Sesuatu yang Hebat Itu Cinta (V): Bagaimana kita menemukan panggilan kita?

Ada banyak kisah panggilan sebagaimana halnya ada banyak pria dan wanita. Artikel ini menawarkan beberapa tanda yang dapat membantu setiap orang mencapai keyakinan akan panggilannya sendiri dari Tuhan.

Opus Dei - Sesuatu yang Hebat Itu Cinta (V): Bagaimana kita menemukan panggilan kita?

Matahari telah terbenam di Yudea. Nikodemus datang kepada Yesus untuk mencari jawaban atas kegelisahan di hatinya. Dengan raut wajahnya yang diterangi oleh nyala lampu yang berkelap-kelip, dialognya dengan Yesus membuka baginya sebuah dunia yang baru dan penuh misteri. Jawaban seorang Nazaret untuk pertanyaannya membuatnya terkesima. Yesus meyakinkan dia: Angin bertiup ke mana ia mau, dan kamu mendengar desiran suaranya, tetapi kamu tidak tahu dari mana datangnya atau ke mana perginya; demikian juga dengan setiap orang yang dilahirkan dari Roh (Yoh 3: 8). Sebuah panggilan, setiap panggilan, adalah sebuah misteri, dan menemukannya adalah karunia Roh.

Kitab Amsal mengatakan: Tiga hal terlalu indah bagiku; empat aku tidak mengerti: jalan dari seekor rajawali di langit, jalan seekor ular di atas batu, jalan sebuah kapal di laut lepas, dan jalan seorang manusia dengan pasangannya (Ams 30: 18-19). Terlebih lagi, tanpa pertolongan Tuhan, siapa yang dapat mengartikan bekerjanya rahmat dalam sebuah jiwa, dan menemukan makna dan tujuan hidup? Tanpa dibimbing oleh karunia-karunia Roh Kudus, siapa yang dapat mengetahui dari mana datangnya atau ke mana perginya — nafas ilahi di dalam jiwa yang seringkali hanya terdengar sebagai kerinduan dan kegelisahan, firasat dan harapan? Ini adalah sesuatu yang benar-benar melampaui kita. Karena itu, hal pertama yang kita perlukan untuk bisa memahami panggilan pribadi kita adalah kerendahan hati: berlutut di hadapan sang Khalik yang tak terlukiskan, membuka hati kita pada karya Roh Kudus, selalu memberikan kita kejutan.

berapa banyak jalan yang ada untuk mencapai Tuhan?sebanyak jumlah manusia yang ada (Kardinal Ratzinger)

Oleh karena itu untuk menemukan panggilan kita sendiri, atau membantu seseorang untuk melakukan hal yang sama, tidaklah mungkin "menawarkan cara-cara yang sudah ditentukan sebelumnya, maupun metode atau aturan-aturan yang kaku." [1] Hal ini seperti mencoba "menempatkan rel pada karya orisinal Roh Kudus, ”[2] yang berhembus ke mana saja ia mau. Suatu kali Kardinal Ratzinger pernah ditanya: "berapa banyak jalan yang ada untuk mencapai Tuhan?" Dengan kesederhanaan meluluhkan dia menjawab: "sebanyak jumlah manusia yang ada." [3] Ada banyak sejarah panggilan sebanyak jumlah pria dan wanita. Berikut ini kita akan mencoba menunjukkan beberapa tanda yang paling sering dijumpai untuk mencapai suatu keyakinan akan panggilan seseorang, agar kita bias mengenalinya.

Hati yang resah

Nikodemus merasakan kegelisahan di hatinya. Dia telah mendengar Yesus berkhotbah dan tergerak oleh kata-katanya. Meskipun demikian, beberapa ajaran Yesus telah membuatnya merasa tak nyaman. Tentu saja, menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus telah membuatnya takjub, namun ia juga merasa resah oleh otoritas dengan mana Yesus mengusir para pedagang dari Bait Suci, menyebutnya “rumah Bapaku” (lih. Yoh 2:16). Siapa yang berani bicara seperti ini. Dalam hatinya dia merasakan sebuah harapan yang berkembang yang sulit untuk dia abaikan. Mungkinkah dia ini Mesias? Tapi dia masih diselimuti oleh banyak pertanyaan dan keraguan. Dia tidak dapat memaksakan dirinya untuk mengikuti Yesus secara terang-terangan, meskipun dia ingin menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Jadi dia pergi kepada-Nya di malam hari: Rabi, kami tahu bahwa kamu adalah seorang guru yang berasal dari Tuhan; karena tak ada seorangpun yang dapat melakukan tanda-tanda yang kamu lakukan, kecuali Tuhan menyertainya (Yoh 3: 2). Hatinya resah.

Hal yang sama terjadi pada orang lain dalam Injil, seperti pemuda yang suatu hari datang kepada Yesus dan bertanya: Guru, perbuatan baik apa yang harus saya lakukan, untuk memiliki kehidupan yang kekal? (Mat 19:16). Dia tidak puas dengan hidupnya. Hatinya gelisah. Dia merasakan bahwa dia mampu melakukan lebih banyak. Yesus berkata kepadanya bahwa ia benar untuk mencari: Kamu kekurangan satu hal ... (Markus 10: 21). Di sini kita juga teringat rasul Andreas dan Yohanes. Ketika Yesus melihat mereka mengikuti-Nya, Ia bertanya: Apa yang kamu cari? (Yoh 1:38). Semua orang yang saya sebutkan di atas adalah "pencari." Mereka mencari sebuah kesempatan yang luar biasa yang akan mengubah hidup mereka dan menjadikannya sebuah petualangan. Hati mereka terbuka dan lapar akan banyak hal, dipenuhi dengan mimpi-mimpi dan kerinduan-kerinduan. Gelisah.

Seorang anak muda suatu ketika bertanya kepada St Josemaría bagaimana seseorang merasakan sebuah panggilan kepada Opus Dei. Dia menjawab: "Ini bukanlah masalah perasaan, anakku, meskipun kita menyadari ketika Tuhan memanggil kita. Hati tidak tenang, tidak puas .... Kamu tidak bahagia dengan dirimu sendiri! ”[4] Seringkali saat mencari panggilan sendiri, semuanya diawali dengan keresahan di dalam hati.

Kehadiran yang penuh kasih

Tapi apa sebenarnya kegelisahan ini? Dari mana asalnya? Dalam menceritakan adegan pemuda yang mendekat kepada Tuhan kita, St. Markus mengatakan bahwa Yesus yang menatapnya mengasihinya (Mrk 10: 21). Dia melakukan hal yang sama dengan kita. Entah bagaimana kita merasakan dalam jiwa kita "kehadiran" sebuah cinta khusus yang memilih kita untuk sebuah misi yang unik. Tuhan membuat dirinya hadir di hati kita, dan mencari sebuah “perjumpaan,” komuni. Akan tetapi ini belum bisa tercapai, dan karenanya kita gelisah.

Panggilan itu menarik tapi saat sama mengakutkan; kita diajak untuk menyerahkan diri kepada cinta yang ilahi sambil kita merasa takut atas pilihan bebas kita

Kehadiran Tuhan yang penuh kasih dalam jiwa ini dapat dimanifestasikan dalam berbagai cara: haus akan keintiman yang lebih besar dengan-Nya; melalui hidup saya sendiri, keinginan untuk memuaskan kehausan Tuhan akan jiwa-jiwa; keinginan untuk membangun Gereja, keluarga Allah di dunia; kerinduan untuk melihat talenta kita benar-benar berbuah; mimpi meringankan begitu banyak penderitaan di setiap sudut dunia; kesadaran akan berapa banyak anugerah yang telah kita terima: "Mengapa saya sudah menerima begitu banyak dan yang lain begitu sedikit?"

Panggilan Tuhan juga dapat diungkapkan melalui peristiwa-peristiwa yang tampaknya suatu kebetulan, yang menggerakkan hati kita dan meninggalkan jejak di sana. Ketika merenungkan kehidupannya sendiri, St Josemaría berkata: “Tuhan kita sedang mempersiapkan saya, bukan saya yang mempersiapkan saya sendiri, dengan memanfaatkan hal-hal yang tampaknya sederhana untuk menanamkan keresahan ilahi dalam jiwa saya. Karena itu saya memahami dengan sangat baik bahwa kasih, begitu manusiawi dan begitu ilahi, yang menggerakkan St Theresia dari Kanak Kanak Yesus ketika, membalik-balik halaman sebuah buku, tiba-tiba ia menemukan gambar salah satu tangan Sang Penebus yang terluka. Hal-hal seperti itu juga terjadi pada saya — hal-hal yang menggerakkan saya dan menuntun saya pada Komuni setiap hari, menuju penyucian, pengakuan dosa, dan pertobatan ”[5]

Kehadirannya yang penuh kasih kadang-kadang juga ditemukan melalui orang-orang atau cara. menjalani Injil yang meninggalkan jejak ilahi yang abadi pada jiwa kita. Meskipun kadang-kadang mungkin merupakan peristiwa atau pertemuan tak terduga yang mengubah hidup kita, biasanya panggilan kita terbentuk melalui cara kita menjalani hidup kita hingga saat ini. Akhirnya, kata-kata dari Kitab Suci dapat terukir di hati kita dan meninggalkan rasa cinta yang abadi selama hidup kita. Inilah yang terjadi pada St Teresa dari Kalkuta, misalnya, dengan mendengarkan seruan Yesus di kayu Salib: Aku haus (Yoh 19:28); atau kepada St Fransiskus Xaverius, yang hidupnya diubah oleh pertanyaan Yesus: Apa untungnya bagi seseorang, jika ia memiliki seluruh isi dunia namun kehilangan hidupnya? (Mat 16:26).

Tetapi mungkin apa yang paling khas dari kegelisahan dalam hati ini adalah bahwa hal itu ditandai oleh apa yang dapat kita sebut “seruan yang menyakitkan.” Seperti yang dikatakan St Paulus VI, panggilan Allah datang kepada kita sebagai “suara yang meresahkan sekaligus menenangkan di saat yang sama, suara yang lembut dan angkuh, suara yang menyusahkan namun penuh kasih. ”[6] Seruan itu menarik sekaligus mendorong kita; ia menggerakkan kita untuk meninggalkan diri kita demi cinta ilahi, sementara memunculkan rasa takut akan risiko kehilangan kebebasan kita. “Kita menolak mengatakan 'ya' kepada Tuhan; pada saat yang sama kita merasa ingin dan tidak ingin. "[7]

Menghubungkan titik-titik dalam doa

Nikodemus datang kepada Yesus didorong oleh perasaan gelisahnya. Sosok Tuhan kita yang penuh kasih telah merasuk dalam hatinya; dia sudah mulai mencintai-Nya, tetapi dia perlu berbicara dengan-Nya. Dalam dialog berikutnya, Sang Guru membukakan cakrawala baru untuknya: Sungguh, sungguh, Aku berkata kepadamu, kecuali seseorang dilahirkan kembali, dia tidak dapat melihat kerajaan Allah. Dia mengundangnya ke sebuah kehidupan baru, awal yang baru: dilahirkan dari air dan Roh (Yoh 3: 5). Nikodemus gagal memahami kata-kata Tuhan kita, dan dia bertanya dengan kesederhanaannya: bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? (lih. Yoh 3: 9). Dalam pertemuan tatap muka ini, ia mulai menyadari siapa dirinya bagi Yesus, dan siapa Yesus seharusnya baginya.

Agar kegelisahan dalam hati seseorang itu membawa arti yang sebenarnya dalam memahami panggilan seseorang, hal itu perlu "dibaca" dan ditafsirkan dalam doa, dalam dialog kita dengan Tuhan. “Mengapa hal ini terjadi padaku sekarang, Tuhan? Apa yang ingin kamu coba katakan kepadaku? Mengapa hatiku memiliki kerinduan-kerinduan dan keinginan-keinginan ini? Mengapa aku begitu gelisah olehnya dan orang-orang di sekitarku tidak terpengaruh? Mengapa kamu sangat mencintaiku? Bagaimana saya dapat menggunakan karunia-karunia yang telah kamu berikan kepadaku ini dengan sebaik-baiknya? ”Hanya kebiasaan sikap doa seperti ini yang memungkinkan kita memahami dengan benar kepedulian Allah yang penuh kasih — Karya Penyelamat-Nya — melalui peristiwa-peristiwa dalam hidup kita, melalui orang-orang yang kita kenal , dan bahkan melalui bagaimana karakter kita telah dibentuk, dengan minat dan kemampuan kita. Seolah-olah sepanjang jalan hidup kita, Tuhan telah "menggambar beberapa titik," yang mana hanya pada saat sekarang inilah, dalam menyatukan titik-titik tersebut dalam doa, mereka membentuk sebuah gambar yang dapat dikenali.



Hal pertama dan terpenting adalah mendekat kepada Yesus dalam doa, dan belajar untuk melihat hidup kita sendiri dengan mata Tuhan

"Pemicu"

Dalam hal ini, Benediktus XVI pernah berkata: “rahasia dari suatu panggilan terletak pada hubungan dengan Tuhan, yang berkembang dalam doa, tepatnya, dalam keheningan batin, dalam kapasitas untuk mendengarkan, mendengar bahwa Tuhan itu dekat. Dan ini juga terjadi sebelum suatu keputusan, yaitu pada saat memutuskan dan menetapkan, serta sesudahnya, bilamana seseorang ingin setia dan bertahan di jalannya. ”[8] Oleh karena itu bagi seseorang yang mencoba untuk memutuskan panggilan mereka, hal pertama dan terpenting adalah mendekat kepada Yesus dalam doa, dan belajar untuk melihat hidup kita sendiri dengan mata Tuhan. Mungkin orang itu akan mengalami seperti apa yang terjadi pada orang buta yang matanya diurapi Yesus dengan air liur. Pada awalnya dia melihat dengan penglihatan yang kabur, dan manusia tampak seperti pohon-pohon yang sedang berjalan. Tetapi dia membiarkan Tuhan kita melanjutkan, dan pada akhirnya melihat semuanya dengan jelas (lih. Mrk 8: 22-25).

Dua tahun setelah pertemuan malam itu dengan Yesus terjadi suatu peristiwa yang akan memaksa Nikodemus untuk membuat suatu keputusan dan menunjukkan dirinya secara terang-terangan sebagai seorang murid Tuhan kita. Didorong oleh para imam kepala dan orang-orang Farisi, Pilatus menyalibkan Yesus dari Nazaret. Yusuf dari Arimatea memperoleh izin untuk mengambil tubuh-Nya dan menguburkan-Nya. Santo Yohanes menceritakan: "Nikodemus, yang sebelumnya datang kepada-Nya pada malam hari, juga datang" (Yoh 19:39). Salib Tuhan kita, diabaikan oleh murid-muridnya, dan mungkin contoh dari kesetiaan Yusuf dari Arimatea, menantang Nikodemus secara pribadi dan memaksanya untuk membuat keputusan: “Yang lain melakukan ini; apa yang akan saya lakukan untuk Yesus? "

Detonator adalah alat peledak kecil yang sensitif, biasanya dipicu oleh sebuah sekering atau percikan listrik, yang meledakkan bahan peledak utama yang lebih kuat dan kurang sensitif. Dalam proses mencari panggilan seseorang, sering kali ada peristiwa yang bertindak sebagai "pemicu" untuk semua kegelisahan yang ada di hati kita, memberikannya sebuah makna yang jelas dan menunjukkan jalan dengan dorongan untuk mengikutinya. Peristiwa ini bisa dari berbagai macam kejadian, dan muatan emosionalnya bisa lebih besar atau lebih kecil. Tetapi yang penting adalah bahwa, seperti kegelisahan di dalam hati, hal itu perlu “dibaca” dan ditafsirkan dalam doa.

Detonator atau pemicu bisa menjadi sebuah gerakan ilahi dalam jiwa, atau pertemuan yang tak terduga dengan suatu realitas supranatural, seperti yang terjadi dengan Paus Fransiskus ketika dia hampir berusia 17 tahun. Saat itu di bulan September, dan dia akan bertemu dengan beberapa teman untuk keluar dan bersenang-senang. Tetapi dia memutuskan untuk berhenti sejenak di gereja parokinya. Di sana ia melihat seorang imam yang tidak dikenalnya, tetapi sikap doanya yang khusuk mengesankannya, jadi ia memutuskan untuk mengaku dosa dengannya. “Dalam pengakuan dosa itu, sesuatu yang aneh terjadi pada saya. Saya tidak tahu apa itu, tetapi itu mengubah hidup saya; saya bisa mengatakan bahwa saya 'tertangkap basah.' ... Itu adalah sebuah kejutan, keajaiban dari sebuah perjumpaan; saya menyadari bahwa saya sedang ditunggu. Sejak saat itu bagi saya, Allah adalah yang ‘bertindak pertama kali.’ Kita mencari Dia, namun Dia mencari kita terlebih dahulu. Kita ingin menemukan-Nya, namun Dia menemukan kita terlebih dahulu.”[9]

Kadang suatu pemicu bisa berupa contoh hidup dari seorang teman dekat: "teman saya telah memberikan dirinya kepada Tuhan, dan apa yang akan saya lakukan?" Atau bisa juga sebuah ajakan hangat untuk menemani teman kita di jalur tertentu: "Mari datang dan lihat,” sebagaimana Filipus mendorong Nathanael (Yoh 1:46). Atau bahkan bisa juga berupa sebuah peristiwa yang tampaknya sepele, namun dipenuhi dengan makna bagi seseorang yang hatinya gelisah. Tuhan memanfaatkan bahkan hal-hal yang sangat kecil untuk membangkitkan jiwa kita. Seperti yang terjadi pada Santo Josemaría ketika, setelah hujan salju yang lebat, Cinta Tuhan datang mencarinya.

Namun, seringkali, alih-alih “ledakan” tiba-tiba, proses ini melibatkan pendewasaan iman dan kasih yang pelan-pelan, melalui doa. Sedikit demi sedikit, hampir tanpa disadari, dengan cahaya Tuhan seseorang mencapai kepastian moral akan panggilannya, dan tiba pada sebuah keputusan, di bawah dorongan rahmat. Beato John Henry Newman, ketika mengingat proses pertobatannya sendiri, menulis tentang keraguannya yang semakin besar akan kebenaran iman Anglikan: “Kepastian tentu saja adalah sebuah poin, tetapi keraguan adalah sebuah kemajuan; Saya belum dekat kepastian. Kepastian adalah sebuah tindakan refleks; untuk mengetahui bahwa seseorang tahu. Saya percaya saya tidak memiliki itu, sampai saat yang dekat pada penerimaan saya ke dalam Gereja Katolik ... Siapa yang dapat menentukan saatnya, bahwa skala dalam keseimbangan pendapat mulai berubah, dan apa yang sebelumnya merupakan sebuah kemungkinan yang lebih besar atas nama keyakinan berubah menjadi suatu keraguan positif terhadapnya?” [10] Proses bertahap pendewasaan dalam suatu keputusan untuk memberikan diri sendiri yang terjadi sedikit demi sedikit dan tanpa sebuah “kejutan” yang tiba-tiba, pada kenyataannya biasanya lebih pasti daripada yang dipicu oleh kilasan cemerlang dari sebuah tanda eksternal, yang dapat dengan mudah menyilaukan dan membingungkan kita.

Bagaimanapun, ketika dalam hidup kita, kita dihadapkan dengan "titik akhil-balik" ini, kita tidak hanya mulai melihat jalan kita dengan jelas; keinginan kita juga tergerak untuk menempuh jalan ini. Sebagaimana Santo Josemaría menulis: "Seandainya anda bertanya kepada saya bagaimana panggilan Ilahi dirasakan, bagaimana seseorang menjadi sadar akan hal itu, saya akan katakan bahwa itu adalah sebuah pandangan hidup yang baru. Hal itu seolah-olah sebuah cahaya baru dinyalakan di dalam diri kita, sebuah dorongan misterius.” [11] Panggilan itu adalah cahaya dan dorongan. Cahaya dalam pikiran kita, diterangi oleh iman, untuk "membaca" hidup kita; dorongan dalam hati kita, dibalut dengan kasih Tuhan, ingin mengikuti undangan Tuhan kita, bahkan meskipun mungkin dengan suatu "seruan menyakitkan" yang sering menandai keprihatinan Allah. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya meminta tidak hanya "cahaya untuk melihat jalan mereka tetapi juga kekuatan untuk ingin menyatukan diri mereka dengan kehendak Ilahi.” [12]

Bantuan bimbingan rohani

Kita tidak tahu apakah Nikodemus meminta nasihat dari murid-murid lain, sebelum atau sesudah pergi menemui Yesus. Mungkin Yusuf dari Arimatea sendirilah yang mendorongnya untuk mengikuti Yesus secara terbuka, tanpa takut kepada orang-orang Farisi lainnya. Jika demikian, Yusuf mungkin saja telah menuntunnya ke perjumpaan definitifnya dengan Yesus. Inilah yang terjadi dalam pendampingan atau bimbingan rohani: mampu mengandalkan nasihat dari seseorang yang berjalan bersama kita; seseorang yang mencoba hidup selaras dengan Tuhan, yang mengenal kita dengan baik dan mencintai kita.

Memang benar bahwa suatu panggilan itu selalu merupakan sesuatu antara Allah dan saya. Tidak ada seorangpun yang bisa melihat panggilan untuk saya. Tak ada yang bisa memutuskan untuk saya. Tuhan memanggil saya, mengundang saya, dan memberi saya kebebasan untuk menanggapinya, dan rahmat-Nya untuk mengikuti jalan ini. Namun demikian, di dalam proses membedakan dan memutuskan ini, adalah yang sangat membantu untuk bisa mengandalkan arahan seorang ahli — di antara alasan-alasan lainnya, untuk memastikan bahwa saya memiliki kualitas-kualitas obyektif yang diperlukan untuk menempuh jalan ini, dan untuk memastikan suatu niat jujur dalam keputusan saya untuk menyerahkan diri kepada Tuhan. Selain itu, sebagaimana yang diajarkan oleh Katekismus, seorang pembimbing rohani yang baik dapat menjadi seorang guru doa [13]: seseorang yang membantu kita membaca dan menafsirkan dalam doa kita kerinduan dalam hati kita dan peristiwa-peristiwa dalam hidup kita. Dengan demikian kita dapat dibantu untuk mengklarifikasi panggilan kita sendiri. Pada akhirnya, seseorang yang mungkin bisa memberi tahu kita suatu hari, seperti yang dikatakan Santo Yohanes kepada Santo Petrus, tentang mengenali Orang yang berbicara kepada mereka dari tepi pantai: "Itu adalah Tuhan!” (Yoh 21: 7).

"Bagaimana itu sebuah panggilan ilahi? Itu adalah pandangan baru dalam kehidupan kita, seperti ketika sebuah lampu tiba-tiba dinyalakan" (Santo Josemaría)

Dalam kasus apa pun, pada dasarnya kearifan ini merupakan sebuah jalan pribadi, sebagaimana juga keputusan akhirnya. Tuhan sendiri membiarkan kita bebas memutuskan. Bahkan setelah "pemicu." Karena itu, begitu langkah pertama telah diambil, mudah untuk keraguan-keraguan muncul kembali. Tuhan tidak pernah berhenti menemani kita, tetapi Dia tetap pada jarak tertentu. Sudah pasti bahwa Dia telah melakukan segalanya, dan akan terus melakukannya, tetapi sekarang Dia ingin kita mengambil langkah terakhir dengan kebebasan penuh, dengan kebebasan cinta. Dia tidak menginginkan budak, tetapi anak-anak. Dan karena itu Dia tetap pada jarak yang tersembunyi, tanpa memaksakan hati nurani kita, hampir bisa kita katakan sebagai seorang "pengamat." Dia mengawasi kita dan menunggu keputusan kita dengan sabar dan rendah hati.

***

“Engkau akan mengandung di dalam rahimmu dan melahirkan seorang anak laki-laki” (Luk 1:31). Di saat hening yang terjadi setelah pewartaan Malaikat Agung Gabriel, seluruh dunia tampaknya menahan nafas. Pesan Ilahi telah disampaikan. Selama bertahun-tahun suara Tuhan senantiasa berbicara dengan lembut di dalam hati Bunda kita. Tapi sekarang, Tuhan diam. Dan Dia menunggu. Segalanya tergantung pada tanggapan bebas dari gadis muda itu di Nazareth. “Dan Maria berkata, Lihatlah, aku adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu”(Luk 1:38). Bertahun-tahun kemudian, di kaki Salib, Maria akan menerima dari tangan Nikodemus jasad tubuh dari Anak-Nya. Betapa tergeraknya murid baru ini telah menyaksikan, di tengah kesedihan yang begitu besar, Bunda Yesus dengan penuh kasih menerima sekali lagi jalan Allah: “terjadilah padaku menurut perkataanmu.” Bagaimana mungkin seseorang tidak memberikan segalanya demi sebuah cinta yang luar biasa?

José Brage


[1] San Josemaría, Carta 6.V.1945, n. 42.

[2] Ibidem.

[3] J. Ratzinger, La sal de la tierra, Palabra, Madrid 1997, p. 36.

[4] San Josemaría, Notas de una reunión familiar, Crónica, 1974, vol. I, p. 529.

[5] En diálogo con el Señor, edición crítico-histórica, Rialp, Madrid 2017, p. 199.

[6] San Pablo VI, Homilía, 14-X-1968.

[7] San Josemaría, Notas de una reunión familiar, Crónica, 1972, p. 460.

[8] Benedicto XVI, Encuentro con los jóvenes en Sulmona, 4-VII-2010.

[9] S. Rubin y F. Ambrogetti, El Papa Francisco. Conversaciones con Jorge Bergoglio, Ediciones B, Barcelona, 2013, p. 48.

[10] Beato J.H. Newman, Apología pro vita sua, Ciudadela, Madrid 2010, p. 215.

[11] Carta 9-I-1932, citado en El Opus Dei en la Iglesia, Rialp, Madrid 1993, p. 148.

[12] F. Ocáriz, «Luz para ver, fuerza para querer», ABC, 18-IX-2018. Disponible aquí.

[13] Cfr. Catecismo de la Iglesia Católica, n. 2690.