Dokumen: Jalan Menuju Peringatan Satu Abad

Opus Dei akan merayakan peringatan satu abad pendiriannya dari tahun 2028-2030. Untuk mempersiapkan peringatan ini, kami mempersembahkan suatu dokumen dengan judul “Jalan Menuju Peringatan Satu Abad. Dokumen ini berisi gagasan untuk para umat anggota dan para sahabat Opus Dei untuk berrefleksi tentang 100 tahun ini dan bagaimana karisma Opus Dei dapat terus membawa kehidupan dalam Gereja dan dalam masyarakat.

Pada tanggal 15 November yang lalu, Bapa Prelat menyerukan agar para umat anggota Opus Dei dan para sahabat berpartisipasi dalam persiapan untuk rapat regional (Pekan Kerja) yang bertema: Menuju Satu Abad Opus Dei. Mendalami Karisma dan Memperbarui Keinginan Kita untuk Melayani Tuhan, Gereja, dan Masyarakat.[1]


Dokumen yang bisa diunduh (dalam Bahasa Inggris):

► Document in PDF (for mobile phones)

► Document in PDF (A4)

Document in ePub format (e-book)


Arti penting peringatan satu abad ini mengajak kita untuk bertanya bagaimana menanggapi tantangan-tantangan masa kini dengan semangat Opus Dei. Kita ingin merayakan ulang tahun satu abad Opus Dei di setiap tempat dengan menatap masa depan.

“Perayaan satu abad ini,” tulis Bapa Prelat, “akan berlangsung dari tanggal 2 Oktober 2028 hingga tanggal 14 Februari 2030, tanggal peringatan satu abad dimulainya karya Opus Dei wanita. Perayaan ini merupakan perayaan tunggal namun dengan dua tanggal, sebagai ekspresi dari persatuan (dalam Opus Dei). Saya berharap kita semua ikut serta dalam mempersiapannya” (pesan Bapa Prelat, 10 Juni 2021). Bagi kita yang merupakan bagian dari keluarga Opus Dei, peringatan ini akan menjadi kesempatan untuk menggali lebih dalam dengan terang iman dan dengan rahmat Tuhan, kebesaran kasih Tuhan yang telah memanggil kita semua. Ini juga merupakan suatu kesempatan untuk lebih mengapresiasi keindahan misi pelayanan Opus Dei dalam Gereja dan masyarakat.

Dokumen ini menawarkan beberapa gagasan yang dapat menginspirasi kita dalam melakukan refleksi peringatan satu abad ini sebagai pembuka dari abad kedua sejarah Opus Dei. Maksud dan tujuannya adalah mendorong kita semua untuk berpartisipasi dengan menyampaikan saran dan pengalaman, yang akan dipelajari oleh para peserta Pekan Kerja Regional yang akan datang. Kesimpulan dari Pekan Kerja ini akan menjadi bahan referensi yang penting bagi Kongres Umum Opus Dei di tahun 2025, dan akan menjadi panduan untuk persiapan peringatan satu abad tersebut.

Oleh karena itu, lebih dari sekadar merayakan, persiapan peringatan satu abad ini diharapkan dapat menghasilkan suatu gerakan untuk mendalami dan membantu kita memahami, mewujudkan, dan mengkomunikasikan semangat Opus Dei dengan lebih baik dalam melayani Gereja dan seluruh umat, pria dan wanita.

Peringatan satu abad ini merupakan sebuah kesempatan baru bagi kita untuk menemukan kembali hakikat keberadaan hidup kita, yakni Kasih Allah, yang telah memanggil kita dalam Putra-Nya, dengan karunia Roh Kudus, untuk menjadi anak-anak-Nya. Bapa Prelat mengingatkan kita akan hal ini beberapa tahun yang lalu: Kesetiaan seorang Kristiani adalah kesetiaan yang penuh dengan rasa syukur, karena kita tidak setia hanya pada suatu ideal, tetapi pada seorang Pribadi: Kepada Yesus Kristus, Tuhan kita. Dan kita masing-masing dapat berkata, Dia “mengasihiku dan menyerahkan diri-Nya untuk Aku” (Gal 2:20). Dengan mengetahui bahwa secara pribadi setiap orang dari kita dikasihi oleh Allah, kita akan tergerak oleh rahmat-Nya, untuk mencintai dengan setia dan tekun. Cinta yang penuh pengharapan akan apa yang akan Tuhan laksanakan dalam Gereja dan dunia melalui hidup kita, bahkan dengan kerapuhan kita (Pesan Bapa Prelat, 10 Juni 2021). Oleh karena itu, persiapan menuju tanggal peringatan ini akan mendorong kita untuk menjadi jiwa kontemplatif sejati di tengah dunia, dan yang semakin hari semakin kontemplatif.

Tantangan zaman kita

Peringatan satu abad ini, Bapa Prelat juga menegaskan, “adalah saat yang baik untuk mempertimbangkan tantangan-tantangan yang dihadapi Gereja dan masyarakat (saat ini) dan mempelajari bagaimana kita dapat berkontribusi dengan lebih baik” (pesan Bapa Prelat, 10 Juni 2021). St Josemaría mengajak kita untuk “mencintai dunia dengan penuh gairah.” St Josemaria mengacu pada dunia nyata di mana kita hidup, dengan segala kemungkinan dan kesulitannya. Dunia adalah realitas yang hidup, berkembang dan berubah. “Setiap generasi umat Kristiani harus menebus dan menguduskan zamannya” (Kristus yang Berlalu, 132). Mencintai dunia berarti mengenal dan memahami dunia. Oleh karena itu, peringatan satu abad ini mendorong kita untuk melihat dengan cermat masyarakat dan zaman kita agar dapat meneranginya dengan cahaya Injil.

Karisma Opus Dei saat ini berkembang di lingkungan yang jauh berbeda dalam banyak hal dengan lingkungan pada satu abad tahun yang lalu. “Perubahan kondisi historis – yang membawa modifikasi bagaimana masyarakat terbentuk – dapat membuat sesuatu yang dulunya layak dan patut, sekarang menjadi tidak berlaku lagi. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus bersikap kritis dan konstruktif, sehingga tidak memungkinkan timbulnya inersia yang melumpuhkan dan merugikan” (St. Josemaria, Surat 29, 18). Seiring dengan perubahan tantangan di setiap era, generasi-generasi yang mewujudkan semangat Opus Dei pun akan diperbarui, sehingga mereka dapat memberi respons kekinian yang membawa hidup terhadap tantangan-tantangan baru dengan semangat yang sama seperti para anggota pertama (Opus Dei).

Hendaknya kita merenungkan situasi pekerjaan, keluarga, relasi manusia, kebudayaan, keadilan, dan perdamaian saat ini, karena semua inilah yang harus kita kuduskan; dan juga mengenai tema-tema yang dalam beberapa tahun terakhir memerlukan perhatian khusus dan yang berdampak pada masyarakat, atau yang diperkirakan akan menjadi relevan dalam beberapa dekade mendatang.

Ini adalah soal memahami lebih baik, dari sudut pandang seorang putra Allah, bagaimana sebenarnya dunia, yang kita cintai dan ingin kita layani ini, dan apa yang dibutuhkannya. Kita perlu melihat segala yang baik di sekitar kita dan, pada saat yang sama, melihat juga begitu banyak aspek yang tidak sesuai dengan martabat manusia. Dengan kata-kata St Josemaría: Ini adalah soal bagaimana kita menerima semua yang baik, dengan “sikap positif dan terbuka terhadap semua perubahan yang saat ini terjadi dalam masyarakat dan dalam gaya hidup” (Furrow, 428); atau dengan kata lain bagaimana memperbarui dan meningkatkan keinginan kita untuk membawa pesan Kristus ke semua lingkungan, ke semua orang yang membutuhkannya.

Mari kita juga mempertimbangkan tantangan-tantangan Gereja saat ini, yang juga adalah tantangan kita semua: Sekularisasi dan bagaimana mewartakan kasih Allah di zaman ini; peran kaum awam dan keluarga dalam karya evangelisasi; dinamika antara tradisi dan pembaharuan; persatuan dan dialog; implikasi dari komunio gerejawi; dan seterusnya. Karisma yang dipercayakan Tuhan kepada St Josemaría berorientasi pada “melayani Gereja sebagaimana Gereja ingin dilayani” (sambutan St Josemaría pada peresmian Elis Center, 21 November 1965). Dengan mengenal dengan baik tantangan-tantangan Gereja di setiap negara dan di Gereja universal, kita akan memperkuat kesediaan kita untuk misi ini.

Menemukan lagi karunia Roh Kudus

Dalam pesannya tanggal 10 Juni 2021, Bapa Prelat mengusulkan agar masa ini menjadi masa refleksi tentang “identitas, sejarah dan misi kita” dengan menatap masa depan dan dengan keinginan untuk pembaruan diri.

Awal dari masa persiapan untuk peringatan satu abad Opus Dei ini bertepatan dengan diterbitkannya Motu Proprio “Ad charisma tuendum”. Dengan motu propio ini Bapa Suci mendorong kita untuk memusatkan perhatian kita pada karunia (Opus Dei) yang Tuhan berikan kepada St. Josemaria, agar kita dapat menghayatinya sepenuhnya. Bapa Paus Fransiskus menghimbau kita untuk menjaga karisma Opus Dei “, untuk mempromosikan karya evangelisasi para anggota Opus Dei” dan, dengan demikian, “untuk mewartakan panggilan menuju kesucian hidup di dunia, melalui pengudusan pekerjaan, keluarga dan kehidupan masyarakat.” Pesan Opus Dei yang St Josemaria sampaikan karena kehendak Tuhan, memiliki daya tarik yang luar biasa, dan memiliki penerapan yang tidak ada batasnya, dengan demikian mendorong kreativitas.

Dalam mencari teks-teks yang dapat membantu untuk refleksi persiapan Pekan Kerja ini, terlintas dalam pikiran kita banyak tulisan St. Josemaría yang mengembangkan aspek-aspek dari karisma Opus Dei. Di antara banyak tulisan, kita disarankan untuk menggunakan tiga surat St Josemaria ini:

Yang pertama adalah Surat 29,[2] yang ditulis untuk menguraikan aspek-aspek misi para anggota dan para sahabat Opus Dei di dalam karya pengudusan dunia dan hidup perkawinan dan keluarga. Misi ini adalah seruan kepada seluruh umat Kristiani untuk berpartisipasi bersama Yesus Kristus dalam karya penebusan, untuk tidak bersikap acuh tak acuh, untuk menjadi seperti ragi dalam adonan, untuk menjadi “ragi yang akan membuat manusia menjadi ilahi dan, dengan menjadikan mereka ilahi, mereka pun menjadi sungguh manusiawi” (no. 7).

Yang kedua adalah Surat 6,[3] yang membahas berbagai aspek semangat Opus Dei. St Josemaría membahas tema yang berbeda-beda, namun dengan benang merah semangat spesifik (Opus Dei) yang beliau wartakan, yang berakar dalam Injil dan kesamaan dengan hidup umat Kristiani perdana.

Yang ketiga adalah Surat 4, [4] yang membahas tentang cinta kasih dalam pewartaan iman. St Josemaría menjelaskan bagaimana dialog evangelisasi dengan semua orang, pria dan wanita, yang ingin mengenal iman Gereja harus dilaksanakan dengan menggabungkan semangat memahami dan menghormati kebebasan hati nurani dengan kesetiaan pada Iman Gereja.

Mencermati dengan penuh perhatian konteks di mana kita hidup, dan berbagi refleksi dengan orang lain, akan menempatkan kita pada posisi yang lebih baik untuk mencari cara-cara yang tepat untuk mengkomunikasikan dengan kata-kata dan dengan hidup kita, pesan Kristiani dan semangat Opus Dei. Justru karena semangat Opus Dei bersifat sekulir, semangat Opus Dei dapat menjembatani dialog di bidang pekerjaan, keluarga, hubungan interpersonal, lingkungan hidup, ilmu pengetahuan, dunia seni dan politik: Bak tangan yang diulurkan kepada semua orang yang ingin mencari kebenaran, semua yang ingin mempromosikan martabat manusia dan martabat makhluk ciptaan, dan semua yang ingin berbuat baik serta menciptakan yang hal-hal yang indah.

Dalam menghadapi situasi yang kompleks dan perubahan-perubahan yang semakin cepat, kata-kata St. Agustinus masih berlaku hingga saat ini: “(Ini adalah) Masa-masa buruk, masa-masa yang sulit, kata orang terus menerus; tetapi marilah kita hidup dengan baik, dan masa-masa itu akan menjadi baik. Kita adalah zaman kita! Bagaimana kita, begitulah juga zaman kita.” (Khotbah 80:8). Jadi, pertama-tama pembaharuan yang harus kita cari adalah pembaharuan diri kita sendiri. Untuk membawa dunia lebih dekat kepada Tuhan, pertama-tama kita harus berusaha untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya, menjadi kontemplatif dalam kehidupan sehari-hari.

Dulu, sekarang dan masa depan

Perayaan satu abad ini menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan; menyatukan rasa syukur dan harapan, permohonan ampun dan rahmat. Paus St. Yohanes Paulus II, pada akhir Yubileum tahun 2000 mendorong kita untuk memandang masa lalu dengan rasa syukur, menjalani masa kini dengan penuh semangat, dan menatap masa depan dengan pengharapan: “Duc in altum” (Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 1). Dengan cara yang sama pada hari perayaan tertentu, Beato Alvaro berdoa: “Terima kasih; ampuni aku; dan bantulah aku lebih banyak lagi.” Doa ini dapat menjadi inspirasi untuk perayaan ulang tahun seabad Opus Dei.

Inilah saat untuk bersyukur, dengan mengakui anugerah Tuhan yang berupa karisma Opus Dei, atas hidup Bapa Pendiri kita, dan atas begitu banyak rahmat yang diterima selama bertahun-tahun. Terima kasih juga kepada semua yang telah berupaya menghayati semangat Opus Dei di lingkungan masing-masing. Dan juga ucapan terima kasih kepada orang-orang dan lembaga-lembaga yang telah mendampingi kita selama ini: Orang tua dan keluarga umat anggota Opus Dei, pria maupun wanita yang bekerja sama dengan St. Josemaría, umat Katolik dan non-Katolik yang dengan murah hati membantu atau telah membantu Opus Dei di seluruh dunia. Kami juga ingin memberi perhatian khusus kepada semua orang yang pernah menjadi bagian dari keluarga ini di suatu saat dalam hidup mereka selama seratus tahun pertama ini. Mereka memiliki suatu ikatan khusus dengan kita.

Bersamaan dengan rasa syukur, ini juga adalah waktu untuk memohon maaf: Atas keterbatasan pribadi dan kolektif kita, atas kelalaian kita, dan atas kerugian yang mungkin telah kita timbulkan. Kenangan masa lalu harus membawa pada penemuan kembali asal-usul dan esensi karisma Opus Dei, originalitas dan nilainya, juga untuk mendalami sejarahnya, orang-orang dan momen-momen konkrit, dengan terang gelapnya: Sejarah – baik sejarah pribadi maupun institusional – adalah bagian dari identitas.

Pada akhirnya, masa ini akan menjadi masa penuh harapan, dengan keyakinan akan rahmat Tuhan dan pada kekuatan karisma Opus Dei yang selalu mengikuti zaman untuk menerangi realitas yang paling kompleks di zaman ini dan di masa depan. Kita percaya pada kuasa Roh Kudus, bukan pada kekuatan kita sendiri. Dengan demikian, kita juga mempersiapkan diri untuk menyambut Yubileum Gerejawi tahun 2025, yang adalah yubileum pertama di milenium ketiga. Temanya adalah “Peziarah Pengharapan” (Paus Fransiskus, Surat kepada Uskup R. Fisichella untuk Yubileum 2025, 11 Februari 2022).

Mendalami karisma Opus Dei mempunyai suatu dimensi individual yang secara langsung akan mempengaruhi hidup setiap orang. Namun, ini juga mempunyai dimensi institusional yang akan mempengaruhi insiatif (apostolik) yang berbeda-beda yang dengan rahmat Tuhan dilaksanakan oleh para anggota Opus Dei, selama beberapa dekade ini.

Dalam mempelajari insiatif-inisiatif tersebut, pertanyaan kuncinya adalah bagaimana setiap orang dapat memberi kontribusi Kristiani yang signifikan di bidangnya: Bidang pendidikan, kesehatan, (pengentasan) kemiskinan, program kaum muda, keluarga, bidang komunikasi dan lain-lain, sehingga setiap orang dapat mewartakan Injil secara luas dan mendalam. Hendaknya setiap orang yang terlibat dalam inisiatif itu mempelajari asal usulnya dan menemukan cara untuk membuat tujuan profesional dan kerasulan dari inisiatif itu bersinar lebih cemerlang. Inisiatif itu harus terus maju dengan komitmen baru, yang mungkin akan melibatkan perubahan arah jika kebutuhan sosial yang mendasarinya telah berubah, atau mungkin perlu menutup suatu tahap untuk memungkinkan dimulainya tahap lain yang lebih sesuai dengan tuntutan Gereja dan masyarakat pada saat ini.

Hal ini memerlukan pemahaman tentang identitas dan sejarah dari setiap inisiatif, transparansi, dan upaya untuk mengembangkan narasi uniknya. Dalam upaya ini, ada gunanya mendengarkan pendapat para alumni, keluarga yang dilayani dalam program itu, dan juga orang-orang yang ikut serta dalam pelaksanaannya.

Di antara mereka yang paling membutuhkan

Peringatan seabad ini, sebagaimana Bapa Prelat mengingatkan kita, adalah sebuah kesempatan baru untuk “mengenal kasih Allah dalam hidup kita dan membawanya kepada semua orang, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan” (Pesan, 10 Juni 2021).

Kita menemukan Kristus dalam Sabda yang telah diwahyukan, dalam sakramen-sakramen dan juga dalam hal-hal lain, khususnya dalam diri para orang miskin. Paus Fransiskus mengatakan: “Kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam diri orang miskin, untuk memberi suara pada perjuangan mereka, tetapi juga untuk menjadi sahabat mereka, untuk mendengarkan mereka, untuk berbicara mewakili mereka dan untuk menerima kebijaksanaan ilahi yang ingin Tuhan sampaikan melalui mereka” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 198). St Josemaría selalu mengenang bahwa beliau menemukan kekuatan untuk melaksanakan Opus Dei dari para orang miskin dan orang sakit dan bahwa St Josemaria mengandalkan doa mereka sebagai doa yang paling berharga.

Apapun situasi kita, akan selalu ada orang-orang yang berkebutuhan di sekitar kita. Cinta kasih yang menggerakkan kita untuk peduli kepada mereka mempunyai kaitan yang erat dengan kesadaran bahwa kita semua membutuhkan Tuhan dan membutuhkan orang lain, dan membawa kita untuk melepaskan diri dari belenggu yang mengikat kita pada kepentingan pribadi saja. Semangat kemiskinan mengingatkan kita bahwa harta kita adalah Tuhan dan dalam hubungan interpersonal. Dan untuk hidup penuh sukacita dan kemurahan hati, kita harus dengan sungguh-sungguh hidup lepas bebas dari benda-benda materiil di tengah masyarakat konsumeris saat ini. Seperti yang dikatakan St Josemaría: “Seorang teman kita pernah berkata: ‘Orang miskin adalah buku spiritual terbaik dan motif utama dari doaku. Sungguh menyakitkan melihat penderitaan mereka, dan di dalam diri mereka, melihat Kristus sendiri. Dan karena menyakitkan, aku sadar aku mencintai-Nya dan mencintai mereka’” (Furrow, 827).

Melalui pekerjaan profesional dan kegiatan sehari-hari, kita dapat berkontribusi dalam menyebarkan kasih Allah kepada mereka yang paling membutuhkan. Dunia keluarga, pekerjaan dan hubungan sosial membutuhkan kesaksian akan kolaborasi, saling mendukung dan penghematan demi kepentingan orang lain, saudara dan saudari kita. Dan semua ini sesuai dengan cara sekulir kita mengikuti teladan Yesus. Gaya hidup kita merupakan pusat dari evangelisasi yang kredibel.

Perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan yang sekarang telah dicapai umat manusia di bidang teknologi, keuangan, dan komunikasi membawa sejumlah besar sumber daya yang membantu menghilangkan kesenjangan dan mengurangi adanya kekurangan pangan, kasih sayang, perumahan, pekerjaan, pendidikan, hak asasi, kesehatan, dan kebebasan. Kekurangan-kekurangan itu kita pandang sebagai pengingkaran terhadap sesuatu yang layak bagi martabat manusia dan tatanan hidup bermasyarakat yang baik dan benar. Tantangan-tantangan individual dan sosial, yang bersifat global dan kompleks ini, memerlukan “kreativitas dalam kasih” yang baru (Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 50), yang karena dekat dengan mereka yang menderita, akan berkontribusi pada perkembangan integral dari setiap pribadi, sehingga hal ini menjadi ekspresi dari kasih sayang Tuhan terhadap kita.

Bapa Pendiri kita menyatakan bahwa “seseorang atau masyarakat yang tidak bereaksi terhadap penderitaan dan ketidakadilan, serta tidak melakukan upaya untuk meringankannya masih jauh dari kasih hati Kristus” (Christ is Passing By, 167). Saat ini, menjelang peringatan seratus tahun Opus Dei, kita mendapat suatu “kesempatan khusus untuk merevitalisasi karya pelayanan kita kepada mereka yang membutuhkan secara pribadi maupun kolektif, dengan kesadaran yang lebih besar akan pentingnya hal ini sesuai dengan pesan St. Josemaría” (Prelat Opus Dei di konferensi Be to Care, 29 September 2022). Kutipan dari pidato Bapa Prelat ini menawarkan unsur-unsur yang berharga untuk merenungkan kembali karya amal dan pelayanan kita.

Dalam tahun-tahun persiapan seabad Opus Dei ini, kita dapat merefleksikan dimensi sosial dari panggilan Kristiani, relevansi dan ruang lingkup dari ajaran sosial Gereja, dan konsekuensi dari pengudusan pekerjaan dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan Kristiani. Kita juga dapat mempertimbangkan kemungkinan dampak sosial dari peringatan satu abad ini sebagai suatu ungkapan nyata rasa syukur kita atas karunia yang telah kita terima.

Tuhan memperbarui segala sesuatu (Wahyu 21:5)

Yang paling muda akan memiliki peran yang besar,” kata Bapa Prelat dalam pesannya tanggal 10 Juni 2021. Merekalah yang akan membawa pesan St Josemaria ke abad mendatang. “Segalanya telah dilaksanakan namun segalanya juga masih harus dilaksanakan,” kata St Josemaría.

Masa muda bukanlah sekedar fakta biologis. Ini adalah sifat yang dapat dipertahankan seiring berjalannya waktu. “Jadi kami tidak putus asa. Sekalipun sifat lahiriah kita semakin merosot, namun sifat batiniah kita senantiasa diperbarui” (2 Kor. 4:16). Rahmat Allah akan memperbaharui kita jika kita membuka diri terhadapnya. Dan Tuhan memperbaharui dunia, segala sesuatu, semua lingkungan hidup, melalui kerjasama umat Kristiani yang ingin menjadi duta rahmat-Nya.

Pada kesempatan peringatan 25 tahun Opus Dei, St Josemaría mengundang kita untuk “memperbarui kesetiaan pada panggilan ilahi, untuk menjadi penabur sukacita dan damai di dunia” (Surat Natal, Desember 1952). Kini, menjelang ulang tahun yang keseratus ini, kita dapat menemukan kembali keindahan karisma pendirian Opus Dei dan merenungkannya, menghayatinya serta mewartakannya dengan kesetiaan, kreativitas, dan sukacita dalam Gereja dan dunia saat ini, baik secara pribadi maupun secara institusional. Dengan demikian, kita merespons seruan Bapa Paus Fransiskus, yang telah mengajak kita sejak awal masa kepausan beliau untuk memulai ‘babak baru dalam karya evangelisasi yang ditandai oleh sukacita. (Surat apost Evangelii Gaudium, no. 1).

Kepada Bunda Maria, Pohon sukacita kami, dan St Yosef, model kesetiaan, kita mempercayakan jalan menuju peringatan satu abad Opus Dei ini.


[1] “Josemaría Escrivá menetapkan Rapat Regional atau Pekan Kerja di Opus Dei sebagai instrumen untuk refleksi, partisipasi dan untuk mendengarkan para anggota Opus Dei. Sejak awal Pekan Kerja ini bersifat konsultatif dan merupakan saluran bagi setiap orang untuk mengekspresikan pendapat mereka mengenai tema-tema yang berkaitan dengan semangat dan cara mewartakan Opus Dei ke seluruh dunia” (José Luis González Gullón, “The Weeks of Work in tahun-tahun dasar,” Studia et Documenta 17, 2023, hal.268).

[2] Studi dan Dokumentasi no. 17 (2023): 279–351 (https://www.isje.org/setd/2023/SetD-17-2023-10-CANO.pdf).

[3] Josemaria de Balaguer, Kumpulan Surat (II), Scepter (2023): Surat no. 6.

[4] Josemaria de Balaguer, Kumpulan Surat (I), Scepter (2022): Surat no. 4