Angka dan Fakta Kanonisasi St Josemaria

Peringatan Kanonisasi sepuluh tahun yang lalu

Roma, 6 Oktober 2002

Sri Paus Yohanes Paulus II merayakan upacara kanonisasi bersama dengan 42 kardinal, uskup agung, uskup dan imam. Diantaranya Prefek Kongregasi Orang Suci, Kardinal Jose Saraiva Martins; Uskup Agung Madrid, Antonio Maria Rouco Varela; anggota Kuria Romawi, Kardinal Sodano, Kardinal Ruini, Kardinal Meissner dan Kardinal Etchegaray. Juga Uskup Barbastro, kota kelahiran Santo Josemaria, Mgr. Omella dan Prelat Opus Dei, Mgr. Javier Echevarria.

Panti Iman Lapangan Basilika Santo Petrus

Di sebelah kiri Altar hadir lebih dari 400 tokoh Gereja, kardinal, uskup agung dan uskup. 50 uskup dari Afrika, 52 dari Spanyol dan 55 dari Italia datang ke Roma disertai oleh peziarah dari negara masing-masing. Juga hadir Uskup Agung Moskow, Mgr Kondrusievic; Uskup Agung Lebanon dari ritus Maronite, Uskup Kasdim dan 2 orang uskup dari Kuba. Tampak pula pimpinan dari berbagai lembaga gerejawi, misalnya,  Superior Jenderal dari Fraternità Sacerdotale dei Missionari di san Carlo Borromeo. Mgr. Camisasca, Pendiri Neocatechumenate, Kiko Arguello, Carmen Hernandez dan Pendiri  Community of Sant'Egidio, Andrea Riccardi. Dan beberapa anggota tarekat religius seperti misalnya superior dari Ordo Minor Fransiskan, Ordo Mercedarios, Suster-suster Cinta Kasih Yesus, suster-suster Ordo St Brigit, dll.

Dari otoritas sipil Italia yang hadir adalah Wakil Ketua Kabinet, Ketua Parlemen dan Menteri Dalam Negeri, Kepala Daerah Lazio, Gubenur Provinsi Roma (Silvano Moffa) dan Walikota Roma (Walter Veltroni) dll.

Delegasi resmi dari Pemerintah Spanyol dipimpin oleh Menteri Luar Negeri. Tokoh-tokoh lain termasuk: Mantan Ibu negara dari Kenya, Lech Walesa dari Polandia. Juga tokoh-tokoh dari dunia olahraga dan budaya.

Kaum muda 

Panitia Penyelenggara memperkirakan lebih dari 80.000 mudika hadir, 2.000 diantaranya adalah suka- relawan yang bekerja dibawah Panitia Penyelenggara. Peserta yang termuda dalam upacara kanonisasi itu adalah Maria Ngwengeh Amungwa yang lahir pada tanggal 22 September 2002 di Yaoundé, Kamerun. Maria dibawa oleh orang tuanya, Athanasius dan Veronique, ke Roma pada ­tanggal 4 October 2002.                                                 

Lansia

Peziarah yang tertua adalah Romo Quirino Glorioso dari keuskupan Laguna (Filipina) yang berusia 99 tahun. Romo Quirino bercerita bahwa para umat yang mengetahui tentang devosinya pada Santo Josemaria, mengumpulkan dana untuk biaya perjalanannya ke Roma, "Kalau tidak, saya tidak mungkin dapat datang ke Roma. Saya sangat berbahagia dapat memenuhi impian saya untuk bertemu Bapa Paus dan berpartisipasi dalam kanonisasi Josemaria Escriva”. Dia menambahkan, "Usia Josemaria 100 tahun dan dia sudah menjadi orang suci; saya sudah 99 tahun dan masih seperti ini ..." Kardinal Adam Kozlowiecki, seorang Jesuit, yang lahir di Polandia pada tahun 1911 dan yang sekarang tinggal di Zambia juga hadir dalam perayaan itu.

Teresa Funes, 82 tahun, menempuh 1.800 kilometer dari desa Baza, Spanyol ke Roma dengan bis . "Saya ingin sekali pergi ke upacara kanonisasi Josemaria Escriva, tetapi saya tidak mengungkapkan keinginan saya, " katanya. Tetapi anak-anaknya memberi ‘surprise’ dan mengatur perjalanan baginya. "Di bus, saya mengikuti petunjuk dokter untuk perjalanan jauh ini: menggerakkan jari tangan dan kaki, beristirahat setiap dua setengah jam untuk berjalan-jalan agar jantung dan kaki bisa terus berfungsi dengan baik .... "

Rasa Syukur

Ada banyak juga orang yang datang untuk berterima kasih kepada Santo Josemaria, karena mereka telah sembuh berkat perantaraan doanya. Shirley Sangalang (Filipina), misalnya, pulih dari infeksi telinga yang serius; Gabriela Hernández-Fumaro (New York), yang baru berusia 5 tahun dan tiba-tiba sembuh dari reaksi alergi terhadap vaksinasi; Nelson Shack, dari Peru, sembuh dari kelumpuhan akibat cedera di tulang belakang setelah mengalami kecelakaan.

Duta Besar Guatemala untuk Takhta Suci, Acisclo Valladares Aycicena, dan Virginie Arsm dari Belanda, menghadiri upacara kanonisasi karena dengan perantaraan Josemaria Escriva mereka selamat dari kecelakaan mobil yang serius.

Dari Dekat dan dari Jauh

Mark Gardiner bersama 8 orang lainnya, diperkirakan telah menempuh 18.580 kilometer untuk mencapai kota Roma dari Wellington, Selandia Baru. Mungkin ini adalah perjalanan yang paling panjang diantara para peziarah. Sedangkan Francesco Russo, yang tinggal di Borgo Santo Spiritu di Roma, hanya berjalan 20 meter ke Lapangan Santo Petrus.

Relawan tim medis 

Sekitar 150 sukarelawan dari Libera Università Kampus Bio-Medico Roma membantu dengan pelayanan medis di Ospedale Santo Spirito.Di antara mereka ada banyak dokter dan perawat, juga mahasiswa di tahun terakhir Fakultas Kedokteran dan Keperawatan.

Aneka ragam inisiatif untuk menutup biaya 

Bagi kebanyakan peziarah yang datang ke Roma biaya perjalanan adalah beban finansial yang berat. Dari desa Valle de Canete di Peru, di mana devosi pada Santo Josemaría telah tersebar luas, Aldegunda Chumpitaz menjelaskan bahwa setiap orang dari 300 peziarah yang datang harus bekerja keras dan setiap orang harus menjual 7.000 buah ‘picarones’ (picarones adalah kue khas dari Peru) untuk itu.

Miguel Chigüichón adalah tukang kebun dari Guatemala. Dia bekerja ekstra mencuci mobil dan membersihkan rumah setiap Sabtu sore selama 7 bulan. Dengan uang yang diperolehnya, ia dapat menutup biaya perjalanan ke Roma.

Natividad dan Javier Isorna dari Santiago de Compostela (Spanyol) memiliki keluarga besar. Untuk membiayai perjalanan mereka ke Roma, mereka membuat "tabungan keluarga". Anggota keluarga menaruh di dalam tabungan ini semua upah yang diperoleh dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang mereka lakukan beberapa bulan sebelum kanonisasi. Chus yang berumur 16 tahun bercerita bahwa proyek ini berhasil, "Bapak membuat filloas (hidangan khas Galatia) untuk dijual dan, Ibu membikin biskuit. Anak-anak mencari uang dengan memberi les privat, sedangkan saya sendiri bekerja untuk membantu seorang lansia, dan pada akhir pekan saya dengan adik bekerja menjaga anak-anak kecil pada perayaan dan resepsi, dll. "

Dari agama-agama lain 

Pada tahun 1950, Takhta Suci menyetujui Opus Dei menerima umat non-Katolik sebagai kooperator. Sejak saat itu, banyak orang-orang Kristen dan umat dari agama-agama lain, berkolaborasi dengan kegiatan Prelatur Opus Dei. Di Lapangan Santo Petrus hadir banyak representasi, antara lain: Hinrich Bues, Pendeta Protestan, Alik Zorin, seorang penyair Rusia dengan satu grup umat Ortodoks Rusia, Tapio Aho-Kallio, guru agama Luteran di sebuah sekolah Helsinki, Finlandia dan umat Lutheran yang datang dengan grup dari Swedia dan Norwegia, Gary Chu, seorang pelukis Cina, dan pasangan Anglikan dari Nigeria (Bapak dan Ibu Ghenro dan Funso Adegbola), dll

Penduduk Roma Menampung Peziarah 

Lebih dari 950 penduduk Roma bergabung dengan "Welcome Home" Program” – yaitu kelompok keluarga yang membuka pintu rumah mereka untuk menampung peziarah atau keluarga-keluarga yang tidak mampu, yang telah terdaftar oleh Panitia Penyelenggara. 

Komuni Kudus

1.040 imam memberi Komuni Kudus di Lapangan Santo Petrus, di Lapangan Pius XII dan di Via della Conciliazione.

Karangan Bunga

Tangga menuju Basilika Santo Petrus dihiasi dengan bunga- bunga dari Ekuador, yang disumbangkan oleh José Ricardo Davalos, seorang floriculturis yang berdevosi kepada Santo Josemaria. Ekuador adalah salah satu negara eksportir bunga yang utama di dunia. Ribuan tangkai bunga tiba dari Ekuador. Juga, sebuah koperasi Italia, Il Camino berkolaborasi dengan 7.000 tangkai bunga mawar, anyelir dan anturium untuk rangkaian bunga di samping altar. Di antara 25 orang yang mendukung usaha ini adalah Jürgen Kluempen, seorang pengusaha Belanda. Dia merawat bunga-bunga yang tiba di Amsterdam dari Ekuador dan mengangkut ke Roma dengan gratis. Sekitar 200 tangkai waratahs, bunga merah khas dari Australia ditempatkan di samping jenazah Josemaria Escriva di Basilika Santo Eugenio.

Makanan

Menurut Panitia, 55.000 peziarah pesan makanan bungkus untuk makan siang di sekitar lapangan Santo Petrus. Setiap paket berisi 2 ‘sandwich’, sebotol minuman, buah dan makanan penutup. Untuk mengurangi biaya makanan, perusahaan Fiorucci menyumbangkan 30.000 irisan ham; Interpan, 35.000 roti tawar; Ferrero, 15.000 dessert, dan Peroni, 40.000 kaleng bir.

Dermaga Santo Josemaria di Pelabuhan Civitavecchia

Pada tanggal 6 Oktober sebuah dermaga di pelabuhan Civitavecchia di luar kota Roma diberi nama ‘Dermaga Santo Josemaria’. Di sana lebih dari 10.000 peziarah kanonisasi dari berbagai kota di sekitar Laut Tengah tiba dengan kapal yang berlabuh di Civitavecchia. Acara pemberian nama dimulai dengan upacara resmi diikuti dengan pertunjukan internasional oleh para penumpang kapal dari berbagai negara.

Sumber : www.josemariaescriva.info/canonization