Engkau sering kali mengalami bahwa watak orang lain bentrok dengan watakmu…Itu tidak mengherankan sebab engkau bukanlah mata uang yang disukai setiap orang. Lagi pula, tanpa gesekan-gesekan yang terjadi dalam pergaulan dengan sesama, bagaimana engkau akan dapat menghaluskan sudut-sudut dan tepi yang tajam—ketidaksempurnaan dan kelemahan—dari perangaimu, memupuk kelembutan dan keramahan, kesempurnaan dan cinta kasih yang tegas tapi sabar? Jikalau tabiatmu dan tabiat orang-orang di sekitarmu itu selalu lembut dan manis seperti kembang gula, engkau tidak akan menjadi orang suci.
(Buku Jalan, n. 20)