh karena itu, dalam memahami firman yang membuka sejarah baru untuk kebebasan (manusia) di dunia ini, marilah kita berdoa terutama untuk mengenal Tuhan, untuk mengenal Tuhan dengan rendah hati dan sungguh-sungguh dan dengan demikian belajar ketaatan sejati, yang adalah fondasi dari kebebasan manusia.”[5]

Mereka yang berusaha mengenal Tuhan akan melakukan pencarian ini terus-menerus dengan penuh harapan dan kepercayaan yang besar, karena dari Allah tidak ada apa pun yang dapat kita harapkan selain berkat-Nya, meskipun kadang-kadang hal ini tidak tampak dengan jelas atau sulit dipahami, atau bahkan membuat kita menderita. Dalam pengertian ini, doa pribadi kita juga memerlukan sikap ketaatan. “Ya, Tuhan,” Santo Josemaría berdoa, “Kami siap menerima apa pun yang ingin Engkau sampaikan kepada kami. Bersabdalah kepada kami: Kami akan memperhatikan suara-Mu. Semoga Sabda-Mu mengobarkan hasrat kami untuk dengan sungguh-sungguh menaati Engkau.”[6]

Kehendak Tuhan dan mediasi manusia

6. Apa yang Tuhan kehendaki bagi kita sering kali disampaikan kepada kita melalui perantaraan orang lain. Pertama-tama, melalui Gereja, Tubuh Mistik Kristus. “Ketaatan adalah keputusan mendasar untuk menerima apa yang diminta dari kita, dan melakukannya sebagai tanda nyata dari sakramen keselamatan universal, yaitu Gereja.”[7] Tuhan juga dapat membuat kita melihat kehendak-Nya melalui orang-orang di sekitar kita yang telah menerima otoritas, kecil atau besar, tergantung pada konteks yang spesifik. Oleh karena kita tahu bahwa Tuhan dapat berbicara melalui orang lain, atau melalui peristiwa-peristiwa biasa, dengan keyakinan bahwa kita dapat mendengar suara Tuhan ini, maka akan terbentuk sikap taat (dalam diri kita) terhadap rancangan-Nya, yang juga dapat tersembunyi dalam perkataan orang-orang yang mendampingi kita di jalan hidup kita.

Santo Josemaría, dengan menyadari perlunya kepekaan khusus untuk memahami mediasi ini (mendengarkan suara Tuhan melalui orang lain, pria dan wanita biasa), memberi nasihat pada kita untuk mengembangkan sikap rendah hati, ketulusan dan keheningan batin. “Kadang-kadang Tuhan menyampaikan kehendak-Nya dengan bisikan jauh di dalam hati nurani kita; dan kita harus mendengarkan dengan seksama untuk mengenali suara-Nya dan mengikutinya dengan setia. Seringkali Dia berbicara kepada kita melalui orang lain. Namun, ada kalanya kita melihat kekurangan orang-orang itu atau memiliki keraguan apakah mereka memiliki informasi yang baik dan benar – apakah mereka sudah memahami seluruh aspek masalahnya – dan kita pun cenderung untuk tidak taat. Semua ini juga mempunyai makna ilahi, karena Allah tidak memaksakan ketaatan yang buta pada kita. Dia ingin kita taat dengan cerdas, dan kita pun harus merasa bertanggung jawab untuk membantu orang lain dengan kecerdasan kita. Tapi, hendaknya kita jujur pada diri kita sendiri: Mari kita teliti, dalam setiap kasus, apakah cinta akan kebenaran yang menggerakkan kita, atau keegoisan dan keterikatan pada penilaian kita sendiri.”[8]

7. Selain itu, kita perlu mengingat bahwa mereka yang berada di posisi otoritas di berbagai tingkatan, tidak ditunjuk karena mereka sempurna. Kita menuruti mereka yang berwenang bukan karena kualitas pribadi mereka. “Sayang sekali apabila orang yang berwenang tidak memberi contoh yang baik! Tapi, apakah engkau menaatinya oleh karena kualitas pribadinya? Atau apakah engkau dengan mudah menafsirkan kata-kata Santo Paulus, obedite praepositis vestris, ‘taatilah para pemimpin Anda,’ dengan syarat – asalkan mereka memiliki kualitas yang sesuai dengan harapan saya”?[9]

Ini juga bukan berarti bahwa mereka yang memberi petunjuk atau nasihat tidak boleh melakukan kesalahan. Mereka sangat menyadari mereka bisa berbuat salah dan, jika perlu, mereka akan meminta maaf. Dengan kecerdasan dan ketulusan serta dalam konteks iman dan kepercayaan supernatural, kita dapat menghadapi kemungkinan adanya kesalahan ini dengan cara yang tepat, tergantung pada materinya dan dalam bidang apa itu terjadi. Dan dengan kerendahan hati, karena sedikitnya kita juga perlu meragukan penilaian kita sendiri, kita bersedia berdialog dengan penuh kepercayaan dengan pihak yang berwenang, apa bila kita merasa telah terjadi kesalahan.

Santo Thomas menjelaskan bahwa ketaatan adalah kebajikan yang mendorong kita untuk memenuhi arahan sah dari mereka yang berwenang, karena ketaatan ini mewujudkan kehendak Tuhan.[10] Tentu saja, tidak semua arahan yang sah merupakan arahan yang terbaik. Namun demikian, ketaatan itu akan menjadi jalan menuju keberhasilan, karena terkadang Tuhan memberi nilai adikodrati yang lebih pada kerendahan hati dan persatuan daripada bahwa kita benar atau salah. Oleh karena itu pentingnya pandangan supernatural, untuk tidak berhenti pada evaluasi manusiawi semata atas arahan yang kita terima.

Bagaimanapun juga, mereka yang berwenang perlu memiliki sikap yang sangat lembut agar mereka tidak akan memaksakan kriteria mereka dan untuk mencegah supaya arahan atau nasihat mereka itu tidak ditafsirkan seolah-olah itu adalah ungkapan jelas dari kehendak Tuhan. Seperti yang telah saya tulis dalam surat saya tertanggal 9 Januari 2018: “Memberi arahan dengan rasa hormat terhadap jiwa-jiwa adalah, pertama-tama, dengan hati-hati menghormati privasi hati nurani, tanpa mencampur-adukkan kewenangan (government) dengan pendampingan rohani. Kedua, rasa hormat ini akan membuat kita dapat membedakan suatu arahan dari apa yang merupakan suatu anjuran, nasihat atau saran yang tepat. Dan yang ketiga (yang tidak kalah pentingnya), adalah perlunya menjalankan wewenang (to govern) dengan penuh kepercayaan pada orang lain sehingga kita selalu akan berusaha mempertimbangkan juga, sejauh mungkin, pendapat orang-orang yang terlibat” (no. 13 ).

Mari kita renungkan, pertama-tama, teladan Kristus. “Yesus menaati Santo Yusuf dan Bunda Maria. Tuhan datang ke dunia untuk taat, dan untuk menaati makhluk ciptaan.” [11] Peristiwa ini sangat signifikan, bahwa setelah Yesus memberi jawaban kepada orang tuanya di Bait Suci, “Aku harus mengurus perkara Bapa-Ku,” Santo Lukas menambahkan bahwa Yesus “erat subditus illis, ia tunduk pada mereka” (lih. Luk 2:49-51). Sering kali menuruti kehendak Tuhan, yang harus kita upayakan selalu dan dalam segala hal, dapat dilakukan dengan menuruti orang-orang (yang berwenang) dengan penuh kepercayaan

Ketaatan dan kebebasan

8. Sepanjang sejarah manusia, tidak ada tindakan yang lebih bebas dari pada penyerahan diri Tuhan Yesus di kayu Salib (lih. Yoh 10:17-18). “Tuhan menghayati titik puncak kebebasan-Nya di Kayu Salib, sebagai puncak dari cinta kasih-Nya. Ketika mereka berteriak di Golgota: 'Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari Salib,' Dia justru menunjukkan kebebasan-Nya sebagai Putra Allah dengan tetap berada di tiang gantungan itu, untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa yang penuh belas kasih sampai akhir.” [12]

“Salib”, tulis Santo Josemaria, “bukanlah kesedihan,kesebalan atau kepahitan. Di kayu salib suci inilah Yesus Kristus berjaya, dan di sanalah kita juga akan berjaya, bila kita menerima dengan sukacita dan murah hati apa yang Tuhan kehendaki bagi kita.”[13] Salib menunjukkan kepada kita dengan sangat jelas apa yang saya sebutkan di awal surat ini, yaitu bahwa kebebasan dan ketaatan tidak bertentangan karena sesungguhnya kita akan taat demi cinta dan kita hanya dapat mencintai dalam kebebasan. Lebih lagi, ketaatan Kristiani tidak hanya tidak bertentangan dengan kebebasan, namun juga merupakan penerapan dari kebebasan. “Saya adalah sahabat kebebasan, dan itulah sebabnya saya sangat mencintai kebajikan Kristiani ini,”[14] tulis Bapa Pendiri kita, merujuk pada ketaatan.

Selalu ada kemungkinan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan “karena saya mau,” demi cinta. Dan jika alasannya adalah karena cinta kepada Tuhan, maka “karena saya mau” ini adalah “alasan yang paling adikodrati,” kata Santo Josemaría. Oleh karena itu, “sangatlah keliru jika kita menganggap kebebasan itu bertentangan dengan penyerahan diri, karena penyerahan diri itu adalah suatu konsekuensi dari kebebasan.”[15]

9. “Cintailah dan lakukan apa yang kau kehendaki.”[16] Pernyataan Santo Agustinus yang terkenal ini (seperti yang beliau jelaskan sendiri) berarti bahwa mereka yang berbuat baik karena tergerak oleh cinta tidak bertindak hanya karena suatu kebutuhan atau kewajiban, karena libertas est caritatis, “kebebasan ada dalam cinta.”[17] Dengan demikian kita dapat memahami mengapa hukum Kristus adalah “hukum kebebasan yang sempurna” (Yak 1:25), karena semuanya diringkas, “direkapitulasikan” dalam cinta (lih. Rom. 13:8-9).

Dalam segala hal kita dapat bertindak secara bebas seperti Kristus dengan melakukan segala yang diperintahkan demi cinta. Oleh karena itu, “dalam menaati, kita harus mendengarkan (arahannya), karena kita bukanlah instrumen yang tak bernyawa atau pasif, instrument yang tidak bertanggung jawab atau tidak dapat berpikir. Dan kemudian, dengan kreativitas, dengan inisiatif, dengan spontanitas, kita mengerahkan segenap tenaga kecerdasan dan kemauan kita pada apa yang telah diperintahkan, pada segala yang telah diperintahkan, dan hanya pada apa yang telah diperintahkan. Jika tidak, itu akan menjadi anarki. Ketaatan dalam Opus Dei akan memupuk perkembangan seluruh nilai-nilai pribadi kita dan akan membantu kita untuk hidup, berkembang dan memperoleh kedewasaan yang lebih besar, dan semua ini tanpa kehilangan kepribadian kita masing-masing. Kita adalah orang yang sama pada usia dua tahun seperti pada usia delapan puluh dua tahun.”[18] (Mempunyai) Inisiatif itu tentu saja, tidak terbatas pada saat-saat ketika kita perlu menghayati ketaatan. Hendaknya kita juga selalu memberi usulan dan menyumbangkan kreativitas kita dimana pun kita berada, tanpa menunggu adanya indikasi/perintah atau arahan, namun semua itu selalu dalam kerjasama dengan pihak yang berwenang.

Santo Basilius Agung menyatakan bahwa ciri khas dari seorang anak adalah taat karena cinta: “Jika kita menjauhi kejahatan karena takut akan hukuman, maka kita memiliki sikap seorang hamba, atau jika kita mencari insentif dari pahala/bayaran (yang akan diterima) dari ketaatan, kita menyerupai serdadu bayaran, namun jika kita taat karena cinta kepada yang memberi perintah, maka kita memiliki sikap seorang anak.”[19] Taat karena cinta bukanlah suatu bentuk kerelaan (voluntarisme) yang mengabaikan kecerdasan kita. Sebaliknya, hal ini berarti mengerahkan seluruh kekuatan jiwa kita dengan menggunakan kecerdasan nalar kita sebaik mungkin untuk mencari yang baik, dan menggunakan kemauan yang kuat untuk melaksanakannya.

Faktanya, tanpa kecerdasan dan tanpa kebebasan – terutama tanpa kebebasan batin – tidak akan ada ketaatan manusia yang sesungguhnya. Apalagi ketaatan seperti ketaatan Tuhan Yesus. Sebagaimana Bapa Pendiri kita berkata, “Saya kira tidak mungkin ada ketaatan Kristiani yang sesungguhnya, kecuali ketaatan yang dilakukan secara bebas/sukarela dan bertanggung jawab. Anak-anak Allah bukanlah dari batu dan bukan pula seperti mayat yang tak bernyawa. Mereka adalah makhluk yang cerdas dan bebas, dan semua telah diangkat ke tatanan supernatural yang sama.”[20]

10. Namun kita mungkin bertanya-tanya: Bisakah kita taat tanpa memahami suatu hal, atau bahkan ketika berbeda pendapat mengenai hal tersebut? Tentu saja kita bisa. Dan dengan demikian – bahkan mungkin justru karena itu – apa yang diminta dari kita dapat dilakukan atas dasar cinta, dan dengan penuh kebebasan. Di sini, selain cinta, sering kali ada peran iman, yakni: Ketika saya taat tanpa memahami, atau saya taat walau tidak sependapat dalam menerima arahan dari orang yang bijaksana, yang dapat menilai lebih baik daripada saya sendiri; atau ketika saya menerimanya, setelah mempertimbangkan segala sesuatu dengan hati-hati, bahwa sebuah keputusan harus dibuat oleh orang yang berwenang. Ketaatan itu menjadi suatu tindakan iman, jika kita melihat rahmat Roh Kudus dalam keputusan itu dan dalam kesediaan kita untuk menerimanya.

Seperti yang diajarkan Santo Tomas, mengikuti Aristoteles, kemauan adalah kemampuan yang menggerakkan seseorang (untuk bertindak), meskipun demikian kehendak membutuhkan intelek untuk menunjukkan objek yang harus dipilih.[21] Dari hati muncul segala sesuatu yang baik dan segala sesuatu yang jahat (lih. Luk 6:45); seseorang dapat saja memutuskan untuk tidak ingin memahami, atau tidak ingin berdialog untuk lebih memahami suatu persoalan. Kehendak – seperti kita lihat dari pengalaman kita sendiri – dapat begitu mendominasi nalar hingga dapat memaksa intelek untuk menyangkal sesuatu yang terbukti secara obyektif. Namun, pada suatu saat kehendak bebas kita juga dapat memacu kecerdasan kita untuk menempuh jalan baru, tanpa harus memahami segalanya.

Jika pada suatu saat dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan, kita merasa kebingungan dan tidak mampu memahami segalanya, maka sangatlah bermanfaat bagi kita untuk merenungkan hidup Tuhan Yesus yang, dalam Kemanusiaan-Nya, juga mengalami penderitaan semacam itu. Dalam doa-Nya “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku” (Mat 27:46), Yesus menggenapi kata-kata nubuat dalam Mazmur 22. Tanggapan-Nya, dengan semangat kebebasan di tengah penderitaan-Nya, juga dipupuk oleh kata-kata dari Mazmur: “"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."(Luk 23:46, lih. Mzm 31:6). Ketaatan Yesus adalah tindakan silih atas ketidaktaatan Adam (lih. Rom 5:19). Seluruh hidup dan wafat-Nya adalah ketaatan kepada Allah Bapa dan adalah penyebab dari keselamatan kita (lih. Filipi 2:6-11).

Ketaatan dan rasa percaya

11. Ketaatan dan rasa percaya itu saling membutuhkan, sehingga bila kita memiliki keduanya dengan tulus, secara alami kita akan beralih dari satu ke yang lain. Ketika ada rasa percaya, konsultasi meminta penilaian orang lain dan, jika perlu, menjadikannya penilaian kita sendiri, merupakan suatu manifestasi yang normal dari keinginan untuk memilih yang terbaik. Sebaliknya, ketika rasa percaya itu melemah, ketaatan akan berisiko menjadi sesuatu yang bersifat eksternal, formal dan renggang. Oleh karena itu, untuk memfasilitasi ketaatan yang sehat, suasana kasih sayang dan niat baik sangatlah penting. Orang harus tahu bahwa mereka dicintai dan tidak dikendalikan, bahwa mereka didengarkan dengan baik, bahwa mereka merasa pendapat mereka dihargai. Semua ini akan memperkuat rasa kebebasan dan dengan demikian ketaatan.

Santo Josemaría menekankan bahwa rasa percaya adalah kunci untuk membangun persahabatan antara orang tua dan anak-anak: “Jika mereka tidak memiliki kebebasan, jika mereka melihat bahwa tidak ada seorang pun yang mempercayai mereka, anak-anak akan cenderung menipu orang tua mereka.”[22] Jika tidak ada kepercayaan, maka dengan segera timbullah jarak (dalam relasi) dan transparansi pun akan menghilang, karena suatu relasi yang intim itu rawan dan membutuhkan suasana yang aman untuk berkembang. Jika kita berusaha untuk mendapatkan suatu ketaatan eksternal saja, tanpa adanya persatuan kehendak, itu seperti membangun rumah di atas pasir (lih. Mat 7:26).

Dalam menciptakan suasana saling percaya, mereka yang menduduki posisi otoritas dalam keluarga atau kelompok mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Sesungguhnya, memupuk secara aktif suasana kepercayaan dengan semua bisa menjadi tugas pertama mereka. Sekaligus mereka harus merintis jalan dalam mencari kehendak Allah bagi diri mereka sendiri dan bagi misi mereka. Maka dengan saling mendukung, orang-orang juga akan mencari dan menemukan kehendak Tuhan. Bahkan (dalam Opus Dei) dengan adanya tata kelola, ̶ seperlunya saja, karena Opus Dei adalah suatu “organisasi yang tidak terorganisir”[23]) ̶ setiap orang harus tahu dan harus merasakan, seperti yang dikatakan Bapa Pendiri kita, bahwa mereka “bebas seperti burung-burung di udara.”[ 24]

Karena konteks rasa kepercayaan dan kehangatan suasana keluarga ini dibutuhkan, Santo Josemaría menyatakan bahwa perintah yang paling kuat dalam Opus Dei adalah “tolong”. Ini bukan sekadar soal terminologi, namun merupakan suatu tanda sikap alami di kalangan orang-orang yang dewasa, cerdas dan bebas dalam lingkungan keluarga. Terlebih lagi, kenyataan bahwa Opus Dei merupakan sebuah keluarga supernatural berarti bahwa iman dan kasih, bersama dengan rasa kepercayaan, merupakan fondasi sejati dalam menggunakan otoritas dan dalam menghayati ketaatan.

Ketaatan dan kesuburan karya apostolik

12. Tuhan kita “belajar taat melalui penderitaan-Nya; dan setelah disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan kekal bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr. 5:8-9). Karya keselamatan, sebagai buah dari ketaatan Kristus sampai mati di kayu Salib, juga memberi pencerahan akan hubungan antara ketaatan dan kesuburan karya apostolik dari hidup kita.

Kita sudah sering merenungkan peristiwa di mana Petrus taat kepada Tuhan Yesus. Meskipun dari sudut pandang manusiawi sangatlah tidak masuk akal (bagi Petrus) untuk mengikuti instruksi Tuhan Yesus: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (Luk 5: 4). Mari kita pertimbangkan hal ini perlahan-lahan. Betapa besar kebaikan yang didapat dari ketaatan Petrus terhadap kata-kata Tuhan ‘’Duc in altum!“ Betapa besar kekuatan ketaatan itu! Danau Genesaret tidak memberi hasil pada jala Santo Petrus. Semalaman sia-sia menjala. Kemudian, dengan taat, Petrus melemparkan jalanya lagi ke dalam air dan mereka pun menangkap piscium multitudinem copiosam, ikan dalam jumlah besar. Percayalah: mukjizat itu terulang setiap hari.”[25]

13. Dalam misi kerasulan, kita dapat dan harus mempunyai inisiatif pribadi yang luas, yang merupakan buah dari cinta kita kepada Allah dan sesama. Dan pada saat yang sama dibawah arahan yang berwenang, kita juga perlu menyelenggarakan begitu banyak kegiatan di pusat-pusat Opus Dei, dengan kesetiaan pada sarana yang diwariskan Bapa Pendiri kita. Kita melaksanakan semua ini tanpa melupakan bahwa sarana utama kita selalu adalah doa. “Doa, inilah kekuatan kita: Kita tidak mempunyai senjata lain.”[26]

Dalam tata kelola Opus Dei dan dalam organisasi karya kerasulannya, kita menghayati ketaatan dengan cara seperti dalam sebuah keluarga, dalam sebuah persekutuan. Berbicara tentang persekutuan antar manusia berarti berbicara tentang persekutuan dari kehendak bebas, persekutuan dari (banyak) inisiatif pribadi dari semua yang ingin “melaksanakan Opus Dei,” dan berarti juga persekutuan antar generasi. Keyakinan bahwa Tuhan berkarya di dalam hati setiap orang dan bahwa kita semua memerhatikan kehendak ilahi, akan membawa ketaatan dalam keluarga, di mana setiap anggota berupaya secara aktif membantu melaksanakan proyek bersama. Jika ketaatan dimengerti dan dihayati dengan cara ini, maka ketaatan itu merupakan suatu ekspresi dari kesatuan, kesatuan yang merupakan syarat untuk keberhasilan dalam karya kerasulan: ut omnes unum sint... ut mundus credat, agar semua menjadi satu, supaya dunia percaya ( Yoh 17:21).

Sementara menghormati dengan baik pembedaan antara pendampingan rohani dan kewenangan atas orang lain, kita selalu hidup dan bekerja dengan penuh rasa syukur yang besar atas panggilan Kristiani kita dalam Opus Dei, dan dengan mengembangkan kekayaan pribadi setiap orang dengan demikian kita semua dapat bekerja bersama sebagai sebuah tim dan sebagai keluarga.

Dengan berkembang dalam keutamaan ketaatan yang sejati kita akan terhindar dari sikap tidak mampu mendengar (orang lain) dan dari sikap seorang hamba yang hanya menurut tanpa menggunakan seluruh kekayaan batin yang telah Tuhan berikan kepada setiap orang. Santo Josemaría memperingatkan kita tentang kemungkinan-kemungkinan ini. Beliau mengatakan bahwa, di satu sisi, “sebagian besar dari ketidaktaatan muncul karena kita tidak tahu bagaimana 'mendengarkan' apa yang diminta, dan pada akhirnya ini adalah kurangnya kerendahan hati atau kurangnya minat untuk melayani.”[27 ] Di sisi lain, sebagai konsekuensi dari kesediaan untuk mendengarkan dengan sikap melayani, Santo Josemaria mengatakan bahwa “di Opus Dei kita taat dengan (menggunakan) nalar dan kemauan kita; tidak seperti mayat. Saya tidak dapat berbuat apapun dengan mayat; saya hanya akan memakamkan mereka dengan penuh kesalehan.”[28] Oleh karena itu, menaati bukanlah sekadar melaksanakan kehendak orang lain, melainkan bekerja sama dengan orang tersebut dalam kesatuan kemauan dan pemikiran.

Ketaatan yang cerdas dari Santo Yusuf

14. Dalam suratnya tentang Santo Yusuf, Paus Fransiskus membahas bagaimana “dalam setiap situasi, Yusuf menyatakan fiat (terjadilah) nya sendiri, seperti Maria dalam peristiwa Kabar Sukacita dan Tuhan Yesus di Getsemani.”[29] Ketika Santo Josemaría berbicara tentang ketaatan, beliau sering merujuk pada Santo Yusuf, karena menemukan dalam diri Santo Yusuf sebuah hati yang selalu mendengarkan, hati yang penuh perhatian kepada Tuhan dan juga penuh perhatian pada situasi dan orang-orang disekitarnya. Misalnya, ketika berbicara tentang perjalanan pulang dari Mesir, Bapa Pendiri kita menunjukkan bagaimana “iman Santo Yusuf tidak goyah; dia taat dengan segera dan sampai pada detilnya. Untuk memahami pelajaran Santo Yusuf dengan lebih baik, kita harus ingat bahwa Santo Yusuf memiliki iman yang aktif, dan bahwa ketaatan yang segera ditunjukkannya bukanlah suatu sikap tunduk yang pasif terhadap apa yang terjadi.”[30]

Dalam hal ini, Bapa Pendiri kita menghargai Santo Yusuf sebagai seorang pendoa yang menerapkan kecerdasannya dalam situasi yang harus dihadapinya: “Dalam berbagai situasi dalam hidupnya, Santo Yusuf tidak pernah berhenti berpikir, tidak pernah mengabaikan tanggung jawabnya. Sebaliknya, Santo Yusuf menggunakan seluruh pengalaman hidupnya untuk kepentingan iman. Dan demikianlah iman Santo Yusuf: Penuh kepercayaan dan total. Dan imannya terwujud dalam dedikasi yang efektif pada kehendak Tuhan dengan ketaatan yang cerdas.”[31]

(Dari situ) Kita dapat memahami mengapa Santo Josemaría menekankan perlunya belajar menjalankan ketaatan yang cerdas, yang terintegrasi dalam kebebasan pribadi, khususnya kita yang dipanggil untuk menjadi suci di tengah-tengah situasi dunia yang terus berubah dan penuh tantangan

Ketaatan Bunda Maria

15. Beberapa tahun terakhir ini devosi kepada Bunda Maria ‘Untier of Knots’ (Pengurai Simpul) telah menyebar ke seluruh dunia. Devosi ini mempunyai akar dari zaman kuno, karena pada awal abad ketiga Santo Ireneus dari Lyons telah menulis: “Hawa, karena ketidaktaatannya, mengikat simpul kemalangan bagi umat manusia; tetapi Maria, melalui ketaatannya, melepaskan ikatan itu.”[32] Betapa banyak simpul yang tampaknya mustahil untuk diuraikan di dunia dan dalam kehidupan kita akan terurai jika, seperti Bunda Maria, kita hidup sesuai dengan rencana Allah!

Bapa Pendiri kita menyatakan, “Dengan mengikuti teladan ketaatan Bunda Maria kepada Allah, kita dapat belajar melayani dengan kebebasan penuh. Dalam diri Bunda Maria kita tidak menemukan sedikit pun sikap gadis-gadis bodoh (dalam perumpamaan Injil) yang taat, namun tidak berpikir panjang. Bunda Maria mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki dengan penuh perhatian, merenungkan apa yang tidak dipahami sepenuhnya dan menanyakan apa yang belum diketahuinya. Kemudian Bunda Maria menyerahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak ilahi: ‘Aku ini hamba Tuhan, tejadilah kepadaku menurut perkataanmu.’ Bukankah itu hal menakjubkan? Bunda Maria, guru kita dalam segala hal, menunjukkan kepada kita bahwa ketaatan kepada Tuhan bukanlah sebuah perbudakan, dan ketaatan tidak akan mengabaikan hati nurani kita. Bunda Maria akan membantu kita menemukan, jauh di lubuk hati kita, kebebasan anak-anak Allah.”[33]

Jika suatu saat ketaatan tampaknya bertentangan dengan kebebasan, marilah kita berpaling kepada Bunda Maria. Bunda Maria akan memperoleh rahmat bagi kita untuk menemukan, dalam ketaatan sejati, kebebasan anak-anak Allah. Dan, seiring dengan kebebasan, sukacita.

Dengan penuh kasih sayang, berkat bagi kalian semua,

Fernando Ocáriz

Roma, 10 Februari 2024


[1] Lih. Cornelio Fabro, “A Teacher of Christian Freedom,” di L’Osservatore Romano, 2 Juli 1977. Lihat juga “The Primacy of Freedom.”

[2] Santo Josemaría, Doa kepada Roh Kudus, April 1934.

[3] Katekismus Gereja Katolik, no. 397.

[4] Santo Josemaría, Surat 38, no. 41. Berikutnya, semua kutipan yang tidak disebut penulisnya adalah kutipan dari Santo Josemaría.

[5] Benediktus XVI, Homili, 15 April 2010.

[6] Rosario Suci, Misteri Terang ke-4.

[7] Fransiskus, Pidato, 17 Februari 2022.

[8] Kristus yang Berlalu, no. 17.

[9] Jalan, no. 621.

[10] Lih. Santo Thomas Aquinas, Summa Theologica, II-II, q. 104 art. 1.

[11] Kristus yang Berlalu, no. 17.

[12] Benediktus XVI, Angelus, 1 Juli 2007.

[13] Tempa (Forge), no. 788.

[14] Kristus yang Berlalu, no. 17.

[15] Sahabat Tuhan, no. 30.

[16] Santo Agustinus, Dalam Epist. Ioannis ad parthos, VII, 8 (PL 35, 2033).

[17] Santo Agustinus, De natura et gratia, 65, 78 (PL 44, 286).

[18] Surat 11, no. 39.

[19] Santo Basil, Regulae fusius traktatae, prol. 3 (Hal 31, 895).

[20] Percakapan, no. 2.

[21] Lih. Santo Thomas Aquinas, Quaest. disp. De malo, q. VI: Intelligo enim quia volo; dan serupa dengan segala potensi dan kebiasaan yang ada.

[22] Percakapan, no. 100.

[23] Lih. Percakapan, no. 63.

[24] Surat 18, no. 38.

[25] Jalan, no. 629.

[26] Surat, 17 Juni 1973, no. 35.

[27] Alur, no. 379.

[28] Catatan dari pertemuan keluarga, 9 November 1964, di Vázquez de Prada, Pendiri Opus Dei (III), hal. 407.

[29] Fransiskus, Surat Apostolik Patris corde, 8 Desember 2020, no. 3.

[30] Kristus yang Berlalu, no. 42.

[31] Ibid.

[32] Santo Irenaeus, Adversus hæreses, III, 22, 4 (PG 7-I, 959-960).

[33] Kristus yang Berlalu, no. 1