​Sesuatu yang Hebat Itu Cinta (IV): Lebih banyak ibu dan ayah daripada sebelumnya

"Misi orang tua tidak terbatas untuk menyambut kedatangan anak-anak yang Tuhan berikan kepada mereka. Tugas mereka berjalan seumur hidup dan surge adalah tujuan tugas tsb." Artikel baru dalam rangkaian panggilan.

Opus Dei - ​Sesuatu yang Hebat Itu Cinta (IV): Lebih banyak ibu dan ayah daripada sebelumnya

Ibu dari Yakobus dan Yohanes sangat ingin berbicara dengan Yesus. Dengan penuh keyakinan, dia berlutut di hadapan-Nya dan mengatakan dia ingin meminta sesuatu kepada-Nya. Yesus menjawab: "Apa yang kau kehendaki ?" Dia langsung ke intinya: Berilah Perintah, supaya kedua anakku boleh duduk kelak dikerajaanMu, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu (Mat 20:21). Yesus mungkin tersenyum pada keberanian permintaan ibu ini. Tetapi segera Dia akan memberi putranya lebih banyak daripada yang bisa dia impikan. Dia akan memberi mereka tempat tinggal di hatinya dan misi universal dan kekal.

Gereja, yang saat itu baru saja dimulai, sekarang ini ia mengalami dorongan kerasulan baru. Melalui Paus Roma baru-baru ini, Tuhan kita memanggilnya untuk “evangelisasi yang terus diperbarui” [1] —salah satu ciri dominan dalam perikop dari milenium kedua hingga ketiga. Dan keluarga memainkan peran kunci dalam petualangan ini. Para ibu, ayah, kakek-nenek adalah protagonis: mereka ada di garis depan evangelisasi. Keluarga “adalah tempat pertama di mana Cinta Tuhan hadir dalam hidup kita, melampaui apa pun yang dapat kita lakukan atau tidak kita lakukan.” [2] Dalam keluarga kita belajar bagaimana berdoa, dengan kata-kata yang akan kita pakai terus dalam hidup kita; dalam keluarga cara kita memandang bagaimana dunia dan orang lain terbentuk. [3] Rumah itu disebut sebagai lingkungan yang tepat, tanah yang subur di mana Tuhan dapat menanam benihnya, sehingga dapat berbuah dan menghasilkan dalam satu kasus seratus kali lipat, yang lain enam puluh kali, dan sementara yang tiga puluh kali lipat (Mat 13:23).

Orang tua para kudus

Santo Josemaria masih seorang imam muda ketika Tuhan kita menunjukkan kepadanya panorama kekudusan yang besar yang dirintis oleh Opus Dei di dunia. Dia menyadari bahwa dia tidak dapat menunda misi ini dan meminta direktur spiritualnya untuk membiarkan dia melakukan lebih banyak doa dan silih. Untuk membenarkan permintaan ini, dia menulis kepadanya: "Lihat, Tuhan meminta saya untuk ini, dan selain itu saya harus menjadi orang kudus dan ayah, seorang guru dan pembimbing orang kudus." [4] Kita dapat menerapkan kata-kata ini, dalam cara tertentu, bagi setiap ibu atau ayah dari suatu keluarga, karena kekudusan adalah otentik hanya jika itu dibagikan dan memberikan cahaya kepada mereka yang dekat. Karena itu, jika kita bercita-cita untuk mencapai kesucian sejati, kita masing-masing dipanggil untuk menjadi “seorang kudus dan ayah, seorang guru dan pembimbing para kudus.”

Sejak awal, Santo Josemaria berbicara tentang “panggilan untuk menikah.” [5] Ia tahu ungkapan ini akan mengejutkan banyak orang, tetapi ia yakin bahwa pernikahan adalah jalan sejati menuju kekudusan, dan bahwa cinta suami istri sangat dekat dengan hati Tuhan. Dengan menggunakan frasa yang mencolok, dia berkata: "Saya memberkati cinta ini dengan kedua tangan saya, dan jika ada yang bertanya mengapa saya melakukannya dengan kedua tangan saya, saya langsung menjawab: Karena saya tidak punya empat!" [6]

Misi orang tua tidak terbatas untuk menyambut anak-anak yang Tuhan berikan kepada mereka. Misi itu berlangsung seumur hidup mereka, dan memiliki tujuan surga. Meskipun kadang-kadang kasih sayang orang tua terhadap anak-anak mereka dapat tampak rapuh dan tidak sempurna, ikatan kebapakan dan keibuan sebenarnya begitu mengakar sehingga memungkinkan pemberian diri tanpa batas: setiap ibu dengan senang hati akan menggantikan anaknya yang menderita di tempat tidur rumah sakit.

Kitab Suci penuh dengan para ibu dan ayah yang merasa istimewa dan bangga akan anak-anak yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Abraham dan Sarah; ibu Musa; Hannah, ibu dari Samuel; ibu dari tujuh bersaudara Makabe; wanita Kanaan yang memohon Yesus untuk putrinya; janda di Nain; Elizabeth dan Zachary; dan, khususnya, Bunda Maria dan Santa Yosef. Ini adalah pengantara yang dapat kita percayakankeluarga kita, sehingga mereka dapat menjadi protagonis dalam generasi baru pria dan wanita kudus.

Kami sangat sadar bahwa peran sebagai ibu dan ayah terkait erat dengan Salib dan penderitaan. Bersamaan dengan kegembiraan dan kepuasan yang besar, proses anak-anak tumbuh dan dewasa mendatangkan banyak kesulitan, beberapa lebih kecil dan yang lain tidak begitu kecil : malam tanpa tidur, pemberontakan remaja, kesulitan dalam mencari pekerjaan, menemukan orang yang tepat untuk berbagi kehidupan mereka, dll.

Yang sangat menyedihkan hati adalah melihat bagaimana kadang-kadang anak membuat keputusan yang buruk atau menjauhkan diri dari Gereja. Orang tua benar-benar berusaha membesarkan mereka dalam iman; mereka telah berusaha menunjukkan betapa menariknya kehidupan Kristiani. Jadi mereka mungkin bertanya pada diri sendiri: apa kesalahan yang telah kita lakukan ? Tidak mengherankan bahwa pertanyaan ini dapat muncul, meskipun mereka tidak seharusnya membiarkan diri mereka tersiksa karenanya. Memang benar bahwa orang tua memikul tanggung jawab utama untuk mendidik anak-anak mereka, tetapi mereka bukan satu-satunya yang memengaruhi mereka. Lingkungan di sekitarnya sering memberi anak-anak pandangan lain tentang kehidupan yang tampak lebih menarik dan meyakinkan, atau yang membuat dunia iman terasa jauh dan tidak nyata. Dan yang terpenting, anak-anak memiliki kebebasan mereka sendiri untuk memutuskan jalan mana yang ingin mereka ikuti.

Kadang-kadang hal itu adalah hanyalah kasus sederhana bahwa anak-anak perlu menjaga jarak untuk sementara waktu, sehingga dapat menemukan kembali dengan apresiasi baru apa yang telah mereka terima dari orang tua mereka.Bilaman hal ini terjadi, orang tua perlu bersabar. Meskipun anak-anak mereka telah mengambil jalan yang salah, mereka masih harus benar-benar menerima mereka dan berusaha menunjukkan cinta mereka, serta menghindari tekanan yang tidak semestinya, yang pada akhirnya bisa membuat mereka lebih jauh. “Seringkali tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu; berdoalah dan berharaplah dengan sabar, lemah lembut, murah hati, dan belas kasihan.” [7] Contoh ayah dalam perumpamaan tentang anak yang hilang sangat membantu dalam hal ini (lih. Luk 15: 11-32). Meskipun dia sangat menyadari kesalahan yang dilakukan putranya, dia juga menyadari bahwa dia harus menunggu.

Memang benar bahwa pada dasarnya, tidak selalu mudah bagi seorang ibu atau ayah untuk menerima kebebasan anak-anak mereka ketika mereka mulai tumbuh dewasa, juga karena beberapa keputusan, meskipun sebenarnya bagus, adalah berbeda dari apa yang orang tua inginkan. Saat-saat demikian orang tua malah merasa bahwa mereka hanya sebagai penonton kehidupan anak-anak mereka, yang hingga kini membutuhkan mereka untuk hampir dalam semua hal. Namun demikian, meskipun itu mungkin tampak berlawanan, inilah saatnya di mana anak-anak membutuhkan orang tua mereka lebih dari sebelumnya. Orang yang sama yang mengajari mereka cara makan dan berjalan dapat terus menyertai pertumbuhan kebebasan mereka saat mereka membuka jalan mereka sendiri dalam kehidupan. Orang tua sekarang dipanggil untuk menjadi guru dan pembimbing.

Guru para kudus

Orang tua adalah benar-benar guru, sering tanpa disadari. Hampir melalui osmosis, mereka mewariskan kepada anak-anak mereka begitu banyak hal yang akan tinggal bersama mereka sepanjang hidup mereka. Dan mereka harus mendidiksatu seni yang paling penting: belajar bagaimana mencintai dan dicintai. Ini adalah satu pelajaran : makna sungguhnya dari kebebasan.

Tidak bisa disangkal bahwa orang tua perlu membantu mereka mengatasi beberapa prasangka yang hari ini mungkin tampak pada saat ini sebagai hal yang tidak perlu dibicarakan lagi. Misalnya pandangan bahwa kebebasan berarti "bertindak sesuai dengan keinginan seseorang dan tanpa dibatasi oleh hukum apa pun." [8] Sebenarnya tantangan sesungguhnya yang mereka hadapi adalah bagaimana dengan sabar dan tekun dapat membangkitkan dalam diri anak-anak mereka keinginan untuk berbuat baik yang akan menjadi kuatsedikit demi sedikit. Dengan demikian anak-anak tidak hanya akan melihat kesulitan dalam melakukan apa yang orang tua mereka katakan kepada mereka, tetapi mereka akan berkembang dalam kemampuan mereka untuk "bersukacita dalam kebaikan." [9] Dalam proses pertumbuhan ini, anak-anak kadang-kadang gagal menghargai semua yang orang tua ajarkan kepada mereka. Dan memang benar bahwa seringkali orang tua juga perlu belajar bagaimana mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik: tidak ada orang yang dilahirkan dengan pengetahuan bagaimana menjadi seorang ayah atau ibu. Namun demikian, terlepas dari kemungkinan adanya kesalahan dalam bagaimana mereka dibesarkan, anak-anak dari waktu ke waktu akan menghargai secara lebih mendalam atas apa yang telah mereka diajarkan di rumah. Seperti yang dikatakan Santo Josemaria sehubungan dengan beberapa nasihat yang pernah diberikan oleh ibunya, “Bertahun-tahun kemudian saya datang untuk melihat betapa bijaksananya kata-kata itu.” [10]

Anak-anak akhirnya menemukan, cepat atau lambat, betapa orang tua mereka mencintai mereka, dan seberapa baik mereka telah mengajarkan mereka kunci-kunci kehidupan. Bagian penutup novel Dostoevsky yang mengagumkan, The Brothers Karamazov, mengungkapkan hal ini dengan fasih: “Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih kuat dan lebih sehat dan baik untuk kehidupan di masa depan daripada memori yang baik, terutama memori masa kecil, tentang rumah. Orang-orang berbicara kepada Anda banyak hal tentang pendidikan Anda, tetapi beberapa ingatan suci yang baik, dilestarikan sejak kecil, mungkin adalah pendidikan terbaik. Jika seseorang membawa banyak kenangan dengannya dalam kehidupan, dia aman sampai akhir hayatnya, dan jika seseorang hanya memiliki satu kenangan baik yang tersisa di hatinya, bahkan itu kadang-kadang bisa menjadi sarana untuk menyelamatkannya. ”Orang tua tahu bahwa misi mereka adalah menabur dan menunggu dengan sabar hasil upaya yang dengan rajin mereka untuk berbuah, meskipun mereka mungkin tidak pernah melihat semua hasil yang baik.

Pemandu para kudus

Pemandu adalah seseorang yang memimpin dan mengajar orang lain untuk mengikuti atau membuka jalan. Untuk melakukannya, orang perlu mengetahui medan dengan sangat baik dan menemani mereka yang melakukan perjalanan untuk pertama kalinya. Pembimbing dan guru yang baik membentuk akal budi dan hati. Salome, istri Zebedeus, menemani putra-putranya di sepanjang jalan Kristus, dan hadir di kaki Salib. Hanya Yohanes yang bergabung dengannya di sana, tetapi Yakobus akan menjadi rasul pertama yang memberikan hidupnya untuk Yesus. Dia juga hadir di makam pada hari Minggu pagi, bersama dengan Maria Magdalena. Dan di sana setelah itu Yohanes mengikutinya.

Setiap pemandu terkadang harus menghadapi perjalanan yang rumit dan menantang. Dalam perjalanan hidup, salah satunya adalah jalan menjawab panggilan Tuhan. Mendampingi anak-anak mereka dalam membedakan panggilan mereka adalah bagian penting dari misi orang tua itu sendiri. Sangat mudah untuk memahami mengapa mereka menghadapi langkah yang menantang ini dengan rasa takut. Santo Josemaria memberi tahu sekelompok orang muda: “Takut? Beberapa kata Santo Yohanes,yang diambil dari surat pertamanya, dalam bab 4, terukir di hati saya: Qui autem timet, non est perfectus in caritate (1Yoh. 4:18). Seseorang yang takut tidak tahu bagaimana cara mencintai. Dan kalian semua tahu cara mencintai, jadi kamu tidak perlu takut. Takut pada apa? Anda tahu cara mencintai; karena itu kamu tidak perlu takut. Terus maju!” [11]

Tentu saja, perhatian terbesar seorang ibu atau ayah adalah kebahagiaan anak-anak mereka. Namun seringkali mereka mungkin telah membentuk gagasan tentang jalan apa yang harus ditempuh yang ditunut oleh kebahagiaan. Terkadang orang tua memimpikan masa depan profesional yang yag tak seimbang dengan bakat nyata anak-anak mereka. Atau mereka mungkin berharap bahwa anak-anak mereka akan baik, tetapi “tanpa berlebihan.” Mungkin saja mereka lupa tuntutan radikal, dan kadang membingungkan, dari pesan Injil. Karena itu, dan dengan lebih banyak alasan jika mereka telah menerima pendidikan Kristiani yang mendalam,mereka tidak boleh heran bahwa “setiap anak akan mengejutkan kita dengan ide dan proyek yang timbul dari kebebasan itu, yang menantang kita untuk memikirkan kembali ide-ide kita sendiri itu. Ini hal yang baik. Pendidikan termasuk mendorong penggunaan kebebasan yang bertanggung jawab.” [12]

Orang tua mengenal anak-anak mereka dengan sangat baik – biasanya, lebih baik daripada siapa pun. Dan karena mereka menginginkan yang terbaik untuk mereka, itu wajar dan benar bahwa mereka khawatir bahwa pilihan mereka dalam hidup akan membuat mereka bahagia, dan bahwa mereka mempertimbangkan masa depan anak-anak mereka dengan pandangan untuk kesejahteraan duniawi mereka, dan berusaha untuk melindungi dan membantu mereka. [13] Karena itu ketika anak-anak mereka mulai memahami kemungkinan akan panggilan dari Allah, orang tua dihadapkan dengan peran yang indah sebagai penuntun yang bijaksana. Ketika Santo Josemaria berbicara tentang panggilannya kepada ayahnya, sang ayah mengatakan kepada putranya, "Pikirkan baik-baik dahulu." Tetapi segera dia menambahkan, "Aku tidak akan menjadi penghalang bagimu." dan nasihat yang masuk akal mengenai keputusan rohani anak-anak mereka, orang tua perlu belajar untuk menghargai kebebasan anak-anak mereka dan mendeteksi tindakan rahmat Allah di dalam hati mereka, agar tidak menjadi – apakah ingin melakukan itu atau tidak – menjadi hambatan bagi rencana Allah.

Selain itu, anak-anak sering gagal untuk menyadari betapa apnggilan mereka memberi "kejutan" bagi orang tua mereka. Santo Josemaria mengatakan bahwa satu-satunya saat dia melihat ayahnya menangis adalah ketika dia mengatakan kepadanya bahwa dia ingin menjadi seorang imam. [15] Banyak kemurahan hati dituntut dari orang tua untuk menemani anak-anak mereka di jalan kehidupan yang berbeda dari apa yang mereka harapkan. Jadi tidak mengherankan terkadang sulit bagi mereka untuk meninggalkan rencana yang semula mereka miliki. Tetapi Tuhan tidak meminta lebih sedikit dari orang tua seperti mereka sendiri mengharapkan dari anak-anak mereka: penderitaan yang dilihat dari pandangan manusiawi ini, juga bisa, dengan rahmat Tuhan, menjadi berkah ilahi.

"Guncangan" ini juga bisa menjadi momen untuk dipertimbangkan, seperti yang sering dikatakan Santo Josemaria, bahwa anak-anak berhutang kepada orang tua mereka sembilan puluh persen dari panggilan mereka untuk mencintai Tuhan dengan hati yang tidak terbagi. [16] Tuhan sangat sadar akan pengorbanan yang bisa diminta dari orang tua untuk menerima keputusan ini dengan kasih sayang dan kebebasan. Dia yang memberi Putranya sendiri untuk menyelamatkan kita memahami ini lebih baik daripada siapa pun.

Bilamana orang tua dengan murah hati menerima kenyataan bahwa anak-anak mereka dipanggil oleh Allah, tanpa memikirkan untuk diri mereka sendiri, mereka mendatangkan berkat yang berlimpah dari surga bagi banyak orang. Selama berabad-abad ini sering terjadi. Ketika Yesus memanggil Yohanes dan Yakobus untuk mengikuti Dia dan meninggalkan segalanya, mereka sedang membantu ayah mereka untuk memperbaiki jala. Zebedeus terus mengerjakan jaring, mungkin agak kesal, tetapi dia membiarkan mereka pergi. Mungkin perlu beberapa waktu baginya untuk menyadari bahwa Allah sendirilah yang masuk ke dalsm keluarganya. Tetapi pada akhirnya, betapa besar sukacitanya melihat anak-anaknya bahagia dalam usaha “penangkapan ikan” baru ini, di “laut tanpa pantai” kerasulan.

Lebih dibutuhkan dari sebelumnya

Ketika seorang anak perempuan atau anak laki-laki membuat suatu keputusan penting untuk kehidupan mereka, orang tua lebih dibutuhkan daripada sebelumnya. Seorang ibu atau ayah sering dapat membedakan, bahkan dari jauh, jejak kesedihan pada anak-anak mereka, karena mereka juga dapat merasakan kegembiraan otentik. Karena itu mereka dapat memiliki peran yang tak tergantikan dalam membantu anak-anak mereka menjadi bahagia dan setia.

Untuk menjalankan peran baru ini, mungkin hal pertama yang perlu mereka lakukan adalah mengenali berkah yang telah mereka terima. Dengan mempertimbangkan hal ini di hadapan Tuhan, mereka akan menyadari bahwa “tidak ada 'pengorbanan' bagi orang tua ketika Tuhan meminta anak-anak mereka. Juga bagi mereka dipanggil, bukanlah satu pengorbanan untuk mengikuti Dia. Sebaliknya, itu adalah kehormatan yang sangat besar, motif untuk kebanggaan yang besar dan suci, suatu tanda, kasih sayang yang sangat istimewa yang telah ditunjukkan oleh Allah.” [17] Merekalah orang-orang yang telah mewujudkan panggilan ini, yang adalah kelanjutan dari karunia kehidupan. Karena itu, Santo Josemaria biasa memberi tahu orang tua: "Saya mengucapkan selamat kepada Anda, karena Yesus telah mengambil bagian hati Anda ini – sepenuhnya – untuk Dia sendiri ... untuk Dia sendiri saja!" [18]

Doa orang tua kemudian menjadi sangat penting di mata Tuhan. Berapa banyak contoh doa syafaat yang luar biasa ini yang dapat kita temukan dalam Alkitab dan dalam sejarah. Doa Santa Monica yang penuh percaya dan mendesak untuk pertobatan putranya Agustinus mungkin adalah yang paling dikenal; tetapi pada kenyataannya ada banyak contoh lain. Di balik setiap panggilan “selalu ada doa yang teguh dan kuat dari seseorang: seorang nenek, kakek, ibu, ayah, komunitas ... Panggilan dilahirkan dalam doa dan dari doa; dan hanya melalui doa mereka dapat bertahan dan berbuah.” [19] Setelah panggilan tersebut dijalankan, mengikutinya sampai akhir tergantung banyak tergantung pada doa orang-orang yang paling mencintai orang itu.

Dan bersamaan dengan doa, orang tua perlu tetap dekat dengan anak mereka. Melihat orang tua mereka menaruh minat pada misi baru mereka dalam kehidupan sangat membantu memperkuat kesetiaan anak-anak. Seringkali orang tua memiliki keinginan besar, tanpa mengatakannya dengan tegas, untuk membantu dan berbagi dalam kebahagiaan putri atau putra mereka di jalan pemberian diri ini. Mereka perlu merasakan bahwa hidup mereka sunguh menghasilkan buah. Terkadang anak-anaklah yang meminta saran, bantuan, atau doa yang meneguhkan mereka. Betapa banyak kisah ayah dan ibu yang menemukan panggilan mereka untuk menguduskan melalui panggilan anak-anak mereka!

Hasil dari penyerahan hidup Yakobus dan Yohanes tidak dapat diukur. Tetapi kita dapat yakin bahwa dua tiang Gereja ini berutang kepada ibu dan ayah mereka bagian terbesar dari panggilan mereka. Yakobus membawa Cinta Tuhan ke ujung dunia, dan Yohanes memproklamasikannya dengan kata-kata yang termasuk di antara halaman-halaman terindah yang pernah ditulis tentang Cinta ini. Kita semua yang telah menerima iman berkat pemberian diri mereka harus merasakan rasa terima kasih yang mendalam terhadap pasangan yang sudah menikah ini yang berasal dari pantai Danau Galilea. Nama-nama Zebedeus dan Salome akan diingat bersama nama para rasul, sampai akhir zaman.

“Ambillah ini, kalian semua, dan makanlah, karena ini adalah TubuhKu, yang akan diserahkan untukmu.” [20] Ibu dan ayah yang benar-benar mencintai Tuhan, dan yang telah melihat bagaimana anak mereka telah memberikan dirinya sendiri kepada-Nya sepenuhnya, menikmati pemahaman yang sangat khusus tentang kata-kata Tuhan kita seprti kita dengar dalam konsekrasi pada Misa.Mereka mengalaminya dalam cara-cara tertentu dalam kehidupan mereka sendiri. Mereka telah memberi anak mereka sehingga orang lain dapat memiliki makanan dan kehidupan. Dengan demikian anak-anak mereka seolah-olah “melipatgandakan” peran orang tua mereka sendiri. Dengan memberikan "ya," yang baru ini, mereka mempersatukan diri mereka dengan karya Penebusan, yang memuncak dalam "ya" Kristus dalam Sengsara, dan yang dimulai, di rumah sederhana, dalam "ya"-nya Maria.

Diego Zalbidea

[1] Santo Paulus VI, Imbauan Apostolik. Evangelii nunitandi (8 Desember 1975), no. 82. Bdk. juga Santo Yohanes Paulus II, Imbauan Apostolik Novo millennio ineunte (6 January 2001), no. 40; Benedictus XVI, Homili saat Pembukaan Sinode Para Uskup tentang Evangelisasi Baru, 7 Oktober 2012; Bapa Paus Fransiskus, Imbauan Apostolik Evangelii gaudium (24 November 2013), no. 27.

[2] Fernando Ocáriz, Surat, 4 Juni, 2017.

[3] Bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1655-1666.

[4] Santo Josemaria, Catatan Pribadi, no. 1752.

[5] Santo Josemaria, Jalan, no. 27.

[6] Santo Josemaria, Sahabat-Sahabat Tuhan, no. 184.

[7] Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 4 Februari 2015.

[8] Fernando Ocáriz, Surat Pastoral, 9 Januar1 2018, no. 5.

[9] Menjakau Sekuruh Pribadi, Peranan Emosi (I). Tersedia di opusdei.org.

[10] Santo Josemaria, Catatan dari Bincang-Bincang Keluarga, 17 Februari 1958.

[11] Santo Josemaria, Catatan dari Bincang-Bincang dengan Kaum Muda, November 1972.

[12] Paus Fransiskus, Imbauan Apostolik Amoris Laetitia, 19 Maret 2016, no. 262. Santo Josemaria berbicara mengenai hal ini secara humor : “Baru saja si anak dilahirkan, tetapi sang Ibu sudah menrencanakan dengan gadis mana si anak akan menikah, dan mereka akan melaksanakan hal ini atau itu, Sang ayah akan memikirkan karier si anak atau apakah sang anak akan terlibat dalam usaha keluarga. Masing-masing meciptakan satu novel. Setelah itu, Ketika si anak tumbuh dengan baik dan kehidupannya sukses karena dia memiliki orang tua yang baik, dan si anak akan berkata kepada orang tua mereka: ‘saya tidak cocok dengan novel kalian. Dan mulai kita saksikan perselisihan” (Catatan yg diambil dari Bincang-Bincang dengan Keluarga, 4 November 1972).

[13] Ekspresi idiomatik yg dipakai oleh Santo Josemaria di sini adalah “de tejas abajo” - “dalam terang permasalahan dunia ini” Bdk. Javier Echevarría, Keangan akan Beato Josemaría Escrivá, Rialp, Madrid 2000, p. 99.

[14] Ana Sastre, Tiempo de caminar, Rialp, Madrid,1989, p. 52.

[15] Bdk. Andres Vazquez de Prada, Pendiri Opus Dei, vol. I, p. 73.

[16] Bdk. Santo Josemaria, Wawancara, no. 104.

[17] Santo Josemaria, Tempa, no. 18.

[18] Kata-kata Santo Josemaria dalam pertemuan dengan beberapa keluarga, 22 Oktober 1960.

[19] Paus Fransiskus, Regina Caeli, 21 April 2013.

[20] Roman Missal, Doa Syukur Agung.