Harapan Penuh Sukacita pada Kristus

Membiarkan diri tersentuh oleh Cinta Kasih Tuhan. Membuka hati kita kepada Kristus. Harapan membuka dunia bagi kita karena demikianlah Tuhan bisa menjalankan karya-Nya dalam diri kita.

Opus Dei - Harapan Penuh Sukacita pada Kristus

Apa yang memberi nilai pada hidup ini? Apa yang memberi hidup saya nilainya? Di dunia saat ini, jawaban untuk pertanyaan ini sering kali bergantung pada dua poin: pertama, kesuksesan yang dapat saya capai dan kedua, pendapat orang tentang saya. Kedua poin ini memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Wajar saja jika kita berharap kita akan mencapai apa yang kita upayakan, karena tidak ada orang yang memulai sesuatu dengan tujuan untuk gagal. Dan pendapat orang lain itu memang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga, sosial, dan profesional kita. Namun, dalam hidup ini selalu akan ada kegagalan, kecil atau tidak begitu kecil. Dan sering terjadi bahwa orang membentuk opini yang tidak benar tentang kita. Pengalaman akan kegagalan, kehilangan kedudukan, atau kesadaran akan ketidakmampuan kita sendiri --tidak hanya dalam kehidupan profesional, tetapi bahkan dalam upaya untuk menjalani hidup Kristiani-- dapat menyebabkan keputusasaan, kekecewaan, dan akhirnya kehilangan harapan. Tekanan-tekanan untuk mencapai sukses di tingkatan apapun: tekanan untuk menjadi seorang yang terpandang, atau setidaknya untuk dapat mengaku sebagai seorang yang sukses, pada saat-saat ini terasa lebih kuat daripada dulu. Memang, belakangan ini orang lebih fokus pada apa yang dapat kita lakukan dari pada siapa kita iniApa yang memberi nilai pada hidup ini? Apa yang memberi hidup saya nilainya? Di dunia saat ini, jawaban untuk pertanyaan ini sering kali bergantung pada dua poin: pertama, kesuksesan yang dapat saya capai dan kedua, pendapat orang tentang saya. Kedua poin ini memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Wajar saja jika kita berharap kita akan mencapai apa yang kita upayakan, karena tidak ada orang yang memulai sesuatu dengan tujuan untuk gagal. Dan pendapat orang lain itu memang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga, sosial, dan profesional kita. Namun, dalam hidup ini selalu akan ada kegagalan, kecil atau tidak begitu kecil. Dan sering terjadi bahwa orang membentuk opini yang tidak benar tentang kita.

Pengalaman akan kegagalan, kehilangan kedudukan, atau kesadaran akan ketidakmampuan kita sendiri --tidak hanya dalam kehidupan profesional, tetapi bahkan dalam upaya untuk menjalani hidup Kristiani-- dapat menyebabkan keputusasaan, kekecewaan, dan akhirnya kehilangan harapan. Tekanan-tekanan untuk mencapai sukses di tingkatan apapun: tekanan untuk menjadi seorang yang terpandang, atau setidaknya untuk dapat mengaku sebagai seorang yang sukses, pada saat-saat ini terasa lebih kuat daripada dulu. Memang, belakangan ini orang lebih fokus pada apa yang dapat kita lakukan dari pada siapa kita ini (seorang putra atau putri, orang tua, kakak atau adik, kakek-nenek), Akibatnya orang lebih rentan menghadapi berbagai jenis kegagalan dalam hidup. Masalah-masalah yang dulu dapat diselesaikan atau diterima dengan ketabahan, sekarang sering kali dapat menjadi penyebab kesedihan atau frustrasi yang dalam, bahkan pada usia yang sangat muda. Di dunia yang tuntutannya begitu tinggi, yang dapat membawa kekecewaan yang dalam, apakah masih mungkin untuk hidup seperti nasihat Santo Paulus, bersukacitalah dalam pengharapan (Rom 12:12)?

Tekanan untuk menjadi seorang yang terpandang atau setidknya untuk dapat mengaku sebagai seorang yang sukses, pada saat-saat ini terasa lebih kuat daripada dulu; memang , belakangan ini orang lebih fokus pada "apa" yang dapat kita lakukan dari pada "siapa" kita ini.

Dalam suratnya pada bulan Februari 2017, Bapa Prelat Opus Dei memberi pencerahan dengan satu-satunya jawaban yang benar untuk pertanyaan ini dan yang beliau suarakan dengan tegas “ya!”: “Kami berdoa, ya Tuhan, agar karena iman kami pada Cinta-Mu, kami dapat hidup setiap hari dengan cinta yang selalu baru, dalam harapan yang penuh sukacita. ”[1] Meskipun terkadang kita tergoda untuk kehilangan harapan. Jika kita putus harapan berarti kita menutup mata terhadap Kasih Allah dan kedekatan-Nya senantiasa pada kita. Seperti yang diingatkan Paus Fransiskus dalam katekese tentang harapan: “Harapan Kristiani itu teguh; oleh karena itu tidak akan mengecewakan… Harapan ini tidak didasarkan pada apa yang mampu kita lakukan atau siapa kita ini, atau bahkan pada apa yang mungkin kita percayai. Fondasinya, fondasi pengharapan Kristiani itu adalah apa yang harus kita imani dengan teguh dan paling pasti, yaitu cinta Allah pada diri kita masing-masing. Mudah untuk mengatakan 'Tuhan mencintai kita.' Kita semua mengatakannya. Tetapi pikirkanlah sejenak: apakah kita masing-masing dapat berkata, 'Saya yakin Tuhan mencintai saya'? Tidaklah mudah untuk mengatakannya. Tapi ini benar. ”[2]

Harapan yang besar

Dalam khotbah dan percakapannya, Santo Josemaria sering menyebut para umat Kristiani perdana. Bagi mereka, iman bukanlah sekadar ajaran yang diterima atau suatu model tentang bagaimana harus hidup, melainkan suatu anugerah hidup baru: anugerah Roh Kudus, yang telah dicurahkan ke dalam hati mereka setelah kebangkitan Kristus. Bagi umat Kristiani perdana, iman kepada Tuhan adalah suatu realitas yang mereka alami dan bukan sekadar keyakinan intelektual. Tuhan adalah Seorang yang benar-benar hadir di hati mereka. Santo Paulus menulis kepada umat beriman di Efesus, mengacu pada kehidupan mereka sebelum mereka mengetahui Injil: “ingatlah bahwa pada waktu itu Anda terpisah dari Kristus ... bukan orang Yahudi dan tidak mendapat perjanjian-perjanjian, tidak memiliki harapan dan tanpa Tuhan di dunia (Ef 2:12). Sebaliknya, dengan iman, mereka menerima pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan kita, karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang telah diberikan kepada kita (Rm. 5: 5).

Dua ribu tahun kemudian, Tuhan terus memanggil kita pada "harapan besar" ini, yang membuat semua harapan atau kekecewaan yang lain menjadi suatu yang relatif. “Kami membutuhkan harapan yang besar dan kecil yang membuat kami terus maju dari hari ke hari. Tetapi ini tidak akan cukup tanpa harapan besar, yang harus melampaui segalanya. Hanya Tuhan lah harapan yang besar ini, yang mencakup seluruh realitas dan yang dapat melimpahkan kepada kita apa yang kita sendiri, tidak akan mampu mencapai. ”[3]

Bagi umat Kristiani perdana, iman kepada Tuhan adalah suatu realitas yang mereka alami dan bukan sekadar keyakinan intelektual. Tuhan adalah Seorang yang benar-benar hadir di hati mereka.

Ada baiknya untuk bertanya pada diri sendiri apakah kita telah menjadi "terbiasa" dengan realitas akan Tuhan yang menyelamatkan, Tuhan yang datang untuk memenuhi kita dengan harapan; kita begitu terbiasa sehingga kadang-kadang kita melihat di dalamnya tidak lebih dari sekadar ide yang sedikit berpengaruh pada hidup kita. Salib, yang awalnya adalah suatu kegagalan besar bagi mereka yang berharap di dalam Yesus, menjadi kemenangan paling menentukan dalam sejarah pada saat Kebangkitan-Nya. Sungguh kemenangan yang menentukan karena ini tidak hanya terbatas pada Yesus; kita semua adalah pemenang di dalam Dia. Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita kepada Yang telah Bangkit (1 Yoh 5: 4). Murid-murid di jalan menuju Emaus memandang masa lalu dengan nostalgia: Kami berharap… (Luk 24:21). Mereka tidak menyadari bahwa Yesus sedang berjalan bersama mereka, bahwa Dia akan membuka mata mereka ke masa depan yang indah, suatu sarana melawan kekecewaan. “Nyalakan api iman Anda! Kristus bukanlah sosok masa lalu. Dia bukanlah ingatan yang menghilang dalam sejarah. Dia hidup! Seperti yang dikatakan Santo Paulus, Iesus Christus heri et hodie: ipse et in saecula! ‘Yesus Kristus tetap sama kemarin dan hari ini - ya, dan selamanya!’ ”[4]

Membiarkan diri kita disentuh oleh Kasih Allah

Santo Paulus menyimpulkan kehidupan Kristiani sebagai berikut: Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. (Gal 2: 19-20). Bagi Santo Paulus, Kristianitas terutama berarti bahwa Kristus telah wafat bagi kita, telah bangkit, dan dari Surga telah mengirim Roh Kudus-Nya ke dalam hati kita, yang mengubah kita dan membuka mata kita pada kehidupan baru. “Siapapun yang tesentuh oleh cinta mulai melihat apa sebenarnya 'hidup' itu. Dia mulai memahami arti dari kata pengharapan. ”[5] Seperti kepada wanita Samaria, Maria Magdalena, Nikodemus, Dimas si pencuri yang baik, dan murid-murid di Emaus, Yesus memberi kita cara baru memandang dunia ini: cara melihat diri kita sendiri, memandang orang lain, dan memandang Tuhan. Dan hanya dengan cara pandang baru yang diberikan Tuhan ini, kita akan memahami perjuangan kita untuk menjadi lebih baik dan menyerupai Dia. Jika tidak, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; (Pengkhotbah 2:11).

Dengan wafat di kayu Salib “untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita,” [6] Kristus membebaskan kita dari hubungan kita dengan Tuhan yang hanya berdasarkan atas hukum-hukum dan larangan negatif, dan akan membawa kita pada kehidupan Kasih. Kamu telah… mengenakan manusia baru, yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol 3: 9-10). Ini berarti mengenal Cinta Tuhan dan membiarkan diri disentuh oleh-Nya, untuk memulai lagi di jalan menuju kekudusan. Kuncinya adalah menemukan Allah dan membiarkan diri kita diubah oleh-Nya. Bapa Prelat Opus Dei mengingatkan kita tentang hal ini tak lama setelah beliau dipilih menjadi Bapa Prelat. “Apakah prioritas yang Tuhan harapkan dari kita di saat-saat bersejarah bagi dunia, Gereja dan Opus Dei ini? Jawabannya jelas: yang pertama adalah menjaga persatuan kita dengan Tuhan, dengan penuh kasih seperti orang yang sedang jatuh cinta, dimulai dengan kontemplasi Tuhan kita Yesus Kristus menuju kontemplasi wajah Allah Bapa yang Maharahim.Apa yang Santo Josemaria katakan ini selalu berlaku: 'Semoga Anda mencari Kristus, semoga Anda menemukan Kristus, semoga Anda mengasihi Kristus.' ”[7] Persatuan hidup dengan Tuhan memungkinkan kita untuk menjalani Hidup yang Dia tawarkan kepada kita. Mencari wajah Kristus dan membiarkan diri kita dipandang oleh-Nya adalah cara yang luar biasa untuk memperdalam kehidupan Cinta ini.

Membiarkan diri kita senantiasa di bawah pandangan Kristus

Kristus adalah wajah Kerahiman Tuhan karena di dalam Dia Tuhan berbicara kepada kita dalam bahasa yang disesuaikan pada kebutuhan kita. Ini adalah bahasa manusia yang berusaha memuaskan dahaga akan cinta yang tak terhingga yang Dia sendiri berkenan menempatkannya dalam diri kita masing-masing. “Dan Anda… pernahkah Anda merasakan tatapan Allah ini pada Anda, tatapan kasih yang tak terhingga yang melampaui segala dosa, keterbatasan, dan kegagalan Anda, yang terus mempercayai Anda dan melihat hidup Anda dengan harapan? Apakah Anda menyadari nilai diri Anda bagi Tuhan, yang karena cinta-Nya telah memberi Anda segalanya? Seperti Santo Paulus mengajarkan, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah wafat bagi kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5: 8). Apakah kita sungguh memahami kekuatan kata-kata ini? ”[8]

pernahkah Anda merasakan tatapan Allah ini pada Anda, tatapan kasih yang tak terhingga yang melampaui segala dosa, keterbatasan, dan kegagalan Anda, yang terus mempercayai Anda dan melihat hidup Anda dengan harapan? (Bapa Paus Fransiskus)

Untuk menemukan wajah Tuhan, kita harus menempuh jalan adorasi dan kontemplasi . “Betapa baiknya berada di hadapan Salib, atau berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus, dan berada di Hadirat-Nya. Alangkah baiknya bagi diri kita ketika Dia sekali lagi berkenan menyentuh hidup kita dan mendorong kita untuk berbagi dengan hidup barunya! ”[9] Seperti kata Bapa Paus pada satu kesempatan, ini berarti“ memandang wajah Tuhan. Namun di atas segalanya hal ini adalah menyadari bahwa Tuhan juga memandang kita. ”[10] Mungkin tampak mudah untuk membiarkan diri kita dipandang oleh Tuhan, atau berada di hadirat Tuhan. Tapi di dunia yang hiperaktif yang penuh dengan stimulan ini, hal itu dapat menjadi suatu tantangan. Dan kita perlu memohon karunia Allah untuk dapat masuk ke dalam keheningan-Nya dan membiarkan diri kita dipandang oleh-Nya. Kita harus meyakinkan diri bahwa berada di hadapan-Nya sudah merupakan suatu doa yang luar biasa dan sangat efektif, meskipun saat itu kita belum membuat resolusi apa-apa.

Merenungkan wajah Kristus itu sendiri memiliki daya transformasi yang tidak dapat kita ukur dengan ukuran manusiawi. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram (Mz 16: 8-9).

Wajah Tuhan Yesus juga adalah wajah Dia yang Tersalib. Saat menghadapi kelemahan kita sendiri, kita dapat berpikir dengan alasan yang terlalu manusiawi bahwa kita telah mengecewakan Dia, dan bahwa kita tidak dapat begitu saja mendekati-Nya seolah-olah semua baik-baik saja. Tetapi keraguan ini datang dari ide yang salah tentang Cinta Tuhan. “Ada asketisme palsu yang menampilkan Tuhan kita di kayu Salib penuh kemarahan dan pemberontakan. Tubuh-Nya yang terluka seolah-olah mengancam umat manusia: 'Kamu telah menghancurkan aku, aku akan melemparkan paku, salib dan duriku kepadamu!' Orang-orang seperti itu tidak mengenal roh Kristus. Tuhan Yesus menderita segala yang dapat Dia derita - dan sebagai Allah, betapa besar kemampuannya untuk menderita! Namun, Cinta-Nya jauh lebih besar lagi dari apa yang dapat Dia derita… Dan setelah Dia wafat, Dia pun membiarkan sebuah tombak membuka luka lain, sehingga Anda dan saya dapat menemukan perlindungan di dalam Hati-Nya yang penuh kasih. ”[11]

Betapa baiknya Bapa Pendiri kita memahami Cinta yang terpancar dari wajah Yesus! Dari Salib Dia melihat kita dan berkata, “Aku mengenalmu dengan sempurna. Sebelum mati aku dapat melihat semua kelemahan dan kegagalanmu, semua kejatuhan dan pengkhianatanmu. Dan mengenalmu sedemikian baiknya, Aku pun bersedia memberikan hidupku untukmu. ” Kristus memandang kita dengan pandangan yang penuh kasih dan pengharapan. Dia melihat kebaikan di dalam diri kita - kebaikan diri kita – yang Tuhan sendiri berikan ketika memanggil kita agar kita eksis. Kebaikan yang layak untuk Cinta, Cinta yang terbesar (lihat Yoh 3:16; 15:13).

Berjalan bersama Kristus, meninggalkan jejak di dunia

Pandangan Yesus akan membantu kita bereaksi dengan penuh harapan saat kita menghadapi kejatuhan, kesalahan, dan dengan tangan hampa. Ini bukan hanya soal diri kita yang harus menjadi lebih baik. Tuhan juga ingin mengandalkan kita untuk mengubah dunia dan memenuhi dengan Cinta-Nya. Panggilan ini juga terkandung dalam pandangan Kristus yang penuh kasih. “Anda mungkin akan berkata, 'Romo, tetapi saya memiliki banyak kelemahan, saya orang berdosa, apa yang dapat saya lakukan?' Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak memikirkan siapa kita sekarang atau dulu, apa yang telah atau belum kita lakukan. Justru sebaliknya. Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan berpikir akan semua yang harus kita berikan, akan cinta kasih yang mampu kita sebarkan. Taruhan-Nya adalah masa depan, hari esok. Yesus selalu mengarahkan Anda ke masa depan, bukan ke museum. ”[12]

Pandangan Tuhan kita adalah tatapan Cinta yang selalu mengukuhkan orang dan mengatakan, "Betapa baiknya bahwa engkau eksis! Betapa indahnya memiliki engkau di sini bersama-Ku! ”[13] Pada saat yang sama, dengan mengenal kita dengan sempurna, Tuhan juga mengandalkan kita. Menemukan pandangan Tuhan yang mengukuhkan ini adalah cara terbaik untuk memulihkan harapan kita dan sekali lagi kita akan merasa didorong ke atas, menuju Cinta, dan kemudian membawa Cinta ini ke seluruh dunia. Inilah kepastian terkuat kita: Kristus telah wafat demi aku karena Dia menganggap itu baik untuk Dia lakukan. Kristus yang sungguh-sungguh mengenal aku, memiliki kepercayaan padaku. Sebagaimana Sang Rasul berseru: Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Dia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Dia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rom 8: 31-32).

Kepastian ini memacu kita untuk memulai sekali lagi, untuk meluncur kembali ke seluruh dunia untuk meninggalkan jejak Kristus di atasnya. Kita tahu bahwa kita akan sering tersandung, bahwa kita tidak akan selalu mencapai apa yang ingin kita lakukan, tetapi pada akhirnya bukan itu yang terpenting. Yang penting adalah bahwa kita terus maju, dengan mata tertuju pada Tuhan kita: expectatem beatam spem, menunggu dengan harapan yang penuh sukacita. [14] Dialah yang menyelamatkan kita dan mengandalkan kita untuk memnuhi dunia dengan kedamaian dan sukacita. “Tuhan telah menciptakan kita untuk berdiri tegak. Ada satu lagu indah yang dinyanyikan para pendaki gunung saat mereka mendaki. Bunyinya seperti ini: 'Ketika berjalan mendaki tidak masalah jika kita tersandung dan jatuh, selama kita bangun lagi.' ”[15] Berdiri tegak, penuh sukacita, percaya diri, terus melaju dengan misi untuk menerangi“ semua jalan di bumi dengan api Kristus yang kamu bawa dalam hatimu. ”[16]

Lucas Buch


[1] Fernando Ocáriz, Surat Pastoral, 14 Februari 2017.

[2] Paus Fransiskus, Audiensi Umum, 15 Februari 2017.

[3] Benediktus XVI, Ensiklik Spe Salvi, 30 November 2007, no. 31.

[4] Santo Josemaria, Jalan, no. 584.

[5] Benediktus XVI, Spe Salvi, no. 27.

[6] Missale Romanum, Nicene Creed.

[7] Fernando Ocáriz, Surat Pastoral, 14 Februari 2017, no. 30 (lih. Jalan, no. 382).

[8] Pesan Paus Fransiskus, 15 Agustus 2015.

[9] Paus Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (26 November 2013), no. 264.

[10] Paus Fransiskus, Pidato, Malam Pentakosta dengan Gerakan Gerejawi, 18 Mei 2013.

[11] St Josemaria, Jalan Salib, Stasiun Kedua Belas, no. 3.

[12] Paus Fransiskus, Doa Vigili dengan Kaum Muda, 30 Juli 2016.

[13] Bdk. Joseph Pieper, Iman. Harapan. Cinta (dikutip oleh Benediktus XVI dalam pidato Natal 2011 di Kuria Roma).

[14] Missale Romanum, Ritus Komuni.

[15] Paus Fransiskus, Homili, 24 April 2016.

[16] Santo Josemaria, Jalan. no 1.