Sesuatu yang Hebat itu Adalah Cinta (IX): Kita adalah Para Rasul!

Karya kerasulan bagi orang Kristen tidak hanya sebuah tugas atau aktivitas yang menghabiskan waktu beberapa jam setiap harinya. Kebutuhan ini timbul dari dalam hati yang telah menjadi “sehati dan sejiwa dalam Kristus”

Opus Dei - Sesuatu yang Hebat itu Adalah Cinta (IX): Kita adalah Para Rasul!

Karya kerasulan Yesus di dunia ini berawal di Kapernaum. Kita ketahui bahwa setidaknya empat dari kedua belas rasul adalah nelayan dari daerah tersebut. “Para rasul yang pertama, ketika Tuhan kita memanggil mereka, sedang berada di samping sebuah perahu tua dan sedang merapikan jala mereka. Tuhan kita pun memanggil mereka untuk mengikutiNya, dengan statim, segera, saat itu juga, relictis omnibus, mereka meninggalkan segalanya, ya segalanya!, dan mengikuti Dia…”[1]

Sabda Yesus ketika memanggil para rasul yang pertama menandai sebuah jalan hidup yang nantinya akan mengubah sejarah dunia selamanya: ”Mari ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk. 1:17). Yesus tidak menjelaskan lebih rinci saat itu. Mereka tetap menjadi nelayan, namun mulai saat ini, mereka menjala “ikan” yang berbeda. Dan juga mereka akan datang kepada “lautan yang berbeda”, namun keahlian yang telah mereka dapat dari pekerjaan mereka sebagai nelayan tentu saja akan sangat berguna. Hari-hari dimana kondisi angin yang memungkinkan dan tangkapan yang berlimpah akan tiba. Namun juga akan datang hari-hari di mana mereka mendapatkan tangkapan yang sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali, sehingga mereka akan kembali ke tepi pantai dengan tangan kosong. Namun, suatu keputusan bukanlah semata-mata menyangkut tentang besar atau kecilnya tangkapan semata, atau dalam penilaian orang-orang dikatakan bahwa mereka telah berhasil atau gagal, yang terpenting adalah siapa mereka itu nantinya. Sejak awal Dia telah memanggil mereka bukan hanya untuk melakukan suatu hal – meskipun jauh lebih indah dan luar biasa – tetapi untuk menjadi seseorang yang mengemban sebuah misi: menjadi “penjala manusia.”


Segala sesuatu karena Injil

Ketika kita menanggapi panggilan Allah, identitas kita terbentuk kembali. “Suatu pandangan baru bagi kehidupan kita” kata Santo Josemaria. Sadar bahwa Yesus sendiri yang mengundang kita untuk mengambil bagian dalam misinya, menyalakan sebuah keinginan untuk mempersembahkan kinerja terbaik dalam aktivitas kita, itulah jalan hidup kita. “Dengan demikian sedikit demi sedikit, panggilan itu menuntun kita, tanpa kita sadari, dan menempatkan kehidupan yang kita jaga dengan hati-hati dan dengan penuh sukacita sampai akhir hidup kita”. Dan tuntunan ini memberikan kesadaran kita akan pekerjaan sebagai sebuah misi.” [2] Seiring berjalannya waktu, tuntunan tersebut akan membentuk jalan hidup serta tindakan kita , dan cara kita memandang dunia, serta membawa kebahagiaan bagi kita.

Seperti Monsinyur Ocariz selalu menekankan: “kita tidak ‘mengerjakan karya kerasulan’, kita adalah rasul-rasul itu sendiri!” [3]. Perutusan kerasulan tidak mengambil waktu dan tempat tertentu dalam kehidupan kita; lebih dari itu, perutusan ini akan mempengaruhi semua yang kita lakukan dan kita capai di dalam setiap saat dalam kehidupan kita. Santo Josemaria menekankan sejak dari awal, kepada anggota Opus Dei: “Jangan pernah lupa, anak-anakku, bahwa kita bukanlah jiwa-jiwa yang bergabung dengan jiwa-jiwa yang lain untuk melakukan sesuatu yang baik. Itu adalah satu hal yg mulia, … tetapi itu terlalu kecil. Kita adalah rasul-rasul yang melaksanakan perintah imperatif dari Kristus sendiri” [4]. “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan injil”( 1 Kor. 9:16-23) demikian kata Santo Paulus. Itu adalah sebuah keyakinan yang ia bawa dari dalam jiwanya. Detak jantung kasih ini adalah sebuah undangan sekaligus sebuah tugas baginya:”Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan.” Jadi, satu-satunya ganjaran yang ia harapkan adalah: “Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah”, karena ia memandang dirinya sendirisebagai “hamba dari semua orang, agar aku boleh menyelamatkan jiwa-jiwa sebanyak mungkin”. Paulus membuka hatinya untuk kita: dialah rasul terakhir , dia tidak merasa layak dan pantas, namun kenyataannya adalah bahwa dia adalah seorang rasul. Oleh sebab itu, tidak ada sebuah keadaan atau kondisi yang tidak “apostolik” bagi dirinya: ”Segala sesuatu ini aku lakukan demi Injil.” Inilah “tanda pengenalan ” baginya dan bagaimana dia ingin dirinya dikenali: “…Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” (Rom. 1:1).

Panggilan itu adalah panggilan untuk menjadi "seseorang" yang sesuai dengan rencana tuhan

Demikianlah halnya karya kerasulan bagi seorang Kristen tidak hanya sebuah “tugas” semata-mata atau sebuah aktivitas belaka yang menyita beberapa jam tiap harinya, ataupun bahkan sesuatu yang penting yang harus dikerjakan. Ini adalah sebuah kebutuhan yang berakar dari hati yang telah menjadi “sehati dan sejiwa dalam Kristus, [5]”, dalam persatuan dengan seluruh Gereja. Menjadi seorang rasul “bukan hanya sekedar sebuah gelar kehormatan”. Menjadi rasul berarti melibatkan secara nyata bahkan dramatis segala aspek kehidupan seseorang”[6].Pada suatu saat kita akan membutuhkan dorongan dan nasihat dari orang lain dalam usaha kita agar Kristus dikenal oleh banyak orang. Namun, karena kita ketahui bahwa panggilan kita adalah sebuah anugerah dari Allah, maka kita seharusnya memintaNya bahwa karya kerasulan kita dapat mengalir dari dalam hati kita secara alami layaknya air yang berasal dari sumber air (bdk. Yoh. 4:14).

Garam, terang dan ragi bagi dunia

Tuhan kita seringkali menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan kepada para muridnya tentang peran yang akan mereka emban di dunia ini. “Kamu adalah garam dunia,…Kamu adalah terang dunia”(bdk Mat. 5:13-14). Di suatu kesempatan lain, Yesus berbicara kepada mereka tentang ragi – walaupun dengan jumlahnya yang kecil dalam sebuah takaran adonan (bdk. Mat. 13:33). Inilah bagaimana Yesus ingin para rasulnya menjadi kelak: garam untuk membawa sukacita, cahaya untuk menuntun orang lain, dan ragi untuk membangkitkan orang banyak. Dan inilah bagaimana Santo Josemaria melihat karya kerasulan dari putra-putrinya: “Kalian memiliki sebuah panggilan dari Allah kepada sebuah jalan khusus: untuk menempatkan dirimu di setiap persimpangan jalan di dunia ini, dengan segala hatimu tertuju kepada Allah. Dan menjadi ragi, garam dan terang bagi dunia. Untuk menerangi, menggarami, meragi, dan membangkitkan” [7].

Umat beriman yang tergabung dalam Opus Dei, seperti halnya umat Kristiani lainnya, mengemban tugas karya kerasulan di tengah dunia ini, dengan segala keniscayaan dan kebijaksanaan. Meskipun kadangkala menimbulkan kesalahpahaman, apa yang sebenarnya mereka lakukan adalah semata-mata untuk mewujudkan perumpamaan-perumpamaan Tuhan kita di dalam diri mereka masing. Garam tidak terlihat, namun ketika tercampur baik pada masakan; mereka memberi rasa kepada makanan, jika tidak maka tentu saja terasa hambar, meskipun masakan itu terdiri dari bahan-bahan yang berkualitas terbaik. Demikian juga halnya dengan ragi; dia mengembangkan roti, tanpa terlihat. Lampu, pada gilirannya, ditempatkan “di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” Dan seterusnya “di depan semua orang (Mat. 5:15-16). Cahaya itu tidak menarik perhatian kepada diri mereka sendiri, akan tetapi kepada mereka yang mencari penerangan. Orang-orang Kristen berbahagia untuk bisa berada bersama orang lain, saling membagikan impian dan rencana hidup. “Kita ini adalah garam dan terang yang berasal dari Kristus, seharusnya merasa tidak nyaman jika kita tidak dikelilingi oleh orang lain” [8]. “Keterbukaan ini berarti berinteraksi dengan mereka yang berpikir berbeda dengan cara kita berpikir , dengan sebuah keinginan yang mendalam untuk meninggalkan “jejak Allah” dalam hati mereka.”[9]. Kita akan melaksanakannya dengan cara yang Roh Kudus tawarkan untuk kita: pada masa itu, berdoalah walaupun hanya singkat saja untuk mereka; di waktu lain dengan kata-kata atau perilaku yang bersahabat.

Kehidupan kerasulan yang berdampak pada diri seseorang, tidak bisa dipersempit hanya kepada perhitungan angka semata. Sebagian besar dari buah-buah karya kerasulan tetap tersembunyi, dan kita tidak akan pernah tahu tentangnya dalam hidup ini. Namun, pada bagian kita, kita tetap dituntut untuk menumbuhkan keinginan yang terus diperbaharui, untuk hidup dekat dan bersatu dengan Tuhan kita. “Kita harus menjalani hidup sebagai seorang rasul, dengan cahaya dan garam yang datang dari Allah. Tanpa rasa takut dan dengan segala kewajaran, serta dengan satu kehidupan batin yang kokoh dalam persatuan dengan Tuhan kita akan memberi cahaya untuk menghalau kegelapan.” [10] Allah sendiri akan membuat segala usaha kita berbuah, dan kita tidak perlu menghabiskan waktu kita dengan mengkhawatirkan tentang segala kekurangan kita ataupun segala kendala dari luar: orang-orang yang tidak dapat memahami kita, mereka yang mulai mengkritik kita, jalan yang melelahkan ini; danau yang terlalu luas yang harus kita seberangi, dan saya yang tidak dapat melangkah maju di dalam badai ini ...

Diri yang memulai

Ketika kita meninjau kembali daftar kedua belas rasul, kita akan menyadari bahwa betapa mereka begitu berbeda satu sama lain, pribadi demi pribadi. Hal yang sama pun terjadi kepada santo/santa, pria dan wanita yang telah dinyatakan kudus oleh Gereja. Dan juga ketika melihat kehidupan dari semua orang-orang biasa yang mengikuti jejak Tuhandengan segala kebajikannya dan kehidupan pengabdian yang utuh. Mereka semua berbeda, dan pada waktu yang sama, mereka adalah rasul-rasul, yang menaruh kepercayaan dan cinta mereka kepada Tuhan kita.

Saat kita mempersembahkan kehidupan kita kepada Allah, kita tidaklah kehilangan bakat-bakat pribadi kita dan ketika Dia memberikan sesuatu kepadamu, Dia memandangmu sebagai sahabat dekatNya. Dan Dia ingin mengaruniakan rahmat untukmu...Hal itu tentu saja akan menjadi sebuah berkat yang dapat membawa kamu bersukacita dan mengalami kegembiraan lebih dari apapun yang dapat dunia berikan. Bukan karena berkat tersebut adalah sesuatu yang langka dan luar biasa, namun karena berkat tersebut sangatlah cocok bagimu. Dan rahmat tersebut akan menyertai seluruh hidupmu.”[11] Demikianlah halnya mereka yang bertekad untuk mengikuti langkah Tuhan, tahun demi tahun, melalui rahmat itu, diiringi oleh tanggapan dari usaha mereka masing- masing, merubah bahkan karakter mereka, membuatnya lebih mudah untuk mencintai dan melayani semua orang. Ini bukanlah hasil dari kekuatan dari kemauan yang keras untuk mencapai kesempurnaan yang ideal. Lebih dari itu, rahmat tersebut adalah hasil dari kasih Kristus dalam kehidupan merasul.

Segera ketika terpilih sebagai Prelate yang baru bagi Opus Dei, Monsinyur Javier Echevarria ditanyai bagaimana pengalaman pribadinya ketika hidup berdampingan dengan sang bapa pendiri dan penerus pertamanya? “Apakah engkau dapat hidup sesuai dengan dirimu sendiri ketika bersama dengan mereka?” Jawabannya yang diberikan cukup menyentuh, mencerminkan sebuah sudut pandang dari seseorang yang melihat kembali hidupnya dan apa yang telah Allah lakukan. “Ya tentu saja, saya menjalankan kehidupan saya. Saya tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa saya bisa menjalani hidup seperti yang saya miliki. Dalam kehidupan ini, cakrawala dan tujuan saya menjadi sangat terarah… Saya, sebagai manusia dari jaman saya ini, sebagai orang Kristen dan seorang Imam, telah menjalani hidup yang sangat berlimpah. Dan hati saya terbuka kepada dunia dan saya berterimakasih karena hidup berdampingan dengan dua orang ini (Santo Josemaria dan Beato Alvaro), yang memiliki hati Kristiani yang begitu besar” [12].

Seorang yang diutus oleh Kristus dan membiarkanNya menentukan tujuan kehidupannya tidak akan pernah lupa bahwa Dia menginginkan sebuah jawaban yang bebas seutuhnya. Bebas, pertama-tama, dari keegoisan, dari kesombongan dan keinginan untuk tampil lebih. Tetapi juga bebas untuk menempatkan segala talenta, inisiatif dan kreatifitas yang kita miliki ke dalam pengabdian kepadaNya. Seperti yang Santo Josemaria katakan: “ Salah satu ciri yang jelas dari semangat Opus Dei adalah cintanya akan kebebasan dan kebutuhan akan pengertian kepada orang lain” [13].

Akan tetapi, semangat kebebasan ini tidak berarti “bertindak sesuka hati dan tanpa kekangan dari norma dan hukum yang ada” [14], seolah-olah segala sesuatu yang tidak berasal dari dalam diri kita dianggap sebagai pemaksaan di mana kita harus membebaskan diri darinya. Bertindak dengan bebas berarti bertindak dengan semangat sperti yang dimiliki oleh Yesus sendiri: “Sebab Aku telah turun dari surga, bukanuntuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh.6:38). Jika karya kerasulan hanyalah dipandang sebagai suatu “kegiatan” semata, maka kita cenderung menanggapi arahan yg diberikan oleh yg mengkoordinasi kerasulan sebagai suatu beban. Sebaliknya, seseorang yang menyadari bahwa dia diutus oleh Kristus, akan bersyukur akan segala pertolongan yang Tuhan telah sediakan melalui berbagai cara. Hidup dengan kebebasan dalam Roh berarti mengijinkan Roh Kudus menjadi satu-satunya yang membentuk dan menuntun kita dan juga berkarya lewat mereka yang telah Dia tempatkan di dekat kita.

Kebebasan dalam Roh membuat kita menjadi orang yang kreatif: ketika menghadapi suatu tantangan dalam misi kerasulan, kita tidak bersikap secara pasif, melainkan dengan keyakinan bahwa tantangan ini adalah apa yang Allah minta dari kita saat ini, dan sejajar dengan makna siapa itu seorang rasul. Degan demikian dalam setiap hal sekecil apapun dalam hidup kita, kita bisa merasakan sebuah “napas yang segar” dari Roh, yang mendorong kita untuk “bertolak ke tempat yang dalam”(Luk.5:4), untuk bersama-sama dengan Dia melanjutkan cerita indah Kasih Allah kepada kita.

Jika misi kita adalah untuk “menjalankan kerasulan”, maka kita mungkin saja diuji untuk mundur dari ‘tugas’ itu bilamana kita dihadapkan oleh kesulitan, misalnya yg berasal dari proyek pekerjaan yang melelahkan atau bilamana kita sakit, atau godaan untuk mengambil “cuti” dari misi kerasulan kita. Tetapi “kita adalah rasul-rasul!” – itulah hidup kita! Jadi tidaklah masuk akal jika kita mundur dari tugas kita pergi ke luar jalanan dan meninggalkan di rumah semangat untuk memberitakan Injil. Tentu saja, misi kerasulan kadangkala menuntut upaya dan keberanian untuk mengatasi rasa takut kita. Meskipun demikian, halangan dari dalam ini jangan sampai mengganggu kita, karena Roh Kudus meneguhkan, dalam hati mereka yang selalu patuh akan inspirasiNya, suatu spontanitas dan kreatifitas apostolik, dimana segala sesuatu dalam hidup kita menjadi kesempatan untuk merasul.

Kita menjadi “sadar untuk berjaga-jaga selalu di tempat kita masing-masing”[15], terus menerus melaksanakan sebuah “tirakatan kasih, selalu waspada dan dengan rajin bekerja [16] Inilah ‘tirakatan kasih’ yang tidak membuat kita menjadi gelisah ataupun gugup. Kita melaksanakan karya misi agung yang membuat kita bahagia dan juga membawa kebahagiaan ke sekeliling kita. Kita sedang bekerja di kebun anggur Tuhan dan yakin bahwa usaha ini adalah milikNya. Jadi bilamana kita merasakan tidak adanya kedamaian dalam hati kita, terasa sebagai beban yang berlebihan, maka inilah saatnya untuk datang kepadaNya dan berkata: Saya mengerjakan ini untukMu; bantulah saya untuk bekerja dengan tenang, dengan kepastian bahwa Engkau akan mengerjakan segala sesuatu.

Cahaya Ilahi yang membawa kehangatan

Di dalam perumpamaan tentang mereka yang diundang ke pesta kawin, ketika sang Bapa mengetahui bahwa tamu-tamu yang telah diundang tidak mau datang karena berbagai alasan, maka Ia menyuruh para pelayannya untuk membawa “orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh” (Luk.14:21). Ruang perjamuan tersebut mulai terisi namun masih ada tersedia tempat bagi tamu-tamu yang lebih banyak. Jadi dia menyuruh pelayannya untuk: “Pergi ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ untuk datang, karena rumahku harus penuh” (Luk. 14:23). “Paksalah semua orang untuk masuk”, compelle intrare: demikian besar keinginannya agar semua tamu datang.

Perintah sang bapa itu jelas karena panggilan bagi keselamatan ditujukan kepada semua orang. Santo Josemaria berkata: “Itu bukanlah suatu paksaan fisik tapi adalah suatu kelimpahan akan cahaya, akan pengajaran. Perintah itu adalah satu pemicu rohani bagi segala doa dan karya kita, yang merupakan satu kesaksian akan pengajaran yang benar. Itulah pengorbanan yang kamu persembahkan: senyuman yang terlihat di bibirmu karena kamu adalah anak-anak Allah; memberikan kamu kebahagiaan sejati (meskipun penderitaan selalu merupakan bagian dari hidupmu) yang dilihat orang lain dan mereka mearasa iri hati. Jalankan semua ini dengan sepenuh hati dan di sinilah terletak makna compelle intrare” [17]. Jadi di sini bukanlah bermaksud memaksa seseorang; tetapi adalah mengabungkan antara doa dan persahabatan, suatu kesaksian yang disertai pengorbanan yang bermurah hati, penuh dengan sukacita yang berbagi, kehangatan manusia menarik hati orang.

Allah bertindak dengan “menarik hati orang” [18], menjangkau jiwa-jiwa melalu kegembiraan kehidupan Kristiani. Karena itu karya kerasulan adalah luapan dari kasih ilahi. Sebuah hati tahu mengasihi, tahu bagaimana membuat orang lain tertarik: “kita membuat orang tertarik melalui hati kita.” Santo Josemaria berkata: “Saya memohon agar kita semua memiliki hati yang tahu mengasihi: jika kita mengasihi jiwa-jiwa, kita akan membuat mereka tertarik” [19]. Sesungguhnya tidak ada lebih menarik dari sebuah kasih yang murni, terutama pada masa-masa dimana orang-orang tidak bisa mengenal kehangatan kasih Allah. Persahabatan sejati adalah satu ‘cara melaksanakan karya kerasulan yang Santo Josemaria temukan dalam bacaan Injil” [20]. Filipus membawa Bartolomeus; Andreas membawa Petrus; dan seorang laki-laki yang membawa orang lumpuh kepada Yesus di Kapernaum, pastilah adalah seorang sahabat yang baik dari yang lumpuh itu..

“Bagi seorang Kristiani, di dalam diri seorang anak Allah, persahabatan dan cinta kasih menjadi satu: cahaya ilahi yang membawa kehangatan” [21]. Di dalam persahabatan, kita dituntut untuk sebuah komunikasi yang berkelanjutan; teladan dan kesetiaan yang tulus; kesiapan untuk tolong-menolong satu sama lain, saling membantu; berempati dan mendengarkan; dan kemampuan untuk saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Persahabatan bukanlah sekedar sebuah alat untuk melakukan karya kerasulan, melainkan kerasulan itu sendiri. Dalam persahabatan terdapat keinginan yang berlimpah untuk saling berbagi hidup dengan yang lain. Sudah pasti, kita menginginkan sahabat – sahabat kita untuk mendekat kepada Allah, namun kita pun harus bersiap untuk membiarkannya terjadi seturut dengan bagaimana Allah menginginkannya. Adalah wajar bahwa seorang rasul ingin melihat hasil-hasil yang terjadi pada orang lain. Namun kita tidak boleh lupa bahwa rasul-rasul tetap mengikuti Yesus bahkan disaat hampir semua orang pergi meninggalkanNya (bdk. Yoh 6: 66-69). Dengan berjalannya waktu hasil dari kerasulan akan terlihat dengan sendirinya (bdk. Kisah Para Rasul 2:37-41).

Seorang muda bertanya kepada Santo Josemaria: “Bapa, apa yang dapat kita lakukan agar dapat membuat banyak orang menjadi anggota Opus Dei – ‘bersiul’? [22]. Santo Josemaria segera menjawab : “Banyak berdoa, bina persahabatan yang setia, dan hormati kebebasan.” Anak muda tersebut belum puas, dia berkata: ”Tapi bukankah itu sama saja dengan melangkah terlalu pelan, bapa?” Tidak, karena panggilan adalah sesuatu yang a-di-kod-ra-ti,” Dia menjawab, menekankah suku kata - suku kata tersebut. “Sedetik cukup untuk membuat Saulus menjadi Paulus. Kemudian dengan tiga hari berdoa, dia menjadi seorangrasul Yesus Kristus yang penuh semangat” [23].

Allahlah yang memanggil, dan Roh Kudus yang menggerakan hati seseorang. Peran para rasul adalah untuk mendampingi sahabat-sahabat mereka melalui doa dan pengorbanan, bukannya menjadi tidak-sabar ketika sahabat itu menjawab ajakannya dengan kata “tidak”, atau menjadi marah ketika sang sahabat menolak untuk dibantu. Sahabat yang sejati saling bersandar untuk mencari pertolongan agar mereka saling bertumbuh, tanpa mencoba untuk mengkritisi. Dia tahu kapan waktu terbaik untuk bersikap diam, dan kapan waktunya untuk “bertindak” jika dibutuhkan, tidak berdiam diri dalam kekurangan orang, tetapi selalu berusaha membangun sisi terbaik dari setiap orang.

Tanpa menyusahkan orang lain, dan selalu dengan senyum, kita bisa dengan sopan menawarkan sebuah saran, seperti apa yang Tuhan kita lakukan. Dan kita tetap harus terus menjaga agar hati kita dipenuhi oleh keinginan yang bernyala-nyala agar sebanyak mungkin orang datang mengenalNya lebih baik. “Kamu dan saya, anak-anak Allah, ketika kita melihat orang-orang, kita harus melihat jiwa-jiwa:inilah jiwa yang perlu pertolongan kita, inilah jiwa yang harus mengharapkan pengertian, inilah jiwa yang perlu ditemani, inilah jiwa yang harus diselamatkan” [24].


José Manuel Antuña


[1] Santo Josemaria, Tempa, no. 356.

[2] Santo Josemaria, Surat, 9 Januari 1932, no. 9.

[3] Fernando Ocáriz, Surat, 14 Februari 2017, no. 9.

[4] Instruksi, 19 March 1934, no. 27, dikutip dari The Way, Critical Historical Edition, note to no. 942.

[5] Misa Romawi, Doa Syukur Agung III.

[6] Benediktus XVI, Audiensi Umum, 10 September 2008.

[7] Santo Josemaria, Catatan Renungan, April 1955, di Obras 1956, XI, p. 9.

[8] Santo Josemaria, Sendiri bersama Allah, no. 273.

[9] Berdasarkan Javier Echevarria, Homili, 5 September 2010 (Romana, no. 51, Juli-Desember 2010).

[10] Santo Josemaria, Tempa, no. 969.

[11] Fransiskus, Seruan Apostolik. Christus vivit (25 Maret 2019), no. 288.

[12] Wawancara oleh Pilar Urbano dengan Bapa Javier Echevarria, Época, 20-IV-1994, dikutip di Alvaro Sánchez León, En la tierra como en el cielo, Madrid, Rialp 2019, pp. 349-350.

[13] Santo Josemaria, Surat, 31 Mei 1954, no. 22.

[14] Fernando Ocáriz, Surat, 9 Januari 2018, no. 5.

[15] Santo Josemaria, Surat, 31 Mei 1954, no. 16.

[16] Ibid.

[17] Santo Josemaria, Surat, 24 Oktober 1942, no. 9; cf. Para Sahabat Allah, no. 37.

[18] Benediktus XVI, Homili, 13 May 2007; Fransiskus, Homili, 3 May 2018.

[19] Santo Josemaria, Catatan dari Bincang-Bincang, 10 Mei 1967, di Crónica 1967, p. 605.

[20] Fernando Ocáriz, Surat, 14 February 2017, no. 9.

[21] Saint Josemaria, Tempa, no. 565.

[22] Di Madrid pada tahun 1930-an, “bersiul” adalah sebuah istilah yang berarti “bergabung menjadi anggota Opus Dei”. Sekarang ini istilah tersebut telah menjadi istilah kekeluargaan dalam Karya Kerasulan ini.

[23] Santo Josemaria, Catatan dari Bincang-Bincang, 24 April 1967, di Crónica 1967, p. 506.

[24] Santo Josemaria, Renungan, 25 Februari 1963, di Crónica 1964, IX, p. 69.